Sulitnya Menjadi "The Invincibles" di Premier League

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Sulitnya Menjadi

Arsenal sempat membuat prestasi luar biasa saat menjalani musim dengan tak terkalahkan dan menjadi juara. Label “The Invincible” pun melekat pada skuat Arsenal musim 2003/2004. Label tersebut merupakan sebuah kebanggaan atas torehan prestasi sekaligus menunjukkan sebagai penguasa liga yang sebenarnya.

Ada sejumlah faktor yang membuat sebuah kesebelasan menjalani musim tanpa terkalahkan. Faktor paling utama tentu konsistensi performa para pemain dalam skuat. Faktor lainnya adalah tidak stabilnya permainan lawan.

Namun apa yang dilakukan Arsenal lebih dari satu dekade silam agaknya sulit diulangi kesebelasan manapun saat ini. Hal ini diutarakan gelandang Manchester City, Yaya Toure, yang beralasan kalau Premier League saat ini menjadi lebih kompetitif. Toure pantas bicara demikian. Rekor lima kemenangan beruntun City, kandas saat dikalahkan West Ham United 1-2 di kandang sendiri. Padahal, sebelumnya City seperti tak kesulitan saat mengandaskan perlawanan West Bromwich Albion, Chelsea, Everton, Watford, dan Crystal Palace.

Baca juga cerita-cerita tentang West Ham United di sini.

Toure tak mau ambil pusing dengan kekalahan City atas West Ham. Terlebih ini merupakan kekalahan kedua beruntung City setelah dikalahkan Juventus di Liga Champions, di tempat yang sama; Etihad Stadium.

“Terkadang ini hanya masalah keberuntungan. Kami bermain bagus saat menghadapi West Ham, tapi kami tak beruntung lagi, sama kala kami menghadapi Juventus,” ucap Toure dikutip The Guardian, “Apa yang tengah kami lakukan? Kami telah menembak bola, aku tidak tahu seberapa banyak dan aku juga melewatkan kesempatan mencetak gol. Aku mestinya meledakkan tangan kiper, tapi ini sepakbola.”

Toure menegaskan kalau capaian Arsenal dengan menjadi juara lewat rekor tak terkalahkan akan sulit tercapai saat ini, “Premier League selalu bertambah baik dan Anda bisa lihat bagaimana kesebelasan besar berinvestasi di pemain dengan uang yang banyak dan The Invincibles tidak akan pernah terjadi lagi di Premier League.

Yang dimaksud Toure adalah kesebelasan-kesebelasan besar melengkapi skuat mereka dengan investasi pemain wonderkid, sementara kesebelasan semenjana semacam West Ham, Leicester City, hingga Stoke sekalipun turut menggelontorkan uang untuk menunjang skuat mereka.

“Anda bisa mengerti bagaimana Premier League begitu kompetitif karena para pemain ingin datang ke Inggris dan menjadi lebih baik lagi. Anda tak perlu kaget saat Chelsea kalah di kandang oleh Crystal Palace. Premier League ini sulit,” tutur pemain berkebangsaan Pantai Gading ini.

Tentu akan begitu membanggakan bagi kesebelasan yang bisa juara tanpa terkalahkan. Gelar The Invincibles meyakinkan siapapun kalau mereka memang layak juara karena tidak ada satu kesebelasan sekalipun yang pernah mengalahkan mereka. Namun, paradigma seperti itu sepatutnya diubah karena 38 pekan bukanlah waktu yang singkat untuk berada dalam konsistensi dan berharap lawan tengah mengalami masa-masa buruk.

“Kami baru saja melakoni enam pertandingan. Masih ada 32 lagi dan itu akan sulit,” kata Toure. Pria kelahiran 1983 ini mengaku kalau semakin kompetitifnya liga menjadikan Premier League sebagai brand kian menarik untuk disimak. Buat penggemar, terutama mereka yang bukan penggemar kesebelasan besar, memiliki alasan untuk mencela. Seperti yang dirasakan penulis dengan melihat ramainya mereka yang berkostum West Ham di pusat keramaian.

Toure pun mengingatkan ada kalanya kesebelasan yang bermain menyerang dan menguasai pertandingan kalah oleh kesebelasan oportunis yang mengandalkan serangan balik dan menumpuk pemainnya di belakang. “Hasil akhir saat menghadapi West Ham tak menunjukkan keseluruhan pertandingan. Pada babak kedua kami mendominasi tapi kami tak menang,” ujar Toure.

Faktor penting lainnya adalah meredupnya daya gedor tim yang menjadi andalan. City menaruh beban mencetak gol pada Sergio Aguero yang cuma mencetak satu gol dalam tujuh penampilan. Hal serupa dirasakan Chelsea yang terdampak akibat menurunnya ketajaman Diego Costa.

Musim lalu, Chelsea mengawali musim yang meyakinkan, tapi ditumbangkan Newcastle United yang tengah berjuang dari jurang degradasi yang menjadi kesebelasan pertama yang mengalahkan Chelsea musim lalu.

Hal yang bisa dilakukan kesebelasan Premier League adalah mencatatkan jumlah kemenangan beruntun. Dikutip dari The Guardian, City merupakan kesebelasan pencetak 11 kemenangan beruntun di Premier League yang merupakan rekor di Inggris. “Kami memiliki pemain hebat di ruang ganti dan kami akan kembali, tentu.”

Bermain sepenuh hati menjadi kunci buat Toure dan para pemain City untuk mencetak rekor baru. Menyajikan kemenangan untuk penggemar menjadi motivasi lain yang membuat Toure bersemangat.

“Aku serasa masih berusia 20 tahun. Karena atas semua yang kesebelasan lakukan untukku, buat fans, sampai menit akhir pun aku akan tetap berjuan untuk tim ini,” kata Toure, “Mereka pantas mendapatkannya. Aku tak ingin berhenti dan beristirahat. Aku tak peduli dengan istirahat. Buatku, sampai aku mendapatkan cedera serius, aku tetap bugar dan siap bermain.”

Apa yang dilontarkan Toure sekaligus sebagai perwujudan meskipun dengan semangat yang tak pernah kendur, tapi mempertahankan untuk tak terkalahkan tetap saja merupakan hal yang sulit. Jika persaingan di Premier League tak mengendur, bukan tak mungkin kalau gelar The Invincibles yang diraih Arsenal satu dekade silam, merupakan yang terakhir yang pernah terjadi di Inggris.

foto: talksport.com

sumber: theguardian.com

Komentar