Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Robert Lewandowski memberi standar yang kelewat tinggi buat penyerang masa kini. Lima gol dalam waktu kurang dari 10 menit bukan hanya hal yang luar biasa, melainkan hal yang hampir mustahil untuk dilakukan penyerang manapun. Dengan perubahan gaya bermain sepakbola masa kini, apa yang dilakukan Lewandowski adalah sebuah pencapaian monumental.

Dalam kolom About the Game, Abimanyu Bimantoro, menjabarkan mengenai fenomena kelangkaan penyerang sepakbola masa kini. Salah satu alasannya adalah tidak begitu dibutuhkannya peran penyerang tengah dalam skema permainan. Kalaupun ada, tugasnya tak lebih sebagai pemantul atau penarik bek lawan.

Ini yang membuat sejumlah kesebelasan mengeluarkan uang yang begitu besar demi menggaet penyerang tengah. Beberapa di antaranya mesti mengunci para penyerang tengahnya meski kesebelasan lain menawar dengan harga tinggi.

Hal ini dirasakan Manajer Arsenal, Arsene Wenger, yang merasa kalau saat ini sudah jarang yang namanya striker berbahaya (Ah, ada Diego Costa striker berbahaya, tapi dalam konteks lain). Salah satu alasan Wenger adalah tidak adanya kebebasan berkreasi yang diberikan pada pesepakbola masa kini. “Setiap perkembangan yang terjadi adalah hasil rancangan tim pelatih, bukan hasil kreativitas sang anak,” tulis Abimanyu.

Siapapun bisa disebut penyerang. Thomas Mueller, Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, dan Diego Costa bisa dikategorikan sebagai penyerang karena area permainan mereka ada di sepertiga akhir penyerangan. Namun, kalau ada tingkatan mana penyerang yang paling “murni” tentu ketiganya masih berada di bawah Andriy Shevchenko, Filippo Inzaghi, atau Michael Owen. Ketiga nama tersebut menempati pos terdekat dengan kiper lawan baik saat tim tengah menyerang maupun bertahan. Area operasi ketiganya pun sebatas di area kotak penalti lawan. Tugas mereka cuma mencetak gol.

Perkembangan taktik di sepakbola membuat peran penyerang tengah tak terlampau penting untuk dipertahankan. Untuk apa menggunakan dua penyerang dalam formasi 4-4-2, kalau lawan punya lima gelandang yang menguasai lini tengah?

Lalu mulai muncul istilah “penyerang palsu” yang populer saat diemban olehCesc Fabregas di kesebelasan negara Spanyol. Tugas Fabregas lebih kepada menyuplai bola, memantulkan bola, dan menarik bek lawan; bukan mencetak gol. Tapi apakah itu salah? Tentu tidak karena dengan skema permainan demikian, Spanyol bisa juara Piala Eropa 2012.

Di masa lalu, penyerang tidak mesti komplet. Dia tidak harus punya semua kemampuan seperti kecepatan, sundulan keras, punya sihir saat menggiring bola, mampu mengelabui lawan, punya tendangan keras, atau punya postur yang tinggi besar untuk menjadi pemantul.

Anda bisa memastikannya lewat sosok Inzaghi yang, misalnya, memiliki sundulan kencang sebagai salah satu kekuatannya. Anda tentu ingat bagaimana Owen dengan tinggi hanya 173 sentimeter mampu mencetak 118 gol selama delapan musim membela Liverpool. Bagaimana bisa penyerang ramping yang tak tinggi-tinggi amat mampu mengecoh pengawalan bek tim lawan yang 10-20 sentimeter lebih tinggi dan lebih besar darinya.

Lewandowski di Bayern

Saat pertama kali mendapat kabar kalau Lewandowski mendarat di Allianz Arena, penulis tak begitu yakin ia akan mengukir prestasi yang lebih baik ketimbang saat bermain untuk Borussia Dortmund. Gaya permainan yang dibawa Pep Guardiola ke Bayern Munich, tidaklah cocok bagi penyerang yang kerjanya cuma nangkring di depan kotak penalti.

Lihat Mario Mandzukic yang kesulitan menyesuaikan dengan skema permainan Pep. Ia dipaksa berjuang ekstra keras dengan permainan cepat Bayern. Mandzukic tak bisa berleha-leha di depan kotak penalti. Ia punya tugas ekstra untuk membuka ruang dan memberikan umpan bagi lini kedua.

“Aku tidak bilang kalau gaya permainan Pep di Bayern mudah diikuti. Namun, dengan permainan seperti ini aku tidak bisa memberi yang terbaik. Untuk kebaikan semuanya baiknya kami menjalani jalan yang terpisah,” tutur Mandzukic dikutip Sueddeutsche saat pindah ke Atletico Madrid.

Kalau melihat jumlah gol, Mandzukic tak buruk-buruk amat selama dua musim membela Bayern. Total ia mencetak 48 gol dari 88 pertandingan di berbagai kompetisi.

Dalam pertandingan menghadapi Wolfsburg, Pep tak menurunkan “penyerang murni” sejak menit pertama. Muller difungsikan menempati pos terdepan. Bayern kesulitan menembus area tengah permainan Wolfsburg. Die Bavarians mencoba menusuk lewat kedua sayap. Namun, lini pertahanan Wolfsburg sudah bisa mengantisipasi bola yang diarahkan pada Muller.

Lalu, Lewandowski pun masuk pada awal babak kedua. Muller ditarik sebagai gelandang serang, sedangkan Lewandowski nyaman berada di pos terdepan. Kemudian terlahirlah lima gol dari penyerang asal Polandia tersebut.

Dari lima gol yang dicetak Lewandowski, hanya satu yang benar-benar merupakan hasil upaya kerasnya sendiri. Empat gol lainnya merupakan murni kejelian Lewandowski menempatkan posisi setelah mendapat sodoran umpan di dalam kotak penalti.

Gol pertama terjadi karena ia bebas tak terjaga dan hanya dengan satu sentuhan ia menceploskan bola. Gol ketiga hampir mirip prosesnya dengan gol pertama, di mana Lewandowski mendapat ruang dan tak terkawal. Sempat gagal dalam dua kali tendangan, pada yang ketiga ia berhasil mencetak gol.

Dalam proses gol keempat, Lewandowski seperti tahu ke mana arah datangnya bola. Pergerakannya seperti melakukan ancang-ancang untuk menembak, padahal bola belum diumpan. Lagi-lagi, pergerakan Lewandowski pun tanpa pengawalan. Proses gol kelima mirip dengan gol keempat di mana Lewandowski tak terkawal di dalam kotak penalti. Anehnya dalam kedua gol tersebut bola-lah yang seolah mendekati kakinya. Proses gol kedua dan keempat merupakan tembakan voli yang begitu kencang dan terarah.

Sementara itu, gol kedua berasal dari kejeliannya saat memiliki ruang tembak. Dengan area yang terbuka, hanya dengan dua sentuhan, Lewandowski menembak dari luar kotak penalti dan berbuah gol.

Lima gol dalam waktu kurang dari 10 menit merupakan hal yang hampir mustahil dilakukan terutama oleh pesepakbola di kompetisi top Eropa. Apa yang dilakukan Lewandowski seperti menjadi pengingat kalau “penyerang betulan” itu masih diperlukan dan besar manfaatnya buat sebuah tim. Kegagalan Mueller menempati pos penyerang bisa menjadi bukti awal bagaimana ada sejumlah hal yang harusnya dimiliki seorang penyerang: kemampuan mencetak gol.

Baca juga: Nostalgia Para Penyerang yang Kalah Tajam

foto: washingtonpost.com

Komentar