Jose Mourinho Kritik Angka Koefisien Arsenal di Liga Champions

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Jose Mourinho Kritik Angka Koefisien Arsenal di Liga Champions

Jose Mourinho bingung dengan sistem penghitungan koefisien klub yang dilakukan UEFA. Ia menyebut sistem itu sebagai “sistem yang aneh”. Bukan tanpa sebab, ia mempertanyakan mengapa Arsenal dalam seeding Liga Champions beberapa hari lalu masih ditempatkan di pot satu, sejajar dengan Chelsea.

Mourinho tidak percaya klub yang tidak meraih satupun gelar liga selama sembilan tahun terakhir tersebut memiliki koefisien yang tergolong tinggi. Chelsea sendiri dalam pengundian tersebut berada satu grup dengan Sporting Lisbon, Schalke, dan Maribor.

Pembagian koefisien ini dianggap tidak adil karena tim pemenang liga sepert Paris St Germain, Juventus, dan Manchester City, memiliki koefisien yang jauh lebih rendah.

Selain Arsenal, Benfica juga memiliki koefisien tinggi dengan menempati pot pertama. Runner up dua kali beruntung Europa League ini, dianggap memiliki rekor buruk di Liga Champions dalam beberapa tahun ke belakang.

“Mungkin apa yang harus mereka lihat adalah kriteria untuk menempatkan tim di pot yang berbeda,” kata Mou, “Aku tahu Roma, misalnya, sudah lama tidak bermain di Eropa untuk beberapa tahun terakhir, tapi mereka adalah runner up di Italia, jadi berada di pot keempat adalah hal yang sulit.”

Maksud “sulit” dari Mou adalah perjalanan klub tersebut di Liga Champions nantinya. Ini bisa terlihat dari sejumlah spekulasi yang mungkin saja terjadi pada pembagian grup Liga Champions. Satu grup, bisa saja berisi Real Madrid, Paris Saint Germain, Liverpool, dan AS Roma. Padahal, tiga klub tersebut berstatus sebagai runner up dan juara di liganya.

“Aku pikir tidak adil jika poin yang dihasilkan dari Europa League juga berpengaruh pada koefisien di Liga Champions. Jika Anda bermain di Europa League, Anda bisa memenangkan banyak pertandingan, Anda bisa membuat banyak poin, dan lebih terjaga karena poin tersebut,” ujar Mou.

Sebetulnya, pernyataan Mourinho ini malah menghasilkan pertanyaan besar. Jika Chelsea memang memenuhi kriteria untuk menjadi penantang gelar Liga Champions, lantas mengapa mereka mesti khawatir—jika tak mau disebut iri.

Toh, koefisien di Liga Champions memang tidak memperhitungkan kompetisi domestik. Jika kompetisi domestik dihitung, ini malah akan membalikan logika Mourinho dengan anggapan: “Jika saya main di Liga Prancis saya akan mendapatkan banyak poin di Liga Champions”.

Mou tetaplah Mou, ia adalah pelatih cerdas sebagai peramu taktik yang hebat bagi tim yang ditanganinya. Namun, setelah banyak komplain seperti ini, apakah ia masih akan dihormati oleh manager lain?

Sumber gambar: metro.co.uk

Komentar