Faktor Besar Spontanitas Dalam Deadline Day Bursa Transfer Musim Dingin

Analisis

by Febrian Hafizh Muchtamar

Febrian Hafizh Muchtamar

All time poser.

Faktor Besar Spontanitas Dalam Deadline Day Bursa Transfer Musim Dingin

Bursa transfer musim dingin telah berakhir pada Senin (31/1). Jelang ditutupnya bursa transfer (deadline), beberapa klub malah terlihat lebih sibuk. Padahal, masa jual dan beli pemain dibuka selama kurang lebih satu bulan.

Setiap tenggat waktu bursa transfer, selalu diwarnai dengan drama klub. Entah beli pemain yang tidak disertai rumor, rebutan pemain incaran, ataupun kesepakatan yang berakhir gagal. Semua itu akan selalu terjadi, apabila klub memilih waktu yang mepet.

Dari situ, siapa yang menyangka Dele Alli akan berlabuh ke Everton? Atau Barcelona yang urung melepas Ousmane Dembele? Tidak ada yang tidak mungkin dalam bursa transfer detik-detik akhir di era sepakbola modern ini.

Di samping itu, ada kalanya waktu mepet terjadi atas beberapa hal, yaitu negosiasi dan spontanitas. Negosiasi bukan perkara mudah. Dua pihak antara penjual dan pembeli akan saling memberikan argumen yang mandeg. Entah dari harga yang harus ditebus, bonus ataupun durasi peminjaman. Negosiasi bisa saja menghabiskan waktu hampir sebulan atau satu periode bursa transfer.

Sementara alasan spontan terjadi sebab pemain tiba-tiba cedera, ketidakcocokan dengan pola permainan dan sebagainya. Hal tersebut pun memicu pelatih tim untuk membeli amunisi anyar.

Hingga bursa transfer ditutup, setidaknya terdapat transaksi 119 pemain selama 31 Januari 2022 penuh. Sementara, satu hari sebelumnya terdapat transaksi 30 pemain yang dibeli atau dijual.

Bursa transfer di Januari atau tengah musim, bisa diartikan sebagai perbaikan tim, bukan pembangunan. Artinya, perbaikan bersifat jangka pendek, atau lebih tepatnya hanya berlaku pada sisa paruh musim kedua.

Paruh musim kedua adalah penentuan nasib setiap klub, biasanya berlaku dari papan tengah sampai zona degradasi. Papan tengah berusaha mengamankan tiket Liga Champions, atau jikalau kandas, mereka masih punya kesempatan di Liga Eropa.

Sementara klub papan bawah berjuang agar tidak tenggelam di zona degradasi. Namun, perjuangan mereka merangkak ke atas, terhalang dengan klub yang juga berusaha tidak masuk zona degradasi.

Demi mewujudkan hal di atas, pembaharuan amunisi pemain jadi salah satu cara. Instan memang, tapi mengejar ketertinggalan dengan waktu setengah musim, butuh cara yang cepat. Namun situasi ini akan berbeda saat musim belum dimulai.

Sebelum musim berjalan, klub punya waktu panjang untuk membangun kekuatan. Pembangunan tim bersifat jangka panjang atau paling pendek satu musim. Pembangunan akan berfokus pada peningkatan performa pemain lama atau perekrutan pemain baru, dari klub maupun akademi sendiri.

Mengingat pembangunan bersifat jangka panjang, para pemain rekrutan atau pemain lama bisa menjalani pra-musim. Pra-musim bertujuan membangun ikatan pemain dan memastikan pola permainan bisa berjalan ketika musim dimulai. Jika seandainya belum cocok atau cedera, pemain lama bisa dilepas.

Resiko Beli Tenggat Waktu

Aktivitas transfer pada tenggat waktu acap kali tidak melihat sisi risiko yang akan terjadi. Padahal, jika terburu-buru hanyut dalam drama tenggat waktu, bisa berbuntut pada risiko finansial, kesehatan pemain, kultural dan registrasi.

Bursa transfer jeda musim dibuka kurang lebih selama satu bulan. Dalam satu bulan, setiap klub bisa melakukan proses negosiasi untuk membeli pemain incaran atau menjual pemain lamanya. Namun dalam prosesnya, negosiasi bisa saja alot atau buntu, sehingga mau tidak mau menggelontorkan uang lebih untuk membeli pemain di waktu akhir.

Bahkan jika aktivitas beli pemain sebuah klub berlebihan, bisa saja terjerat hukuman Financial Fair Play (FFP). FFP adalah aturan belanja pemain sesuai pemasukan klub. Jika pemasukan klub lebih kecil dibandingkan pengeluaran, bisa terjerat FFP.

Selain itu, belanja dalam tenggat waktu bisa mengabaikan kesehatan seorang pemain. Pengecekan kesehatan pemain secara medis butuh waktu. Sebelum proses pengecekan kesehatan, pemain harus mempersiapkan dengan matang. Jadi, seandainya berminat meminang pemain, sudah paham dengan kondisi kesehatannya.

Saksikan video selengkapnya tentang rekap bursa transfer musim dingin Eropa di sini!

Cepat atau lambat, pindah dari satu klub ke klub lain, akan terjadi kepada setiap pemain. Entah mereka tidak terpakai dengan klub yang sekarang, lalu akhirnya dijual. Atau sang pemain sangat bagus sehingga menarik perhatian klub lain.

Kedua alasan tadi pasti akan terjadi. Namun yang pasti, kepindahan seorang pemain bisa mendobrak kultur klub baru di dalam dan di luar lapangan. Misalnya, seorang pemain Inggris berlabuh ke Spanyol, tentu ada perbedaan kebiasaan yang akan terasa.

Aktivitas transfer tenggat waktu, bisa memotong waktu adaptasi pemain terhadap kultur di klub atau negara baru. Terlebih lagi, jarak tanding dengan berakhirnya bursa transfer jeda musim sangat berdekatan.

Belum lagi apabila sang pemain terjegal cup tied. Artinya, jika pemain sudah didaftarkan oleh klub lamanya untuk bermain di Liga Champions atau Liga Eropa, pemain tidak bisa bermain untuk klub barunya. Hal tersebut pernah terjadi kepada Andrey Arshavin dari Zenit St. Petersburg ke Arsenal.

Sibuk di tenggat akhir bursa transfer, lumrah terjadi. Setiap klub punya perkara masing-masing saat belanja pemain. Entah itu karena negosiasi yang memakan waktu atau sampai harus membeli pemain secara spontan.

Sebagai penikmat sepakbola, kita bisa saja menilai klub-klub malas bergerak di awal bursa transfer. Namun yang jelas, kita pun menikmati setiap kejutan yang terjadi di tenggat waktu bursa transfer.

Komentar