Otak-Atik The Citizens di Tangan Pep Guardiola

Analisis

by Ifsani Ehsan Fachrezi

Ifsani Ehsan Fachrezi

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Otak-Atik The Citizens di Tangan Pep Guardiola

Memasuki musim 2022/23, wangi sedap menghampiri Manchester City, kala Erling Haaland diperkenalkan sebagai pemain baru. Penyerang berusia 21 tahun ini begitu potensial karena mengemas 86 gol dari 89 pertandingan Borussia Dortmund.

Sebuah torehan yang fantastis, mengingat Haaland masih memiliki perjalanan yang panjang dalam meniti karirnya. Apalagi, kini Haaland bergabung dengan Man City yang mendominasi Premier League atas empat gelar juara di lima musim terakhir.

Dahaga gelar Liga Champions nampaknya terpancar dari Pep Guardiola ketika mendatangkan penyerang potensial seperti Haaland. Ada sebuah komposisi baru yang tampak dari perekrutan, hingga pemain yang hengkang. Kepergian yang paling menonjol adalah Raheem Sterling dilepas oleh City ke Chelsea dengan nilai 56 juta Euro, dan Gabriel Jesus berlabuh di Arsenal dengan nilai 52 juta Euro.

Di musim 2021/22, Sterling maupun Jesus menjadi pemain andalan bagi The Citizens. Sterling menjalani 47 pertandingan dan mengemas 17 gol. Sedangkan Jesus, menjalani 41 pertandingan dan mengemas 13 gol.

Sebuah teka-teki tersendiri, bagaimana seorang Pep yang selalu menyajikan variasi terbaru bagi racikan timnya di setiap musim. Bongkar pasang pemain lumrah dilakukan oleh seorang pelatih untuk berbagai kepentingan, baik itu regenerasi, maupun taktikal.

Sukses tanpa penyerang tunggal, namun hanya berprestasi di domestik

Di musim 2021/22, City merekrut pemain termahalnya, yakni Jack Grealish yang didatangkan dari Aston Villa dengan bandrol 100 juta Pounds. Kedatangannya menggeser posisi Ferran Torres yang kemudian dilepas dengan harga 55 juta Pounds ke Barcelona di pertengahan musim lalu. Meskipun Ferran menghabiskan hampir setengah musim dengan pemulihan cederanya.

Kembali memakai formasi andalannya, Pep lebih banyak menggunakan pola 4-3-3 dengan tiga penyerang di depan. Beruntung Pep memiliki penyerang yang fleksibel dan bisa ditempatkan di tengah maupun di sayap. Phil Foden, Jesus, dan Sterling, merupakan pemain yang bisa dipasang di posisi tengah maupun sayap. Sterling dapat bermain di kiri dan kanan, Foden kiri dan tengah, dan Jesus dapat bermain di tengah maupun kanan. Ini menjadi kekayaan tersendiri bagi Pep dalam mengotak-ngatik lini serang. Bahkan, Foden bisa dipasang sebagai gelandang sentral, maupun serang.

Peluang yang diciptakan oleh gelandang. Sumber: manchestercityanalysis.com

Heatmap penyerang Manchester City. Sumber: manchestercityanalysis.com

City masih tidak memakai striker tunggal dalam penyerangan, melainkan memanfaatkan lini kedua dalam mencetak gol pada musim lalu itu. Dinamisnya tiga penyerang membuat dua gelandang serang bisa masuk ke half space dan menciptakan peluang. Gerakan menusuk dari dua sayap, dinamisnya penyerang tengah dalam membuka ruang, hingga pandainya full back dalam membangun serangan dengan overlap maupun operan silangnya.


