Polisi Ledakkan Tangan Fans Makedonia dengan Flashbang

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Polisi Ledakkan Tangan Fans Makedonia dengan Flashbang

Liga Makedonia baru saja bergulir Agustus lalu. Namun, tindakan represif polisi sukses membuat dua fans terluka. Tangan seorang fans berlumuran darah, dan seorang lagi terluka di bagian kaki.

Ini terjadi di pertandingan derbi antara FK Vardar menghadapi FK Pelister di Kota Bitola.

Di menit-menit akhir, terjadi ketegangan di tribun belakang bench. Polisi memaksa kelompok fans Vardar, Komiti Skopje, untuk segera meninggalkan stadion sebelum pertandingan berakhir. Namun, fans memaksa untuk terus mendampingi tim hingga peluit tanda berakhirnya pertandingan dibunyikan.

Polisi pun merangsek masuk ke dalam tribun yang ditempati Komiti Skopje. Lalu, polisi pun mulai mengurung para fans dan menghajar mereka. Entah apa yang dipikirkan, seorang polisi kemudian melemparkan stun grenade atau flashbang dari jarak dekat.

Sontak saja, seorang fans yang kaget berusaha melemparkan kembali flashbang tersebut. Nahas, dengan segera flashbang tersebut meledak. Ia lalu berlari ke arah tribun yang kosong, terlihat tangannya berlumuran darah. Tiga jarinya hancur karena ledakan tersebut.

Atas kejadian ini, tiga orang dibawa ke rumah sakit terdekat karena mengalami luka yang serius. Kini, Kementrian Dalam Negeri Makedonia tengah menginvestigasi kejadian tersebut.

Pertandingan itu sendiri berahir atas kemenangan Vardar 1-0. Namun, asisten pelatih Vardar, Aleksandar Vasoski tidak berada dalam kondisi mental yang baik. Ia berkata, “kemenangan ini tidak berarti apa-apa karena fan kami kehilangan tangannya.”

Bagi yang awam tentang senjata, stun granade atau yang lebih dikenal dengan flashbang di game macam Call of Duty atau Point Blank ini, digunakan untuk membuat panca indera musuh disorientasi untuk beberapa saat.

Dampak ledakan ini bisa mencapai radius lima meter. Lengkingan suara dari flashbang mencapai 170 desibel yang dapat mengganggu cairan telinga dan menyebabkan ketidakseimbangan tubuh.

Saat flashbang meledak, terdapat lampu kilat yang mengaktifkan sel fotoreseptor di mata, yang membuat pandangan terganggu minimal lima detik. Meskipun demikian, tak akan ada luka serius, kecuali meledak di anggota tubuh.

Apakah tindakan ini bisa dibilang normal, dengan meledakan flashbang dengan jarak sedekat itu? Bukankah tidak salah jika membiarkan fans menunggu hingga pertandingan berakhir?




Komentar