Kesebelasan Yunani Protes Ketidakpedulian Turki dan Uni Eropa terhadap Pengungsi

Berita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Kesebelasan Yunani Protes Ketidakpedulian Turki dan Uni Eropa terhadap Pengungsi

Permasalahan pengungsi yang tak tertangani dengan baik tengah menjadi salah satu problem internasional saat ini. Paling baru, Sabtu (30/1) waktu Yunani, kapal yang mengangkut sekitar 100 lebih pengungsi karam ketika melintasi Laut Aegean dalam perjalanan menuju Pulau Lesbos, Yunani dari Turki.

Associated Press melaporkan ada 75 orang yang berhasil diselamatkan dari kapal, dan 10 orang dari 37 yang sempat tenggalam ditemukan tewas, termasuk empat balita. Associated Press menambahkan bahwa sebagian besar dari pengungsi yang berada di kapal tersebut merupakan warga Suriah, dan lainnya berasal dari Afghanistan dan Myanmar. Turki sendiri menjadi salah satu daerah tujuan pengungsi sebelum pergi ke Eropa.

Selain mendapatkan ucapan belasungkawa dari lembaga kemanusiaan, tragedi ini pun menyentuh hati kesebelasan divisi dua Yunani, AEL Larissa. Dalam pertandingan menghadapi Acharnaikos di pekan ke-17 Liga Yunani, keduanya menunda dua menit pertandingan untuk menunjukkan rasa belasungkawa terhadap korban yang jatuh dalam tragedi tersebut.

Anda mungkin pernah melihat bentuk belasungkawa dalam mengheningkan cipta atau minute of silence. Namun, yang dilakukan Larissa dan Acharnaikos terbilang berbeda. Mereka memilih duduk berdiam diri selama dua menit sesaat setelah peluit kick-off dibunyikan. Bukan cuma pemain di atas lapangan saja yang melakukan ini, melainkan seluruh staf kepelatihan serta pemain cadangan yang berada di bench.

Dalam penyataan resmi klub, langkah ini dilakukan untuk menunjukkan rasa hormat atas ratusan pengungsi yang menjadi korban dalam tenggelamnya kapal yang mengangkut mereka. Mereka juga mengucapkan penyesalan atas konflik yang terjadi, yang membuat banyak pengungsi meninggalkan negaranya.

“Semua komponen AEL Larissa baik pemain maupun pelatih akan diam selama dua menit setelah pertandingan dimulai untuk mengingat ratusan orang yang kehilangan kesempatan untuk melanjutkan hidup di Laut Aegean karena ketidakpedulian Uni Eropa dan Turki,” ujar AEL Larissa dalam pengumumannya.

“Para pemain AEL akan protes dengan duduk untuk mendorong pemerintah memobilisasi semua orang yang peduli dengan kejahatan yang terjadi di Laut Aegean,” tambahnya.

Yunani sendiri menjadi negara Eropa yang menjadi gerbang bagi pengungsi menuju Eropa daratan. Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi, diperkirakan jumlah pengungsi yang telah masuk Yunani sejak 2016 adalah 52.055 pengungsi.

Sumber: Dallas News, The Guardian, NPR

Komentar