Aksi Teror di Tengah Pertandingan Prancis vs Jerman

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Aksi Teror di Tengah Pertandingan Prancis vs Jerman

Pukul sembilan pada Jumat (13/11) pagi waktu Prancis, seluruh skuat Jerman dievakuasi dari hotel tempat mereka menginap. Sebuah ancaman ledakan bom membuat mereka harus mengungsi ke tempat lain.

“Ini mengejutkan, tetapi semua ditangani dengan baik, dengan sangat tenang,” tutur manajer tim nasional Jerman, Oliver Bierhoff, “Kami tidak ingin menduga-duga jadi setelah berkonsultasi dengan keamanan Prancis, kami meninggalkan hotel.”

Setelah dilakukan pemeriksaan, tim nasional Jerman pun mendapatkan lampu hijau untuk kembali ke hotel. Bierhoff pun menganggapi santai usai ancaman tersebut, “Hal seperti ini bisa terjadi di negara manapun. Semua pemain merasa lega.”

Selama diungsikan, para pemain dan staf mendatangi Stadion Tenis Roland Garros karena tengah dilangsukan pertandingan French Open. Bierhoff pun menegaskan bahwa ancaman bom tersebut tidak membuat mereka ingin segera meninggalkan Prancis dan membatalkan pertandingan.

Bukan Sekadar Ancaman

Pertandingan awalnya berlangsung normal. Namun, memasuki menit ke-20 terdengar ledakan yang begitu keras dan tertangkap oleh mikrofon televisi. Ledakan keras tersebut membuat para penonton sempat bersorak. Pembawa acara percaya kalau suara tersebut berasal dari petasan yang diledakkan di luar stadion.

Entah terpengaruh atau tidak, yang jelas Prancis berhasil menang 2-0 atas Jerman. Anthony Martial dan Blaise Matuidi memberi assist untuk gol yang dicetak Olivier Giroud dan Andre-Pierre Gignac. Di sisi lain, meskipun unggul dalam penguasaan bola, tapi Jerman tak lebih agresif dari Prancis . Mereka cuma melepaskan delapan attemps berbanding 10 attempts yang dilakukan Paul Pogba dan kolega.

Usai pertandingan, para pemain Jerman diminta segera memasuki ruang ganti. Pelatih Jerman, Joachim Loew, menyatakan bahwa ia dan para pemainnya merasa ketakutan.

“Kami semua terguncang,” tutur Loew dikutip dari Daily Mail, “Kami diberi tahu di ruang ganti apa yang terjadi. Kami semua ketakutan karena sebelumnya ada ancaman bom yang membuat kami tertahan di luar hotel selama tiga jam.”

Presiden Federasi Sepakbola Prancis , Noel Le Graet, menyatakan bahwa terjadi ledakan di pintu J Stade de Franc yang membuat tiga orang meninggal dunia dan beberapa lainnya terluka. “Namun pada saat ini stadion sudah aman. Orang-orang bisa keluar dari stadion secara normal,” tutur Le Graet.

Presiden Prancis, Francois Hollande, pergi lebih cepat untuk memonitor keadaan dan bergabung bersama menteri dalam negeri. Usai pertandingan helikopter pun terbang di sekitar Stade de France. Para penonton diarahkan memasuki lapangan dan menunggu segala sesuatunya hingga terkendali.

Ledakan di Stade de France tersebut merupakan rangkaian teror yang terjadi di Paris pada Jumat (13/11) malam. Selain ledakan, para teroris pun menembaki para pengunjung restoran di Rue Bichat. Mereka kemudian menyandera para penonton yang memenuhi gedung konser Paris Bataclan. Belum dikonfirmasi siapa yang bertanggung jawab atas kekacauan ini.

Dunia berduka atas tragedi yang terjadi di Paris. Menurut saksi mata, para pelaku masih berusia muda. Mereka bahkan tidak meneriakkan atau meminta tuntutan tertentu. Apa yang mereka lakukan, dengan menebar teror dan menghabisi nyawa manusia, adalah perilaku keji yang sulit dimaafkan.

Apa yang terjadi di Paris semestinya bisa membuka mata dunia kalau kekerasan dan penghilangan nyawa manusia ada di mana-mana; dari Paris, Nigeria, sampai Palestina. Tinggal kita yang memutuskan, mau peduli atau tidak.

Baca juga: Tentang Eto'o dan Kekerasan Boko Haram di Nigeria



foto: dailymail.co.uk

Komentar