Tidak Ada Lagi Kiper Botak di Amerika Serikat

Berita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Your personal football analyst. Contributor of Pandit Football Indonesia, manager of Box2Box Media Network, podcaster of Footballieur, creative writer of Tirto.ID, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach... Who cares anyway! @dexglenniza

Tidak Ada Lagi Kiper Botak di Amerika Serikat

Ada-ada saja sepakbola di Amerika Serikat. Sejak menjadi tuan rumah Piala Dunia 1994, atau lebih dari dua dekade yang lalu, AS semakin dekat dengan "mainstream"-nya olahraga populer dunia, yaitu ya apalagi kalau bukan sepakbola yang bolanya berbentuk bulat, bukan seperti telur layaknya American football.

Setelah hingar bingar kompetisi Eropa sampai akhir pekan kemarin, ditambah juga musim Major League Soccer (MLS) atau Liga Amerika Serikat yang baru dimulai kembali, kita langsung dipisahkan sejenak oleh "international break".

Ya, jeda internasional adalah di saat tim nasional kita semua (bukan hanya kita yang di Indonesia) bermain entah untuk pertandingan persahabatan atau untuk pertandingan kualifikasi.

Daripada ditangisi karena perpisahan sejenak dengan sepakbola level klub, lebih baik kita sambut jeda internasional ini dengan sebaik-baiknya, karena jeda internasional adalah sebuah takdir yang senantiasa harus berlangsung berdampingan dengan eksistensi sepakbola di dunia.

"Kekhawatiran" Amerika Serikat

Setelah Anda semua membaca pidato singkat tentang jeda internasional di atas, mari lah kita kembali lagi kepada topik utama kita, yaitu Amerika Serikat, atau tepatnya tim nasional mereka.

Ada apa dengan timnas AS? Sebenarnya, sih, tidak ada sesuatu yang harus digembar-gemborkan. Mereka akan menghadapi Denmark pada 25 Maret dan Swis pada 31 Maret. Keduanya merupakan pertandingan persahabatan.

Pelatih kepala mereka, Jürgen Klinsmann, juga langsung sigap dengan memanggil 20 pemain untuk membela timnas mereka ini dalam dua pertandingan di atas.

Satu isu yang menjadi (agak) ramai di kalangan pemerhati sepakbola di AS adalah, dari 20 pemain yang Klinsmann panggil, tidak ada satu pun penjaga gawang yang botak. Heh, masalah kah?

Klinsmann sudah ditunjuk sebagai pelatih sejak empat tahun yang lalu. Ia berharap dapat membuat sepakbola di AS lebih profesional dan juga mengubah budaya masyarakat AS mengenai olahraga paling populer ini.

Kekhawatiran dan kemarahan pertama (yang kami sadari) tidak pernah lebih daripada ketika ia meninggalkan Landon Donovan dari tim Piala Dunia 2014. Saat itu masyarakat AS banyak yang memprotes meskipun pada kenyataannya mereka bahkan tidak mengenali wajah Donovan seperti apa, pun ketika yang bertanya adalah sang kapten, Clint Dempsey.

Namun, sekarang para pemerhati sepakbola AS sudah menganggapnya "bertindak terlalu jauh".

Kami ulangi sekali lagi, masalah ini timbul karena Klinsmann tidak memanggil satu pun penjaga gawang yang botak.

"Ada banyak hal yang Klinsmann ingin ubah untuk alasan yang baik. Amerika Serikat harus lebih baik, tapi penjaga gawang adalah satu hal yang identik dengan AS. Tim (Howard) adalah penjaga gawang yang hebat, tapi dia akan pensiun, dan satu penjaga gawang besar lainnya akan mengambil alih. Lalu ia akan pensiun dan satu lagi akan mengambil alih, dan seterusnya, selamanya," ujar salah seorang pemerhati sepakbola AS, Ryan Rosenblatt.

Melalui media Soccer Gods, ia menambahkan (dengan sedikit bercanda tentunya): "Kami telah menemukan formula rahasia penjaga gawang kami: semua penjaga gawang hebat kami adalah mereka yang botak."

Sejarah

Untuk memahami kelakar yang agak serius ini, kita memang harus melihatnya dengan perspektif konteks sejarah.


  • Brad Friedel: Sangat botak, hebat, menepis dua tendangan penalti di Piala Dunia 2002 dalam perjalanan AS ke perempat-final.

  • Kasey Keller: Sangat botak, hebat, dan penjaga gawang level Liga Primer Inggris, La Liga Spanyol, dan Bundesliga Jerman.

  • Tim Howard: Botak (tambah sempat berjenggot tebal), sangat amat hebat, rekor penyelamatan terbanyak di Piala Dunia 2014 dalam satu pertandingan.


Sepakbola AS memang tidak selalu hebat. Namun, penjaga gawang botak sudah menjadi tradisi. Secara konsisten AS selalu memiliki penjaga gawang botak setidaknya sejak Piala Dunia 1994. Itu adalah sesuatu yang sudah identik dengan para penggemar sepakbola di AS.

Mereka yang tidak botak bahkan bisa dihitung dengan jari: Tony Meola, Juergen Sommer, dan Nick Rimando.

Sejak Piala Dunia 1994 sampai 2014, AS tak pernah lepas dari penjaga gawang botak. Bahkan pada Piala Dunia 2006 dan 2010, ketiga penjaga gawang mereka semuanya botak (Howard dan Marcus Hahnemann, didampingi oleh Keller pada 2006, dan Brad Guzan pada 2010).

Friedel dan Howard yang sama-sama botak bahkan sudah bersaing sampai ke luar lapangan.

Jika kita melihat, misalnya, Piala Emas CONCACAF (CONCACAF Gold Cup), kita juga akan menemukan penjaga gawang botak.

Turnamen antar negara di Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia ini adalah turnamen serupa dengan Copa Amerika CONMEBOL di Amerika Selatan.

Pada turnamen tahun 2013 AS memiliki Rimando, Sean Johnson (botak), dan Bill Hamid (botak). Kemudian pada 2009 misalnya, ketika mereka banyak memanggil pemain muda, mereka memiliki Troy Perkins, Luis Robles, dan Jon Busch.

Robles dan Busch adalah (pasti bisa ketebak) botak!

Penjaga gawang Amerika Serikat sekarang

Pada dua pertandingan jeda internasional nanti, Klinsmann memanggil Nick Rimando (Real Salt Lake, MLS), Cody Cropper (skuat muda Southampton), dan William Yarbrough (Club León, Liga MX Meksiko) sebagai penjaga gawang, tidak ada satupun yang botak!

"Klinsmann menyingkirkan sepakbola Amerika secara konstan, alih-alih mengubah tradisi, ia justru merusak tradisi dari dalam!" tambah Rosenblatt.

"Tidak ada penjaga gawang botak? Siapa kita sekarang... Meksiko?" tutupnya.

Akhirnya kami harus kembali kepada kalimat pembuka paling atas: ada-ada saja, memang, sepakbola di Amerika Serikat.

Sumber: Soccer Gods

Komentar