Semua Ada Made in China-nya, Kecuali Industri Sepakbola

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Semua Ada Made in China-nya, Kecuali Industri Sepakbola

Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, Cina menjadi target utama ekspansi ekonomi global. Namun, tak semudah itu pengaruh luar bisa masuk, karena biasanya mereka memiliki produk serupa dengan harga yang lebih mudah. Masuk ke pasar Cina berarti bertaruh pada dua hal: kerahasiaan resep perusahaan bisa terbongkar dan bersiap menghadapi kebangkrutan.

Ekonomi Cina termasuk yang paling besar di dunia. Malah, di Indonesia seringkali ada ungkapan “peniti yang sekecil itu pun buatan Cina”. Atau: "Cuma Tuhan yang tak ada made in China-nya."

Tapi ada satu hal yang tak bisa diduplikasi Tiongkok saat ini: industri sepakbola. Mereka masih menjadi konsumen setia liga-liga Eropa. Anda pasti masih ingat saat Brasil menghadapi Argentina dalam partai persahabatan. Pertandingan tersebut tak digelar di Rio de Janiero ataupun di Buenos Aires, tapi di Beijing!

Pada masa kini, Liga Inggris bagaikan tren baru yang mendunia. Sama halnya dengan yang terjadi di Cina. Jarak yang cukup jauh dari Cina ke Inggris, membuat mayoritas penonton menyaksikannya lewat saluran televisi.

Jaringan tv satelit berlangganan Super Sport, menjadi pemegang hak siar untuk wilayah Tiongkok dan Makau. Namun, belum sampai seminggu mereka sudah menjualnya kepada tv lokal, STV Great Sports.

Supersports sendiri memiliki hak siar hingga musim 2018/2019 dan dikabarkan telah membayar 162,5 juta dollar untuk hak siar ekslusif. Selain televisi, Supersports pun menyediakan layanan streaming online.

Salah satu situs penyedia streaming, PPTV.com, turut serta dalam industri tersebut. Mereka bahkan membayar hingga 11 juta pounds untuk menyiarkan 380 pertandingan musim ini. Nilai tersebut naik 10 kali lipat dari kontrak pada musim lalu.

Seperti dirilis situs China.org.cn, PPTV menawarkan empat pertandingan gratis untuk disaksikan secara online. Mereka akan menarik biaya tambahan jika penonton ingin menyaksikan pertandingan lain.

Di Cina, pertandingan Liga Inggris tak lagi disiarkan secara gratis lewat tv free-to-air. Rata-rata, hampir semua negara di dunia merasakan hal yang sama pada saat itu. Penonton mesti berlangganan tv satelit atau tv kabel.

Sialnya, pemegang hak siar saat itu, Wintv Digital TV Development Ltd di ambang kebangkrutan. Pasalnya, tidak banyak masyarakat Cina yang mau membayar uang berlangganan. Untuk sebulan mereka mesti membayar 188 yuan atau sekitar 19 pounds (370 ribu).

Penggemar Liga Inggris di Cina kebanyakan lebih memilih menyaksikan siaran lewat streaming, karena mereka hanya menyaksikan tim yang didukung. Dengan streaming, penggemar bisa menyaksikan pertandingan di manapun, termasuk saat tengah di perjalanan.

Dalam satu pertandingan, biasanya menghadirkan 250 ribu sampai 350 ribu penonton yang streaming. Jumlah ini makin bertambah besar saat dua tim besar bertemu. Jumlahnya bisa mencapai satu juta orang.

Dari apa yang terjadi di Cina. Benar jika disebut Liga Inggris telah mengekspansi Negeri Tirai Bambu tersebut. Namun, dalam hal apa? Jelas kalau ukurannya soal sebaran tayangan tv berlangganan, orang-orang Eropa itu sudah gagal total.

Sumber gambar: scmp.com

Komentar