Liverpool Superior walau Villarreal Percaya Diri

Analisis

by Febrian Hafizh Muchtamar

Febrian Hafizh Muchtamar

All time poser.

Liverpool Superior walau Villarreal Percaya Diri

Liverpool berhasil tumbangkan Villarreal dengan skor 3-2 dalam leg kedua semifinal Liga Champions pada Rabu (4/5). Bermain di De la Ceramica, Liverpool membalikkan keadaan, setelah tertinggal 2-0 dari Villarreal di paruh pertama.

Kemenangan atas Villarreal, membuat Liverpool melangkah ke final dengan agregat 5-2. Pada leg pertama, The Reds menang 2-0 di Anfield. Villarreal tidak berdaya; hanya sekali menembakkan bola ke arah gawang Liverpool ketika itu.

Tidak seperti di leg pertama, Villarreal punya daya serang yang tinggi di leg kedua. Beberapa kali klub berjuluk The Yellow Submarine menerapkan garis pertahanan tinggi demi meredam agresivitas The Reds. Taktik ini mempersempit ruang antar lini Liverpool untuk bergerak dan distribusi bola.

Villarreal seakan telah belajar dari leg pertama. Mereka menunjukkan bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang. Seandainya Villarreal masih mengadaptasi taktik seraya di leg pertama, mungkin mustahil untuk mencetak dua gol.

Di paruh pertama, anak asuh Unai Emery itu memperlihatkan operan-operan pendek. Villarreal menciptakan 191 operan pendek dan 32 operan jauh dengan persentase kesuksesan 71%. Sementara Liverpool menciptakan operan lebih sedikit dengan persentase akurasi 66%.

Villarreal lebih sering bermain di tengah. Sebanyak 103 operan Villarreal berada di tengah, dan 81 operan Villarreal terjadi di lini pertahanan Liverpool. Meski begitu, Kapal Selam Kuning lebih banyak mendistribusikan bola ke depan dengan 162 operan.

Dengan gempuran terus-menerus, Liverpool harus menerima fakta bahwa Villarreal bisa unggul dua gol di babak pertama. Dua gol itu dicetak Boulaye Dia di menit ketiga dan Francis Coquelin di menit ke-41.

Berawal dari Etienne Capoue yang menyambut umpan silang dari Pervis Estupinan. Capoue bisa mengontrol bola dengan baik, lalu ia melakukan cut inside ke Dia. Dia pun sukses menceploskan bola ke gawang Alisson Becker.

Meski ditekan terus menerus, Liverpool sebenarnya dapat dikatakan efektif meredam agresivitas Villarreal, setidaknya di babak pertama. Dari 12 tekel, Liverpool sukses merebut bola dengan tekel sebanyak delapan kali.

Selain itu, tim yang diarsiteki Juergen Klopp sukses mengintersep bola dari Villarreal sebanyak tujuh kali. Mereka juga menjauhkan bola dari gawang sebanyak 11 kali, selisih empat lebih banyak dengan Villarreal.

Namun, Liverpool tidak bisa mengantisipasi umpan silang. Umpan silang jadi kunci kemenangan Villarreal atas Liverpool di paruh pertama. Meski telah blok tujuh umpan silang, dua umpan silang lainnya berhasil menjadi operan kunci dan asis bagi Villarreal.

Lewat umpan silang Capoue dari sisi kanan, Coquelin sukses menyambut bola. Coquelin berlari dari belakang, sehingga lini pertahanan Liverpool tidak menyadari kedatangannya. Ia pun sundul bola ke gawang Alisson.

Total Villarreal menciptakan lima tembakan; dua menjadi gol, sedangkan dua lainnya tidak tepat sasaran dan satu diblok Liverpool. Sementara The Reds hanya mampu melakukan percobaan tembakan sebanyak dua kali yang tak mengarah ke gawang.

Nasib Liverpool Berubah

Liverpool meningkatkan tensi serangan. Hal itu terlihat dari perbandingan mencolok tembakan The Reds di babak pertama dan kedua. Babak pertama, jumlah tembakan Liverpool sebanyak dua, sedangkan babak kedua sebanyak 13 tendangan.

Masuknya Luis Diaz menggantikan Diogo Jota, menjadi aroma baru bagi Liverpool di babak kedua. Jota ditempatkan sebagai penyerang tengah, tetapi hanya mampu menciptakan satu percobaan tendangan.

Diaz punya agresivitas tinggi. Terlihat dari empat percobaan dribel dan empat percobaan tembakan dari Diaz. Pemain asal Kolombia itu punya daya serang lebih tinggi, karena itu lah yang dibutuhkan Liverpool di babak kedua.

Apalagi Diaz juga yang menyamakan keunggulan untuk Liverpool atas Villarreal. Diaz sukses mengkonversi umpan silang dari Trent Alexander-Arnold menjadi gol. Tandukan Diaz menjebol gawang Geronimo Rulli.

Bahkan bisa dikatakan, Villarreal tidak berkutik dengan tekanan Liverpool. Klopp meminta anak-anaknya untuk menerapkan garis pertahanan tinggi. Hasilnya pun demikian: Villarreal tak mampu menembakkan satupun bola di babak kedua.

Villarreal cukup meningkatkan jumlah umpan silang di babak kedua. Dari sebelumnya lima umpan silang, bertambah tujuh di paruh kedua. Akan tetapi Liverpool juga mampu memenangkan delapan duel udara di daerah pertahanannya.

Hal yang juga membuat Liverpool lebih unggul di babak kedua, adalah akurasi operan. Dari 231 operan, 194 di antaranya berhasil. Itu pula yang membuat The Reds mampu menciptakan 10 operan kunci.

Wajar saja Villarreal takluk dari Liverpool. The Reds tengah dalam ambisi untuk quadruple; menyabet empat gelar sekaligus dalam satu musim. Sejauh ini, Liverpool baru mempersembahkan Piala Liga. Mereka punya harapan besar untuk menyapu sisa gelar, yakni Premier League (posisi kedua), Piala FA (final), dan Liga Champions (final).

Kans Liverpool untuk mengunci empat gelar masih terbuka lebar. Maka ambisi dan harapan itu akan dijaga sebaik mungkin sampai semuanya selesai. Kalaupun tidak mendapatkan keempatnya, tiga pun cukup untuk menyamai rekor sang rival Manchester United yang treble pada 1998/99.

Liverpool Tak Terkalahkan dan Nasib Buruk Villarreal

Mimpi menjadi quadruple terasa nyata di depan mata. Kepercayaan diri skuad asuhan Juergen Klopp tengah tinggi-tingginya. Mereka tak terkalahkan dalam 13 pertandingan terakhir di seluruh kompetisi, memenangi 11 di antaranya.

Di sisi lain, Villarreal gagal mengamankan diri di kompetisi Eropa. Si Kapal Selam Kuning juga kini bertengger di posisi ketujuh LaLiga. Jika ingin mendapat tiket kompetisi tertinggi Eropa musim depan, Villarreal harus menyalip Real Sociedad di sisa empat pertandingan LaLiga.

Belum lagi Villarreal telah tersingkir dari Copa Del Rey dan kalah dari Chelsea di Super Cup pada awal musim. Harapan satu-satunya tim yang ditukangi pelatih Unai Emery adalah Liga Champions; pun telah kandas.

Komentar