Korupsi Melanda FIFA, Emirates Akhiri Kerjasama

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Korupsi Melanda FIFA, Emirates Akhiri Kerjasama

Perusahaan penerbangan asal Uni Emirat Arab, Emirates, memutuskan mengakhiri kerjasama dengan FIFA. Keputusan ini sebagai dampak tuduhan korupsi yang dialamatkan pada sejumlah pejabat FIFA. Emirates menjadi sponsor utama pertama FIFA yang memilih mengakhiri kerjasama.

Pemutusan kerjasama tersebut terbilang mengejutkan. Pasalnya, dilakukan saat satuan tugas FIFA bertemu di Zurich untuk menentukan waktu penelenggaraan Piala Dunia 2022 di Qatar.

Sebelumnya, pada Juni lalu, sejumlah sponsor mengaku akan mempertimbangkan kontrak dan kerjasama dengan FIFA. Awalnya, ancaman tersebut dianggap gertakan belaka. Namun, apa yang dilakukan Emirates menunjukkan adanya ketidakpercayaan terhadap badan sepakbola tertinggi di dunia tersebut.

Perusahaan asal Jepang, Sony, turut mempertimbangkan kerjasamanya dengan FIFA, yang akan berakhir pada akhir tahun ini. Sony, bersama Emirates termasuk ke dalam enam sponsor besar FIFA.

Ini merupakan titik klimaks yang dirasakan Emirates sebagai sponsor. Setelah ancaman terakhir mereka pada Juni lalu saat penyelenggaraan Piala Dunia usai. Namun, FIFA sepertinya tak ambil pusing dengan keinginan banyak pihak untuk melakukan reformasi atas kronisnya isu korupsi yang melanda FIFA.

FIFA sebenarnya bisa bernafas lega, karena Qatar Air dan Samsung kemungkinan besar masuk dan menggantikan mereka.

Emirates sebenarnya tidak begitu vokal soal kasus tuduhan korupsi ini. Pada Juni lalu, Sony, Adidas, dan Visa lah yang bersuara. Mereka menginginkan FIFA mengusut tuntas kasus suap dalam penunjukkan tuan rumah Piala Dunia 2022 secara serius.

Meskipun demikian, adidas pada akhirnya memperpanjang sponsorship dengan FIFA hingga 2030 mendatang.

Pengunduran diri sebagai sponsor dirasa tidak akan efektif. Pasalnya, sejumlah rival dari sponsor yang berhenti, akan masuk dan menggantikan, seperti yang dilakukan Qatar Air dan Samsung.

Anggota parlemen dari Partai Konservatif, Damian Collins berharap Emirates akan menjadi sponsor pertama yang mendorong sponsor lainnya untuk mempertanyakan kredibilitas FIFA. “Saat sponsor mulai berhati-hati, itulah di mana FIFA akan mulai merasa kesakitan, kata Collins.

Pertemuan tim satuan tugas FIFA sendiri membahas mengenai jadwal pertandingan internasional dari 2018 hingga 2024. Mereka dengan tergesa-gesa melakukan rapat setelah Sepp Blatter berencana memindahkan Piala Dunia 2022 di Qatar diselenggarakan pada bulan November.

Namun, hal tersebut ditentang oleh pemilik hak siar dan sejumlah liga di Eropa. Pasalnya, penyelenggaraan Piala Dunia akan berbenturan waktunya jika diselenggarakan pada November.

FIFA adalah organisasi olahraga besar yang mampu mendapatkan dana dalam jumlah besar. Hebatnya, dana tersebut berasal dari uang sponsor dan tidak ada yang membiayai FIFA atas nama suatu negara atau organisasi.

Bisa dibilang, FIFA adalah negara baru yang berdiri sendiri dan telah mandiri. Maka, wajar jika FIFA tak ingin federasi sepakbola di tiap negara dicampuri oleh kepentingan negara. Padahal, umumnya federasi sepakbola di tiap negara berada di bawah satu kementrian khusus.

Sumber utama FIFA berasal dari sponsor. Sayangnya, ketika ada sponsor yang ingin keluar sebagai bentuk protes atas kekacauan di dalamnya, masuk sponsor rival yang kemudian membiayai FIFA.

Padahal, jika mereka mau bergerak bersama, bukan tidak mungkin FIFA akan bangkrut dan kolaps dengan sendirinya. Syaratnya tentu saja tidak membiarkan ada dana yang masuk ke organisasi tersebut.

Sumber gambar: worldairlinenews.com

Komentar