Meski Lolos, Jerman Masih Tak Nyaman

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Meski Lolos, Jerman Masih Tak Nyaman

Kesebelasan Negara Jerman dipastikan lolos ke Piala Eropa 2016 dengan memuncaki Grup D babak kualifikasi. Hampir tidak ada rintangan yang kelewat terjal dalam menghalangi perjalanan Jerman menuju Piala Eropa. Namun, Pelatih Jerman, Joachim Loew, masih kurang percaya diri.

“Kami menjadi pemuncak grup dan senang dengan hal itu, tapi saya tak senang dengan dua pertandingan terakhir,” kata Loew dari dua pertandingan terakhir, “Kami seperti petinju saat ini. Kami mendaratkan banyak pukulan, tapi tak membuat lawan KO.”

Pernyataan Loew memang terkesan merendah. Namun, jika melihat capaian Jerman sepanjang babak kualifikasi, agaknya wajar jika Loew berkata demikian. Jerman menjuarai grup dengan catatan tujuh kemenangan, sekali seri, dan dua kali kalah.

Persaingan di Grup D memang terbilang sengit. Jerman mesti bersaing dengan Polandia, Republik Irlandia, dan Skotlandia. Lalu ada Gibraltar dan Georgia sebagai penggembira. Dua kekalahan Jerman didapatkan saat bertandang ke kandang Polandia dan Irlandia.

Kecuali saat membantai Gibraltar, kemenangan Jerman umumnya hanya berselisih gol tipis. Menang 2-1 dan 3-2 atas Skotlandia, 2-1 dan 2-0 atas Georgia serta 3-1 atas Polandia. Meski berstatus sebagai juara dunia yang pernah membantai Brasil 7-1, tapi Jerman masih dibayangi tumpulnya lini depan. Dari 10 pertandingan di babak kualifikasi, Jerman mencetak 24 gol; bandingkan dengan Polandia di peringkat kedua yang mencetak 33 gol, misalnya.

“Perlu usaha keras untuk kembali ke puncak penampilan di Piala Dunia, tapi masih ada jalan panjang bagi kami sampai Piala Eropa bergulir, dan kami tahu masa persiapan yang panjang tersebut bisa kami gunakan dengan baik,” ucap Loew.

Secara taktik, Loew menyadari bahwa ia perlu mengubah beberapa hal. “Secara gaya bermain masih akan tetap sama, tapi ada sejumlah detail yang perlu disesuaikan,” kata Loew.

Apa yang dimaksud Loew adalah kebiasaan para pemain yang sering mengirimkan bola panjang ke kotak penalti. Padahal, gaya Jerman di tangannya bukanlahlah seperti itu. Ini yang membuat Loew lebih fokus pada persiapan kombinasi mencetak gol di depan gawang lawan. “Di Prancis kami akan bertemu dengan kesebelasan yang menyerang kami, bukan kesebelasan yang bermain bertahan seperti yang kami temui beberapa pertandingan terakhir,” kata Loew.

Loew memang pantas khawatir. Meski menang atas Georgia yang merupakan kesebelasan terlemah kedua di grup, tapi Georgia mampu beberapa kali mengancam gawang Jerman. Dikutip dari situs UEFA, Georgia mampu melepaskan delapan tembakan—meski tak sebanding dengan 31 tembakan yang dilepaskan Jerman.

“Saya pikir tidak ada lawan lain yang membuat lebih banyak peluang saat menghadapi Jerman,” tutur Pelatih Georgia, Kakhaber Tskhadadze dikutip ESPNFC.

Selepas babak kualifikasi Piala Eropa, Loew masih memiliki waktu tujuh bulan untuk memantapkan skuat. Hingga Maret tahun depan, Jerman setidaknya sudah menyiapkan empat pertandingan persahabatan menghadapi kesebelasan negara top Eropa seperti Perancis dan Belanda pada November, serta Inggris dan Italia pada Maret. Hasil dari empat pertandingan tersebut setidaknya bisa menjadi barometer kekuatan Jerman sebelum bertanding di kompetisi sesungguhnya: Piala Eropa.

Baca juga: Perbedaan Sepakbola di Jerman Barat dan Jerman Timur

foto: bayerncentral.com

Komentar