Menutup Mulut Pengkritik Mental Liverpool

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Menutup Mulut Pengkritik Mental Liverpool

Kemenangan atas Chelsea menjadi titik tolak yang tepat buat Liverpool. Ini merupakan kemenangan pertama Liverpool di bawah asuhan Juergen Klopp di Premier League. Kemenangan ini juga dilakukan di kandang lawan. Hal paling penting, kemenangan ini menunjukkan mentalitas permainan The Reds.

Mengapa penting buat mental? Karena Liverpool melakukannya di saat mereka sempat tertinggal. Liverpool tertinggal terlebih dahulu lewat gol Ramires pada menit keempat. Chelsea hampir mengunci babak pertama untuk keunggulan mereka sebelum Philippe Coutinho mencetak gol pada menit ke-45.

Gol tersebut memberi asa buat para penggawa Liverpool yang kerap kesulitan menembus ketatnya lini pertahanan Chelsea. Coutinho pun menambah gol pada menit ke-74 lewat tendangan yang mirip dengan golnya yang pertama. Setelah dua gol itu, Liverpool bermain lebih rileks bahkan bisa menambah skor setelah Christian Benteke mengonversi umpan Jordon Ibe.

Setelah gol tersebut Klopp berlari dan meluapkan segala rasa bahagia dan keresahannya. Ya, Liverpool akhirnya bisa mencetak gol dan membalikkan keadaan dari awalnya tertinggal kini gantian menjagal.

Kemenangan tersebut memupus awan gelap di tubuh Liverpool soal mentalitas yang didengung-dengungkan oleh banyak pengamat. Bek FC Sion pun berani-beraninya mengkritik soal mentalitas Liverpool--yang berarti masalah tersebut memang benar adanya. Namun, yang paling menyakitkan saat awal musim ini ada seorang pria yang mengomentari tentang buruknya mentalitas Coutinho dan kolega. Kala itu, Liverpool kalah 0-3 di Stadion Anfield. Hal paling menyakitkan adalah ia cuma berkomentar tapi tak berusaha untuk mengubahnya.

“Gol pertama begitu mudah dan kami memberi mereka motivasi. Gol kedua adalah kesalahan yang bisa terjadi. Mereka tak bertahan dengan baik. Mereka harusnya bisa lebih baik. Saya kecewa dan kami harap kami bisa menang lain waktu,” kata orang tersebut.

Pria tersebut menyatakan kalau Liverpool begitu buruk dalam organisasi permainan saat kehilangan bola. “Saat mereka kebobolan, mereka tak bisa bangkit kembali. Kebanyakan itu adalah kesalahan sendiri. Kami memberi lawan gol dan itu adalah kekecewaan terbesar,” kata pria tersebut.

Mentalitas tersebut tengah diperbaiki oleh Klopp. Manajer asal Jerman tersebut justru membela anak asuhnya. "Menurutku itu bukan mentalitas yang negatif. Pertama, Anda harus mengetahui kalau itu bukanlah sebuah penyakit dan Anda bisa mengubah segalanya," tutur Klopp.

Perlahan tapi pasti ia mulai mengubah pendekatan bermain Liverpool. Klopp pun semakin jelas meminta para pemainnya untuk menambal segala kelemahan yang mereka lakukan. Kemenangan atas Chelsea sekaligus menutup mulut pria itu yang tak lain adalah Brendan Rodgers.

Baca juga Chelsea 1 vs 3 Liverpool: Pesta Pemain Brasil yang Tak Biasa

foto: mirror.co.uk

Komentar