Nolito yang Mematikan dan Barcelona yang Kedodoran

Berita

by Zakky BM

Zakky BM

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Nolito yang Mematikan dan Barcelona yang Kedodoran

Bukan barang baru jika Celta Vigo mampu merepotkan Barcelona. Malahan di musim lalu, Celta Vigo mampu menaklukkan Barcelona di Camp Nou dengan skor 1-0 lewat gol Joaquin Larrivey hasil kerjasama brillian dengan manuel Agudo Duran, atau lebih akrab disapa Nolito. Kali ini memang Larrivey tak lagi banyak meneror Barcelona, melainkan Nolito-lah yang justru masih konsisten meneror pertahanan Barcelona.

“Jika dalam hari terbaiknya, Nolito sangatlah sulit untuk dihentikan,” ungkap Luis Enrique yang pernah melatih Nolito di Barcelona B dan Celta Vigo.

Luis Enrique sebetulnya tahu betul potensi mantan anak asuhnya tersebut. Namun, kebobolan empat gol yang berasal dari satu gol Nolito dan satu asistnya kepada Iago Aspas mengindikasikan kegagalan sang manajer membendung Nolito. Ia, bersama Iago Aspas dan Fabian Orellana, menjadi mimpi buruk pertahanan Barcelona.

Nolito memang sudah pernah menjadi andalan Luis Enrique, baik saat di Barcelona B ataupun saat mengasuh Celta Vigo pada musim 2013-14. Penampilannya terus menanjak meski kini umurnya terus bertambah. Dengan kata lain, di umurnya yang sudah 28 tahun, ia seharusnya sudah mencicipi bermain untuk kesebelasan yang lebih gemerlap dari Celta Vigo.

Bahkan sempat ada rumor Nolito akan kembali ke ibukota Katalunya pada awal musim sebagai pengganti Pedro yang hijrah ke Chelsea. Namun, Nolito memilih santai dan tetap bertahan di Celta Vigo. Bahkan, bisa dibilang, sejauh ini ia ikut andil mengubah Celta Vigo menjadi kesebelasan yang lebih diperhitungkan.

Nolito yang sejatinya bermain di sisi kiri penyerangan Celta Vigo sepanjang pertandingan melawan Barcelona, tak canggung untuk bergerak liar baik masuk ke kotak penalti lawan ataupun turun jauh membantu pertahanan. Dalam urusan cetak-mencetak gol atau assits, hal tersebut bukanlah barang baru bagi Nolito.

Nolito memulai musim ini dengan baik. Atau bahkan sangat baik. Dengan raihan lima gol serta tiga asist, Nolito menjadi pencetak gol terbanyak bersama Cristiano Ronaldo dan pencetak asist terbanyak bersama Gareth Bale.

Sistem bermain yang dibangun Eduardo Berizzo, pelatih Celta Vigo sekarang, memang menuntut banyak upaya yang membutuhkan stamina dan konsentrasi tinggi. Celta menerapkan pressing tinggi dari trisula mereka yang dihuni Aspas, Nolito dan Orellana. Mereka seperti berlari tanpa henti, tanpa lelah. Total ada dua puluh lima bola hilang yang bisa kembali mereka rebut. Bahkan gol pertama Aspas adalah buah dari tekanan yang dilakukan lini serang Celta terhadap Gerard Pique.

Konsistensi dalam menggangu pergerakan Barcelona yang sudah canggung sedari menit pertama tersebut menjadikan Celta terlihat bermain baik dengan atau tanpa bola sekalipun. Sirkulasi bola yang cepat dari pemain Celta membuka borok di pertahanan Barcelona dengan seluas-luasnya, sedalam-dalamnya. Padahal, hari itu Barcelona hanya melakukan rotasi minor dengan menempatkan Sergi Roberto sebagai pemain tengah (lagi) dan mengistirahatkan Ivan Rakitic di bangku cadangan serta menempatkan Mathieu sebagai bek kiri menggantikan Jordi Alba yang cedera.

Babak pertama, Celta Vigo masih konsisten melakukan dominasinya. di babak kedua mereka memang bermain sedikit menunggu. Namun itu pun sudah cukup untuk meluluhlantakkan Barcelona. Gol kedua Aspas yang menjadi gol ketiga Celta Vigo malam itu lahir dari skema serangan balik yang dengan telak menghancurkan Barcelona.

Malam itu sangatlah jelas bahwa Celta membuat Barcelona terlihat bermain sangat amat buruk. Celta membuat Barcelona seperti tim yang baru dibentuk dua hari sebelumnya dengan mendatangkan pemain bagus tetapi tidak tahu apa yang ingin dan harus dilakukan di lapangan. Anda tentu saja boleh saja tak setuju.

Bahkan Jurnalis AS, salah satu media massa di Spanyol, Santi Gimenez, memberikan analogi yang telak untuk pertandingan kemarin: “Barcelona seperti bayi rusa yang ada di tengah jalanan tol. Mereka melihat jalan keluar, namun lumpuh karena ketakukan mereka. Alih-alih rusa-rusa tersebut berlari menjauh, mereka malah berdiri di sana dan akhirnya terlindas truk yang melintas”

Barcelona yang Terlalu Banyak Membuat Kesalahan?

Barcelona, bagaimanapun, baru menjalani sembilan partai resmi mereka musim ini. Tiga di antaranya adalah partai Piala Super Eropa dan dua leg Piala Super Spanyol. Ironisnya, dari sembilan partai tersebut, Barcelona sudah tiga kali kebobolan dengan empat gol dalam satu pertandingan. Pahit bagi penggemar Barcelona, namun demikian faktanya: kebobolan empat gol dalam satu pertandingan kini telah menjadi pengalaman yang (agak) rutin bagi Luis Enrique.

Ini merupakan rekor terbaru mengingat dua musim ke belakang, Barcelona tak pernah menderita kebobolan empat gol hanya dalam satu laga. Sebelum musim ini, Barcelona kebobolan empat gol saat dihajar Bayern Munich di Allianz Arena di semifinal liga Champions 2012-13. Pada musim 2012, mereka juga sempat kebobolan empat gol oleh  Deportivo La Coruna, namun kala itu mereka berhasil menang karena mencetak lima gol.

Bahkan sebagai catatan, sembilan pertandingan di musim lalu, Barcelona belum kebobolan sama sekali. Kini sudah enam belas gol yang bersarang di gawang Blaugrana. Tudingan miring terhadap kemampuan Marc Andre Ter Stegen kini mulai dilancarkan. Padahal, kiper muda asal jerman ini baru saja menyabet gelar Best Save of The Year di perhelatan liga Champions Eropa musim lalu saat menghadapi Bayern Munchen di partai semifinal.

Tak adil jika kesalahan hanya ditimpakan pada seorang kiper saja. Khususnya saat laga melawan Celta, bek Barcelona benar-benar bermain buruk. Gerard Pique yang baru bermain sekembalinya dari larangan pertandingan menjadi salah satu titik lemah. Ia sepertinya belum menemukan bentuk permainannya yang ideal. Padahal, duetnya bersama Javier Mascherano di lini belakang menjadi andalan Luis Enrique musim lalu.

Lini tengah juga tak luput dari tekanan. Namun, sistem bermain Barcelona yang biasanya menggelar pressing sejak lini depan harus dibayar mahal ketika intensitas salah satu pemain depannya menurun. Kombinasi turunnya intensitas dan efektifitas dalam mencetak gol menghadirkan masalah  baru yang berbuntut panjang bagi kompaksi sistem bertahan Barcelona di awal-awal musim ini.

 

Komentar