Heatmap Joao Cancelo. Sumber: Manchestercityanalysis.com

Joao Cancelo merupakan full back kiri yang memiliki pergerakan yang dinamis baik menyisir samping lapang maupun inverted untuk bergerak masuk ke tengah. Selain memiliki kecepatan dalam menyerang, operan silang dari Cancelo selalu tepat ke kotak penalti lawan. Dilansir dari Whoscored, Cancelo memiliki rataan 82 operan dengan akurasi 85,3 persen per pertandingan. Ia juga selalu mengemas satu operan kunci di setiap laganya, yaitu 0,6 operan silang dan 3,9 operan panjang per pertandingan Premier League musim 2021/22. Di musim 2021/22, Cancelo berhasil melepas total 10 assist di semua pertandingan.

Tiga gelandang City kembali mencetak torehan gol yang mencapai dua digit. De Bruyne 17 gol, Bernardo 13 gol, dan Gundogan 10 gol. Ini membuat pola serangan City tidak terkonsentrasi terhadap satu pemain atau lini. Hal tersebut tentunya membuat lawan kerja ekstra dalam membaca ruang dan pergerakan tanpa bola.

City kembali meraih back to back champions Premier League. Pep meraih torehan gemilang di City untuk gelar domestik, yaitu mengemas empat gelar Premier League selama enam musim. Namun, ada yang masih kurang dari torehan seorang Pep, yaitu gelar Liga Champions. City sudah menjadi raja di Inggris dalam lima tahun, namun loyo di Liga Champions. Lantas Pep melakukan perubahan besar untuk pola permainan, terutama di lini depan.

Kembali memakai penyerang tunggal untuk kejar gelar Liga Champions

Hadirnya Haaland sebagai rekrutan baru untuk musim 2022/23 kemungkinan besar menjadi sebuah perubahan bagi lini serang City. Ditambah, Jesus dan Sterling yang hengkang dari City. Dari penjelasan sebelumnya, secara jelas jika Jesus maupun Sterling merupakan penyerang dengan kemampuan kecepatan dan memiliki kemampuan yang fleksibel bisa ditempatkan di sayap maupun di tengah.

Haaland merupakan sosok striker dengan tipikal poacher, atau sosok pembunuh ketika dirinya mendapatkan bola di kotak penalti lawan. Postur tubuh 1,95 m membuat Haaland menjadi sosok yang ideal dalam bertarung dengan pemain bertahan lawan.

Apalagi, Haaland kini ditopang dengan lini pemain yang memiliki visi dan operan mumpuni, seperti De Bruyne sebagai sosok yang memiliki visi dan final pass yang baik, maupun Cancelo yang memiliki operan silang menusuk ke kotak penalti lawan.


Formasi pola 4-1-4-1

Ini akan mengembalikan kembali era Pep dengan menggunakan striker tunggal atau nomor sembilan di lini serang.

Pola 4-1-4-1 bisa diterapkan kembali oleh Pep dengan Haaland berdiri di depan dan ditopang oleh dua sayap dan dua gelandang serangnya. Di lini pertahanan ada satu gelandang bertahan, dua full back dan dua bek tengah.

Formasi pola 4-2-3-1

Selain pola 4-1-4-1, pola 4-2-3-1 bisa menjadi opsi lain dengan Haaland di depan, satu gelandang serang, dua sayap, satu gelandang sentral dan satu gelandang bertahan di lini tengah. Kemudian di lini pertahanan kembali memasang dua bek tengah dan dua full back.

Formasi pola 3-5-2

Kemudian opsi lain juga bisa diterapkan dengan pola 3-5-2, dengan tiga bek tengah, dua wing back, dan tiga gelandang (dua gelandang serang, satu gelandang bertahan statis atau satu gelandang serang, double pivot). Ini dapat diterapkan karena dua bek sayap City mumpuni dalam membangun serangan maupun bertahan, seperti Cancelo dan Kyle Walker.

Ini merupakan kemungkinan dan prediksi bagaimana Pep membangun musim 2022/23 lebih baik daripada musim sebelumnya. Pep masih berambisi dengan capaian barunya, bukan hanya domestik tetapi di Liga Champions.

Lemari gelar City masih menunggu gelar tersebut, sedangkan Pep sudah satu dekade lebih lamanya tidak mengangkat trofi si telinga besar.

Komentar