Menuju Kesempurnaan Lini Depan Juventus

Berita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Menuju Kesempurnaan Lini Depan Juventus

Di awal musim 2015-2016, Juventus digadang-gadang akan kembali menjadi calon juara Serie A. Bukan tanpa alasan memang, sejumlah rekrutan yang identik dengan Juventus “membajak dari kompetitor” dilakukan. Diantaranya adalah membeli Paulo Dybala dari Palermo dengan biaya 32 juta euro, Simone Zaza dari Sassuolo dengan mahar 18 juta euro, dan Hernanes dari Inter dengan 11,5 juta euro. Belum lagi biaya yang mereka keluarkan untuk Mario Mandzukic dan Alex Sandro yang didatangkan dari Atletico Madrid dan FC Porto.

Kedatangan lima pemain, yang tiga di antaranya adalah striker ibarat dua sisi mata uang bagi Massimiliano Allegri. Meski semakin kuat namun mereka tetap butuh adaptasi agar mampu nyetel dengan gaya permainan Juventus.

Dua laga pertama ibarat menjadi mimpi buruk bagi Juventus, kekalahan dari Udinese 0-1 dan Roma 2-1 membuat tugas Allegri berat. Bahkan, hingga pekan ke 10, Juventus hanya mampu memetik tiga kali kemenangan, tiga kali imbang, dan empat kali kekalahan sepanjang Serie A. Tapi berbeda dengan di Serie A, di Liga Champions Juventus mampu menang melawan Manchester City dan Sevilla sebelum bermain imbang melawan Monchengladbach.

Namun kini, semua hasil inkonsisten tersebut hanya masa lalu. Allegri pun merasa skuatnya sudah kembali ke jalur perebutan gelar. Keyakinan Allegri tersebut bukan tanpa alasan, sebab salah satu faktor yang menyebabkan Juventus selalu kesulitan mendulang poin penuh, belum padunya lini depan kini teratasi.

Kunci perubahan tersebut adalah semakin padunya Dybala-Mandzukic. Tanpa menyingkirkan Zaza dan Morata, keduanya memang lebih padu jika dibandingkan Zaza dan Morata atau kombinasi penyerang Juventus lainnya. Dybala begitu nyaman memerankan second striker.

Kenangan masa lalu terhadap Carlos Tevez pun mulai hilang karena penampilan Paulo Dybala. Digadang-gadang menjadi calon striker besar Argentina, Dybala mulai menunjukkan konsistensinya. Di awal musim, ia tampil kurang baik saat diduetkan dengan Alvaro Morata. Namun, kini ia menjadi tumpuan Juventus untuk mencetak gol bersama dengan Mandzukic yang selain memiliki tugas utama mencetak gol, ia pun harus bisa menjadi pemantul atau tembok di lini depan.

Paulo Dybala pun menjadi nama utama yang menjadi aktor kebangkitan Juventus. Penyerang asal Argentina yang pada awal musim ditugaskan untuk memberikan servis kepada Mandzukic, kini mulai diberi peran lebih, mencetak gol. Selain itu, ia juga diberi kewajiban untuk mengobrak-abrik lini pertahanan lawan. Dybala pun kini menjadi top skorer Juventus dengan enam gol.

Tak hanya Dybala saja, performa Zaza dan Mandzukic juga tengah menanjak. Keduanya bahkan sama-sama mencetak gol saat Juventus mengalahkan Palermo.

Maka bayangkan jika kran gol Alvaro Morata mulai mengalir. Rasanya tinggal menunggu waktu Juve memiliki lini depan yang akan ditakuti setiap lawannya, siapapun yang mereka pasang di lini depan.

Komentar