Kekecewaan Klopp yang Ditahan Imbang Exeter City

Berita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Kekecewaan Klopp yang Ditahan Imbang Exeter City

Juergen Klopp terkenal dengan determinasinya yang tinggi. Tak heran, ia dapat meluapkan kegembiraan dan mengeluarkan kemarahannya di waktu yang hampir bersamaan. Luapan tersebut pun terjadi tadi malam (8/1), kala Liverpool berkunjung ke St. James Park, kandang Exeter City FC, untuk melakoni pertandingan putaran ketiga FA Cup 2015/2016.

Klopp sendiri geram karena anak asuhnya hanya bermain imbang 2-2 melawan kesebelasan Football League Two, kompetisi tingkat keempat dalam struktur sepakbola Inggris. Ia pun mengungkapkan bahwa anak asuhnya tak bermain seperti yang dia inginkan, meskipun ia merasa bersalah karena memainkan terlalu banyak pemain muda dalam laga yang penuh tekanan.

“Saya bertanggungjawab atas semua kesalahan yang dilakukan tim. Saya memilih banyak pemain muda dan berkata ‘ayo bermain dan bantu tim untuk menang’ kepada mereka yang seharusnya tak saya lakukan,” ujarnya kepada Mirror. Meskipun demikian, ia tetap merasa kecewa karena timnya harus melakoni pertandingan replay.

“Saya tak percaya kami harus melakoni pertandingan replay. Tentu ini menambah berat perjalanan kami, dimana kami harus melakoni Arsenal dan United, sebelum menghadapi Exeter. Banyaknya pemain cedera membuat kami harus pintar melakukan rotasi, sebab kami tak ingin kehilangan pemain lagi di laga-laga tersebut,” jelas Klopp.

Klopp pun menuding bahwa status tuan rumah Exeter menjadi keuntungan. Pasalnya kondisi lapangan buruk menjadikan keuntungan bagi Exeter. “Kondisi lapangan menjadi keuntungan bagi Exeter. Saat babak pertama saya mungkin berkata lapangan baik-baik saja. Namun, kala melihat babak kedua, saya merasa lapangan tak baik bagi pemain muda,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa peluang timnya kini tak lagi 100%, namun menjadi 50%. Ia pun meminta anak asuhnya bermain lebih baik di laga replay. “Kita memiliki banyak peluang tapi tak cukup banyak mencetak gol. Jadi kita harus bersyukur atas apa yang kita peroleh sekarang. Hal ini pun membuat jelas apa yang harus dilakukan kedepannya,” ungkap eks pelatih Borussia Dortmund ini.

Pada pertandingan ini, Liverpool hanya memainkan dua pemain berpengalaman, yakni Christian Benteke dan Jose Enrique. Melihat Liverpool hanya menurunkan pemain muda, pelatih Exeter City, Paul Tisdale memberanikan diri untuk tak bermain terlalu bertahan. Hasilnya, pada menit kesembilan, Exeter sukses mencetak gol lewat serangan yang dibangun dari sisi kiri pertahanan Liverpool, lewat Tom Nicholls.

Namun, tak lama setelah gol Nicholls, Jerome Sinclair mampu mencetak gol memanfaatkan bola lepas dari Benteke. Menjelang babak kedua pertama berakhir, Exeter kembali mencetak gol, kali ini berkat kegagalan Adam Bogdan menepis sepak pojok Lee Holmes.

Liverpool beruntung memiliki Brad Smith, kemelut yang terjadi di depan gawang Leicester pada menit ke-73, berhasil dimanfaatkan bek kiri asal Australia ini untuk membuat skor berubah menjadi 2-2. Hasil ini pun memaksa Liverpool dan Exeter City melakoni replay di Anfield pada 19 Januari 2016.

Sumber : BBC, The Guardian, Mirror, Liverpool Echo

Komentar