Pemainnya Terbunuh di Lapangan, JS Kabliye Dilarang Gelar Pertandingan Kandang

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Pemainnya Terbunuh di Lapangan, JS Kabliye Dilarang Gelar Pertandingan Kandang

Pada 25 Agustus silam, kami sempat memberitakan Albert Ebosse yang meninggal di lapangan. Ebosse meregang nyawa usai pertandingan akibat terkena lemparan batu di kepalanya oleh suporter sendiri. Hal ini terjadi saat JS Kabylie, klub Liga Aljazair, menjamu USM Alger di Tizi Ouzou Stadium.

Atas kejadian tersebut, Federasi Sepakbola Aljazair, melarang JS Kabyle menggelar pertandingan kandang sepanjang musim 2014/2015. Hal ini tak lepas dari desakan Konfederasi Sepakbola Afrika, CAF, yang meminta adanya sanksi yang bisa menjadikan peringatan bagi klub lain. Secara resmi CAF memberikan sanksi tambahan dengan melarang JS Kabyle tampil di kompetisi Afrika selama dua tahun.

Pun dengan suporter JS Kabyle yang tidak diperkenankan masuk ke stadion baik dalam pertandingan kandang maupun tandang, hingga Januari tahun depan.

Berdasarkan laman insideworldfootball, Federasi Aljazair turut bertemu dengan operator liga untuk menyepakati aturan baru agar kejadian serupa tak terulang.

Dalam pertandingan yang berakhir untuk kekalahan JS Kabyle tersebut, penonton memang brutal. Mereka melemparkan batu, laser, hingga kembang api ke lapangan. Sebuah benda berukuran pun terlontar ke arah kepala Ebosse, yang sebenarnya sedang masuk terowongan menuju kamar ganti. Saat itu pula kondisinya tengah masuk ke kerumunan polisi lengkap dengan helm dan tameng. Tak berselang lama, Ebosse rubuh. Luka itu pula yang membuat top skorer Liga Aljazair musim lalu tersebut menghembuskan nafas terakhir.

Presiden Liga Aljazair, Mahfoud Kerbadj, yang hadir dalam di stadion, menyebut insiden tersebut sebagai “bencana bagi sepakbola nasional Aljazair”.

Tingkat kedewasaan sebuah suporter bisa terlihat dari bagaimana cara mereka menyikapi pertandingan. Hendaknya, bukan hanya suporter dan klub yang dihukum, tapi juga diselidiki individu yang melemparkan batu tersebut, untuk diberikan hukuman sesuai dengan aturan yang berlaku.

Klub selaku penyelenggara pertandingan mestinya sadar dengan tingkat kekacauan yang mungkin terjadi. Berkoordinasi dengan polisi menjadi vital, karena tanpa dukungan pihak keamanan, tidak ada yang bisa menanggulangi suporter secara represif.

Penjagaan di pintu stadion pun penting untuk mencegah suporter membawa benda-benda yang digolongkan sebagai benda terlarang oleh FIFA, seperti pisau dan kembang api.

Apa yang terjadi di Aljazair tersebut dapat menjadi pelajaran yang begitu berarti untuk kita semua. Emosi yang meluap-luap di stadion, cukuplah keluar lewat sumpah serapah dari mulut. Tak perlu botol air serta keramik tribun stadion ikut melayang. Semoga saja, kematian Ebosse tak sia-sia. Karena emosi hanya akan menimbulkan kerusakan belaka.

Komentar