Sepakbola yang Masih Tidak Adil Kepada Perempuan

Berita

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Sepakbola yang Masih Tidak Adil Kepada Perempuan

International Women’s Day atau Hari Perempuan International diperingati setiap 8 Maret. Pada hari tersebut para perempuan di seluruh dunia merayakan prestasi mereka dan menceritakan kisah yang menginspirasi perempuan-perempuan lain. Tidak sampai disitu, International Women's Day secara umum juga digunakan untuk memperingati kontribusi  perempuan dalam seluruh aspek kehidupan.

FIFA dan FA sudah memberikan bentuk apresiasi terhadap International Women's Day. Sepakbola perempuan pun sudah berkembang pesat dibanding dua dekade ke belakang. Meskipun demikian, kenyataanya, olaharaga yang paling populer di muka bumi ini nyatanya masih belum bisa secara keseluruhan memberikan tempat kepada perempuan.

Sepakbola masih secara tradisional dilihat sebagai olah raga laki-laki sehingga sepakbola perempuan dianggap kelas dua. Peranan perempuan juga masih termarjinalkan dalam dunia sepakbola secara umum. Bahkan lebih parahnya lagi banyak perempuan yang mengalami pelecehan, baik secara verbal maupun seksual ketika bekerja di ruang lingkup sepakbola.

Profesor Sue Bridgewater dari Liverpool University melakukan sebuah survey terhadp 505 perempuan yang terlibat aktif di dunia sepakbola – baik sebagai pelatih, pemain, dan dokter tim – pada tahun 2014. Hasil survey menyatakan bahwa 25% dari perempuan-perempuan tersebut mengalami bullying ketika sedang bekerja. Sebanyak 7% di antaranya sempat mengalami pelecehan seksual.

Dalam dua tahun terakhir sudah terjadi kasus pelecehan terhadap perempuan dalam dunia sepakbola. Liga Primer Inggris menjadi yang paling menarik perhatian. Pada Mei 2014, Kepala Eksekutif Liga Primer, Richard Scudamore kedapatan mengirimkan email tidak pantas kepada asisten pribadinya, Rani Abraham.

Kasus lain terjadi pada pembukaan Liga Primer Inggris musim ini ketika mantan manajer Chelsea, Jose Mourinho, melakukan diskriminasi terhadap dokter tim Chelsea, Eva Carneiro. Mourinho menyatakan bahwa tim medis Chelsea sangatlah naif dan tidak mengerti sepakbola. Pernyataan tersebut mengacu kepada sosok Carniero yang merupakan seorang perempuan. Meskipun kemudian kasus ini masih diperdebatkan karena Mourinho berkilah ia sudah mengatakan sesuatu yang sesuai dengan fakta.

Hal-hal yang terjadi nyatanya tidak menyurutkan minat perempuan untuk berkiprah di dunia sepakbola. Karen Espelund, perempuan pertama yang menjad komite eksekutif UEFA dalam sejarah, menyatakan bahwa meskipun selalu ada hal negatif erkait posisi perempuan dalam dunia sepakbola, tetapi masih banyak hal yang bisa diperbaiki dan ditingkatkan.

"(Peran) Perempuan dalam dunia sepakbola memang mengalami beberapa kesulitan yang harus dihadapi," ujar Espelund kepada The Guardian. "Namun seiring berjalannya waktu segala sesuatunya lebih baik saat ini. Saat ini adalah tinggal bagaimana caranya membuat perempuan bisa memaksimalkan potensi mereka ketika berkerja di dunia sepakbola.”

Sebagai olahraga yang disebut-sebut sebagai bahasa perdamaian, sepakbola masih menyisakan ruang-ruang yang mesti dibenahi. Termasuk aspek perempuan yang terkandung di dalamnya.

Sumber : The Guardian, Vision Sports

Foto : The Telegraph

(pik)

Komentar