Ruben Loftus-Cheek dan Harapan Besar Produk Akademi Chelsea yang Membumbung Tinggi

Berita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Ruben Loftus-Cheek dan Harapan Besar Produk Akademi Chelsea yang Membumbung Tinggi

Jose Mourinho emosional pada laga terakhir pre-season Chelsea awal musim 2015/16 saat melawan Sydney FC. Ia mengkritik gaya bermain pemain bernomor 36 Chelsea, Ruben Loftus-Cheek, yang terkesan sangat indvidualis.

“Gaya bermain Ruben membuat kepercayaan saya padanya menurun. Pertandingan ini bukan pertandingan U18, yang mengharuskan dirinya bermain lebih baik ketimbang yang lain. Tetapi pertandingan ini merupakan senior, yang mana kemenangan tim harus harus lebih diutamakan,” ujarnya seusai laga kepada The Sunday Times.

Kritikan Mourinho pun tampaknya membuat Loftus-Cheek belajar. Pertandingan melawan Maccabi Tel Aviv menjadi pertandingan pertamanya turun sejak menit pertama pada musim ini. Kerja kerasnya berbuah kemenangan. Ia pun mencatatkan 93% umpan sukses dari 60 umpan yang dilepaskannya. Tak hanya itu, ia juga membuat enam dribble, tiga tekel, dan dua kali sukses merebut bola dari lawan.

Beberapa pujian pun dilontarkan atas permainan Loftus-Cheek pada laga itu. Salah satunya dari Tom Sheen, jurnalis sepakbola The Independent, “Penampilannya sanggup merusak lini tengah Maccabi. Meski bukan pemain yang jeli dalam melakukan aksi defensif, tapi ia cukup cepat dalam melakukan covering dan menjelajah lini pertahanan lawan. Dia tak mencetak gol dan membuat assist, tapi kalau boleh saya mengatakan, dia pemain terbaik pertandingan ini,” ujarnya.

Waktu pun berlalu. Loftus-Cheek memang sering masuk dalam daftar tujuh pemain cadangan Chelsea dalam beberapa laga terakhir Liga Primer, namun hanya empat kali ia dimainkan sebagai pengganti. Dua di antaranya masuk jelang pertandingan berakhir.

Tapi Loftus-Cheek dengan sabar menunggu setiap kesempatan bermainnya dari bangku cadangan. Hingga akhirnya waktu di mana Chelsea melawan Scunthorpe (10/1) pada putaran ketiga Piala FA 2015/16 tiba. Guus Hiddink memberikan kesempatan bermain padanya dengan durasi yang cukup lama meski sebagai pemain pengganti.

Loftus-Cheek baru masuk pada menit 46 menggantikan Oscar. Tapi kemudian ia berhasil memanfaatkan umpan silang Cesar Azpilicueta untuk mencetak gol senior pertamanya. Tendangan kaki kirinya tak mampu dijangkau kiper Scunthorpe, Luke Daniels. Ia pun berhasil menjadi pemain akademi Chelsea setelah John Terry yang mencetak gol di tim utama sejak era Roman Abramovich.

Gol yang dibuat Loftus-Cheek pun menegaskan bahwa pemain muda Chelsea masih memiliki harapan untuk bermain di tim utama dan berkontribusi terhadap The Blues. Tentu saja selama sang pemain memiliki kemampuan untuk bisa bersaing di tim utama dan selalu sabar menunggu kesempatan bermain.

Jadi Bukti Kualitas Akademi Chelsea

Tak seperti John Terry yang pada awalnya berlatih di tim junior West Ham hingga usia 14 tahun, Loftus-Cheek merupakan pemain asli didikan Chelsea. Bergabung sejak usia delapan tahun, ia butuh 11 tahun untuk mencatatkan namanya di tim utama Chelsea.

Karier usia muda Loftus-Cheek terbilang cukup apik. Ia sempat memberikan gelar dua gelar FA Youth Cup dan sekali juara British U21 Premier League. Tak hanya itu, bersama Isaiah Brown, Andreas Christensen, Jay Dasilva, dan Charly Musonda, ia sukses membuat Chelsea menjuarai UEFA Youth League, ajang yang mempertemukan tim U19 yang berlaga di Champions League.

Sementara itu bagi tim nasional Inggris, Loftus-Cheek sudah mendapatkan panggilan untuk bermain di level U16 pada 2011. Ia pun sempat bermain bersama tim nasional U21 Inggris pada turnamen UEFA U21 di Ceko tahun lalu. Meski demikian, ia gagal membawa Inggris U21 setelah kala bersaing dengan Portugal, Swedia, dan Italia di fase grup.

Hiddink Memberi Garansi Lebih 

Dibandingkan rekan-rekannya saat membawa Chelsea menjuarai UEFA Youth League 2014/15, Loftus-Cheek termasuk yang diinginkan keberadaannya di tim utama bersama Ola Aina. Dan Hiddink yang baru ditunjuk per 19 Desember tahun lalu, setuju dengan keputusan pendahulunya, Jose Mourinho, yang memilih tidak meminjamkan Loftus-Cheek.

“Saat saya pertama kali melihat kemampuannya (Loftus-Cheek), saya kira ia berusia 22 atau 23 sebab kemampuannya tak seperti anak usia 19. Melihat hal tersebut, saya tak ragu untuk memainkannya,” ujar Hiddink kepada ESPNFC.

“Dia dapat menjadi bintang bagi kita di masa depan sebab dia masih berusia 19 tahun. Melihat peluang kami yang sulit untuk menembus empat besar, rasanya saya akan berikan dia banyak kesempatan bermain,” tambah eks pelatih timnas Belanda ini.

Melihat pernyataan Hiddink, rasanya kesempatan bermain Loftus-Cheek mungkin akan lebih besar. Pasalnya Chelsea kini tengah berjuang di tiga kompetisi yakni, Liga Primer, Piala FA, dan Liga Champions. Jika ia mampu menjawab kepercayaan Hiddink, mungkin ia akan menjadi pemain akademi Chelsea berikutnya yang bermain secara reguler setelah John Terry.

Sumber: Daily Star, Daily Mail, The Sunday, Times, ESPNFC

Komentar