Mungkinkah Video Replay Digunakan di Sepakbola?

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Mungkinkah Video Replay Digunakan di Sepakbola?

Kamis (11/9) lalu, Sekretaris Jenderal FIFA, Jerome Valcke, mengatakan penerapan video replay malah membuat sepakbola kehilangan esensinya. Valcke menyebut, sepakbola tak ubahnya seperti video game.

Sementara itu, Valcke memuji penerapan teknologi garis gawang yang sudah diterapkan FIFA pada Piala Dunia 2014. Ia menganggap, teknologi garis gawang membantu wasit dalam pengambilan keputusan.

“Piala Dunia adalah labotarium, di mana kami akan mengecek peraturan baru, dan konsep baru,” kata Valcke. Ia merasa keputusan wasit tidak selamanya objektif, karena wasit adalah manusia yang bisa membuat kesalahan. Hal itulah yang membuat sepakbola menjadi menarik dan lebih manusiawi.

Namun, pendapat Valcke ini nyatanya bertentangan dengan apa yang diinginkan sang Presiden FIFA, Sepp Blatter. Awal September lalu, Blatter mengatakan akan menerapkan video replay pada Piala Dunia U-20 di Selandia Baru. Ia menambahkan, setiap pelatih nantinya mendapatkan kesempatan satu kali tiap babak, untuk menggunakan teknologi tersebut.

Isu ini sebenarnya sudah dihembuskan sejak 2010 silam. Blatter mengatakan akan mendiskusikan aturan tersebut suatu saat nanti. Ia pun menepati janjinya dengan menerapkan goal line technology pada Piala Dunia 2014 Brasil.

“Aku tidak sepenuhnya menentang itu (penerapan video replay). Jika teknologi siap diadopsi, maka aku setuju. Jika keamanan akan sistemnya telah terjamin, maka akan kami perkenalkan.”

Saat itu, usul video replay berhembus karena aksi Thierry Henry yang menyentuh bola dengan tangannya. Kontan, para pendukung Irlandia marah karena aksi Henry tersebut membuat negara tetangga Inggris tersebut gagal tampil di Piala Dunia 2010.

Lalu, pada Februari 2014 lalu, Sepp Blatter bersemangat untuk segera menggunakan video replay. Pasalnya, hal tersebut bisa digunakan untuk menghukum pesepakbola yang melakukan diving dan pura-pura cedera.

Ini sesuai dengan Kode Disiplin FIFA yang menyatakan rekaman suara atau video diperbolehkan dalam kasus pelanggaran disiplin.

Namun, pada saat itu, maksud video replay yang dikemukakan Blatter digunakan setelah pertandingan, oleh komite disiplin, bukan oleh wasit.

Penggunaan teknologi video masih menjadi perdebatan di berbagai kalangan. Kaum konservatif menginginkan video replay dienyahkan karena membuat sepakbola layaknya video game.

Sementara kaum pembaharu, ataupun para barisan sakit hati, ingin segera video replay diterapkan. Pasalnya, kadang wasit melakukan kesalahan saat momen krusial. Misalnya gol yang dianggap off side pada menit-menit terakhir. Atau dihukum penalti di menit-menit akhir. Semua itu akan terasa menyakitkan, jika keputusan wasit ternyata salah.

Menjawab kebimbangan Blatter dan Valcke yang menyatakan pertandingan akan terganggu karena hal ini, bisa dipatahkan dengan memberi jatah satu kali protes tiap babak. Meski membuang paling lama lima menit, tapi akan berdampak panjang.

Coba dulu video replay diterapkan, mungkin bukan Prancis yang bermain di Piala Dunia 2010, tapi Republik Irlandia.

Bagaimana menurut Anda?

Komentar