Apa yang Tidak Ada di Sepakbola Saat Ini?

Berita

by Redaksi 46

Redaksi 46

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Apa yang Tidak Ada di Sepakbola Saat Ini?

Saat menyaksikan ulang pertandingan sepakbola puluhan tahun lalu, terkadang kita merasa aneh dengan gaya bermain, maupun hal-hal lain yang ada di lapangan. Perbedaan tersebut umumnya yang mudah dijumpai oleh mata seperti penggunaan kostum.

Memasuki era 90-an, hampir semua kesebelasan memiliki kostum full print dengan bentuk yang kebesaran. Namun, jika dilihat pada masa kini, kostum tersebut terbilang norak dan tidak sesuai dengan zaman.

Penulis situs sepakbola Joe, Paul Moore, menuliskan sejumlah hal di sepakbola yang tidak Anda temui pada masa kini, di zaman modern. Berikut kami rangkumkan untuk Anda.

Kostum 1-11


LORD! (Sumber: turnstyles.co.uk)

Bahkan di Piala Dunia dan kompetisi internasional, kini amat jarang satu kesebelasan menggunakan kostum bernomor punggung 1-11 di atas lapangan. Terlebih jika melihat kesebelasan yang bertanding di liga. Para pemain lebih memilih nomor kesukaan mereka dan bukan sesuai dengan “adat” yang ada di sepakbola.

Nomor punggung 1-11 diinisiasi oleh mantan Manajer Arsenal, Herbert Chapman. Sebelum 1939, mayoritas klub menggunakan kostum tanpa nomor punggung. Chapman lalu menginisiasinya pada 1928 yang diadopsi menjadi aturan resmi di Inggris pada 1939.

Nomor 1-11 sebenarnya memiliki arti penting dan mendasar di sepakbola. Misalnya, pemain bernomor punggung “7” dan “11” biasanya merupakan pemain yang beroperasi di sayap dan memiliki kecepatan. Sementara itu, pemain bernomor punggung “10” berperan sebagai penyerang yang bermain sedikit lebih di belakang pemain nomor “9”.

Ini yang membuat para pemain “hebat” di masa lalu menggunakan nomor “10” dan beroperasi di lini depan. Nomor “10” pun menjadi nomor keramat dan tidak bisa dipakai oleh sembarang pemain.

Kini, bahkan William Gallas pernah menggunakan nomor “10” meski berposisi sebagai bek, atau Cristiano Lupatelli yang berposisi sebagai penjaga gawang. Pun dengan Jack Wilshere di Arsenal yang posisi aslinya adalah gelandang yang jarang bermain karena cedera.

Kini, mudah ditemui pemain dengan nomor-nomor aneh seperti “99”, “88”, “hingga “52” yang digunakan oleh Lord Bendtner di Arsenal dan “3” saat bermain di Wolfsburg.

Baca juga: desain kostum norak 90-an yang diproduksi ulang.

Sepatu Klasik

Warna warni sepatu Mario Balotelli (Sumber gambar: Liverpoolecho.co.uk)

Pada era 90-an sepatu sepakbola hanya memiliki perubahan kecil pada bentuk dan pul (studs) yang digunakan. Untuk urusan warna, mayoritas pesepakbola menggunakan warna hitam yang biasanya dipadukan dengan strip putih atau merah.

Namun, memasuki era 2000-an, terjadi perubahan yang signifikan terkait warna. Perusahaan penyedia perlengkapan sepakbola kini makin berani untuk memproduksi sepatu dengan warna yang mencolok seperti hijau, kuning, merah, dan oranye.

Perubahan ini juga sejalan dengan bahan sepatu yang digunakan. Sepatu klasik yang berwarna hitam umumnya terbuat dari kulit sehingga lebih berat terutama di lapangan yang becek. Untuk menjaga performa pemain, apparel pun memproduksi sepatu dari kulit sintetis yang lebih ringan dan tahan di segala cuaca meski daya tahannya akan jauh lebih rendah ketimbang sepatu yang terbuat dari kulit asli.

Baca juga: sepatu sepakbola pertamaku.

Sponsor Sebagai Identitas

21 tahun kerjasama Liverpool dengan Carlsberg (Sumber: sportskeeda.com)

Saat sepakbola sudah sepenuhnya tentang bisnis, maka akan sulit untuk menemukan sponsor “reguler” yang melekat di kostum pemain. “Arsenal selalu disponsori JVC, Man United oleh Sharp, Liverpool oleh Candy atau Carlsberg dan Everton oleh NEC,” tulis Paul.

Apa yang dimaksud Paul tentu tidak selamanya benar, karena masih terbuka bagi sponsor untuk menjalin kesepakatan panjang dengan kesebelasan. Bedanya, kini kesebelasan maupun sponsor tidak lagi terpikir untuk mempertahankan apa yang telah mereka jalin dalam bisnis.

Misalnya, Samsung yang menghentikan kerjasama dengan Chelsea pada akhir musim ini. Chelsea tidak begitu ngotot untuk melanjutkan kerjasama meski telah menjadi bagian dari Chelsea sejak musim 2005/2006. Samsung sendiri beralasan kalau menyeponsori kesebelasan bukanlah bagian yang tepat dari strategi marketing mereka.

Penyerang di Dalam Kotak Penalti

Dengan semakin populernya formasi 4-2-3-1, membuat sulit bagi penggemar sepakbola menemukan penyerang yang konstan berada di dalam kotak penalti. Dengan kebutuhan formasi tersebut penyerang dipaksa untuk lebih aktif dalam bergerak dan membuka ruang. Pada akhirnya penyerang bukanlah posisi yang benar-benar ditugaskan untuk mencetak gol, karena biasanya pundi-pundi gol mengalir dari tiga orang pemain di belakang penyerang tersebut.

“Sangat jarang melihat pemain yang jarang meninggalkan kotak penalti macam Ruud van Nistelrooy, Pippo Inzaghi atau Miroslav Klose,” tulis Paul.

Dengan perkembangan formasi, terjadi pula perubahan peran dan posisi tiap pemain. Kini, seorang gelandang mutlak bisa memerankan peran sebagai poros ganda. Penyerang yang memiliki kecepatan juga biasanya ditarik lebih belakang sebagai pemain sayap. Jangan heran pula jika kini tidak ada lagi kesebelasan yang konstan memusatkan serangan dari tengah.

Rumput yang Berkilau


(Sumber gambar: bbc.co.uk)

Kini Federasi Sepakbola Inggris maupun operator Liga Inggris, Premier League, memiliki aturan ketat soal rumput tempat digunakan bertanding. Rumput tidak boleh terlihat botak dan harus selalu hijau. Ini yang membuat pengelola stadion kian memberlakukan aturan ketat terkait rumput. Mereka melarang orang lain di luar petugas untuk menginjak rumput di luar hari pertandingan.

Penggunaan alat seperti lampu untuk menghangatkan dan membantu pertumbuhan rumput pun kian sering digunakan. Maka, kini sulit untuk melihat Old Trafford maupun Stamford Bridge becek penuh lumpur layaknya ladang kentang.

Disadur dengan tambahan dari Joe.ie

Komentar