Inggris dan Bayang-bayang Pengulangan Kegagalan di Piala Dunia dan Piala Eropa

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Inggris dan Bayang-bayang Pengulangan Kegagalan di Piala Dunia dan Piala Eropa

Inggris sudah memenangi sembilan pertandingan dari total 10 laga yang mesti mereka lakoni di babak kualifikasi Piala Eropa 2016. Pelatih Inggris, Roy Hodgson, menjadikan partai terakhir melawan Lithuania sebagai ajang unjuk gigi para pemain yang belum menunjukkan performa sesuai keinginannya.

Hal tersebut terbukti dengan susunan pemain, yang Anda pun mungkin tak akan percaya bahwa mereka adalah para pemain terbaik yang dimiliki Inggris. Hodgson menurunkan Jack Butland, Kyle Walker, Phil Jones, Phil Jagielka, Kieran Gibbs, Alex Oxlade-Chamberlain, Adam Lallana, Ross Barkley, Jamie Vardy, dan Harry Kane. Meskipun demikian, Inggris tetap menang 3-0 lewat gol Barkley, Chamberlain, dan gol bunuh diri kiper Lithuania, Giedrius Arlauskis.

Hodgson pun menurunkan Danny Ings, Andros Townsend, dan Dele Alli sebagai pemain pengganti. Masuknya tiga pemain pengganti tersebut justru membikin pusing Hodgson untuk memutuskan memboyong pemain mana saja yang dibawa ke Perancis tahun depan.

Dikutip dari situs UEFA, Inggris menjadi kesebelasan negara kelima sepanjang sejarah yang mencatatkan rekor 100 persen kemenangan pada babak kualifikasi Piala Eropa. Sebelumnya, Perancis pernah melakukannya sebanyak dua kali, diikuti Republik Ceko, Jerman, dan Spanyol.

Hodgson sendiri menyatakan bahwa rekor tersebut tidak mengejutkannya. Ini pula yang membuatnya percaya diri untuk meliburkan para pemain intinya ketimbang memberi tempat di tim utama saat menghadapi Lithuania.

Dikutip dari The Guardian, Hodgson mengklaim bahwa ia percaya Kesebelasan Negara Inggris mampu memulihkan diri usai buruknya penampilan mereka di Piala Dunia. “Jika kami bermain baik dan fokus, serta terus berusaha untuk menjadi yang terbaik, saya percaya kami bisa tak terkalahkan,” tutur Hodgson.

Kemenangan tersebut menumbuhkan kepercayaan Hodgson terhadap Barkley yang berperan penting dalam kemenangan Inggris atas Lithuania maupun Estonia. Barkley bisa saja mengisi pos gelandang bersama James Millner dan Adam Lallana di Piala Eropa tahun depan.

Ujian bagi penggawa Inggris sejatinya masih belum berakhir. Mereka masih harus menghadapi lawan kuat dalam pertandingan persahabatan internasional pekan depan. Spanyol dan Perancis akan menjadi dua lawan pertama mereka untuk pembuktian kualitas.

“Kami akan memaknai pertandingan tersebut untuk mengetahui posisi kami,” ujar Hodgson, “Jika kami konsentrasi dan bermain dengan benar, kami bisa melakukannya. Adalah sebuah kejutan jika kami gagal. Namun, pertandingan persahabatan nanti akan menghadapi lawan yang lebih baik dan lebih kuat. Kami akan melihat bagaimana cara kami mengatasinya.”

Mengenang Piala Dunia 2014

“Aku percaya tim ini bisa tak terkalahkan,” kata Hodgson dikutip dari The Guardian, “Saya tidak sedang mengubah persepsi tentang Piala Dunia karena kami tidak memenangi grup dan kalah di dua pertandingan. Sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata bagaimana kecewanya kami setelah bekerja keras dan mempersiapkan untuk final tapi kalah dalam dua pertandingan awal. Aku masih tak bisa menjabarkan perasaanku.”

Hodgson mau tak mau kembali mengenang perjalanan Inggris di Piala Dunia 2014 silam. Kala itu, Inggris pun mencatatkan prestasi gemilang dengan tak terkalahkan pada babak kualifikasi. Inggris tergabung dalam grup H bersama Ukraina, Montenegro, Polandia, Moldova, dan San Marino. Kesuksesan tersebut justru memberikan tekanan yang besar bagi para pemain untuk bisa berprestasi di Piala Dunia.

Nyatanya, Inggris bernasib tragis. The Three Lions yang menempati Grup D, terpuruk di dasar klasemen. Mereka kalah bersaing dari Uruguay, Kosta Rika, dan Italia. Inggris hanya mencatatkan satu poin hasil imbang 0-0 atas Kosta Rika.

Dengan pengalaman tersebut, Hodgson enggan mengulanginya lagi. Apalagi ia diingatkan akan nasib tim Inggris U-21 yang bernasib sama di Piala Eropa U-21 yang dihelat pertengahan tahun ini.

“Aku pikir, itu bisa menjadi pengalaman yang membantu kami di masa depan karena kami enggan itu terjadi lagi. Menargetkan tak terkalahkan adalah cita-cita besar—mungkin terlalu besar—tapi ada satu hal dalam diri saya yang mengatakan kami memiliki pemain bagus di sini, dan kami tidak sekadar tergantung hanya pada 11 pemain,” tutur Hodgson.

Ya, Inggris memang seharusnya bangga memenangi 10 pertandingan dari 10 pertandingan terakhir. Beruntung Hodgson sepaham dengan pemikiran Pelatih Jerman, Joachim Loew, yang merasa bahwa babak kualifikasi tidak menunjukkan kekuatan lawan yang sesungguhnya. Di Piala Eropa, mereka hanya akan bertanding dengan kesebelasan-kesebelasan terbaik. Karena untuk apa berjaya di babak kualifikasi, tapi terpuruk di babak utama, seperti yang terjadi pada mereka di Piala Dunia 2014 dan Inggris U-21 di Piala Eropa.

foto: telegraph.co.uk

Komentar