Butuh Lebih dari Sekedar Kompetisi

Analisis

by Adrianus Eduard Johanes

Adrianus Eduard Johanes

"Losing my religion to football"

Butuh Lebih dari Sekedar Kompetisi

Tim Nasional Putri Indonesia pulang dari AFC Women’s Cup (Piala Asia Wanita) 2022 tanpa berhasil mengemas satu pun poin di India. Jangankan poin, gol saja tak bisa dihasilkan Zahra Muzdalifah dan kawan-kawan. Sementara 28 gol justru bersarang di gawang Indonesia. Sebanyak 18 gol diantaranya dicetak Australia yang memberikan Garuda Pertiwi kekalahan terbesar sepanjang sejarah tim nasional.

Sepanjang turnamen, Indonesia selalu diingatkan bahwa Piala Asia 2022 adalah soal pengalaman dan pelajaran. Nakhoda Timnasita, Rudy Eka Priyambada, juga menekankan hal yang sama. “Turnamen ini merupakan tempat kami belajar. Kami ingin menggunakan kesempatan ini untuk membentuk tim muda yang ada,” katanya seperti dikutip situs resmi AFC.

Tergabung di Grup B, bersama Australia, Thailand, dan Filipina, Garuda Pertiwi memang merupakan kesebelasan paling lemah. Australia dan Thailand terdaftar di 50 besar peringkat FIFA, sedangkan Filipina menduduki posisi ke-64. Lalu di mana Indonesia berada? Jawabannya ada di 30 anak tangga dari Malditas -julukan Filipina-.

Meski demikian, gaya permainan Indonesia bukanlah seperti tim yang tak diunggulkan. Hampir selalu membangun serangan dari belakang, memainkan bola-bola pendek untuk naik ke daerah pertahanan lawan dan sering berduel sambil menggiring bola.

Di era sepakbola modern, gaya permainan seperti itu biasanya diterapkan oleh kesebelasan-kesebelasan unggulan. Bukan mereka yang paling lemah di antara peserta-peserta lainnya, seperti Indonesia. Gaya permainan yang dipilih Rudy Eka pada akhirnya mengekspos kelemahan utama Garuda Pertiwi: Pola menyerang.

Selain hal-hal mendasar seperti akurasi operan, kontrol bola dan tingkat konsentrasi -yang bukan hanya jadi titik lemah tim nasional putri tapi juga putra-, Garuda Pertiwi seperti bermain tanpa pola ketika menyerang.

Dalam permainan yang mengandalkan bola-bola pendek untuk membangun serangan, segitiga antar pemain menjadi hal mendasar yang krusial. Segitiga tersebut menentukan jalur bola dan opsi rekan yang sedang terbuka untuk melanjutkan serangan.

Tanpa adanya segitiga antar pemain, sosok yang menguasai bola pun kebingungan harus melepas operan ke mana. Sementara pemain lain tidak punya arahan yang jelas harus melakukan pergerakan tanpa bola ke mana.

Selama Piala Asia 2022, itulah yang terjadi kepada Garuda Pertiwi. Para pemain lebih banyak mengoper bola ke pemain terdekat yang mereka lihat, sehingga mudah terbaca oleh lawan. Ketika operan mereka sudah terlalu sering dipotong, pada akhirnya muncul upaya untuk melewati lawan dengan giringan karena tidak tahu harus melepas bola ke mana. Upaya itu pun juga lebih sering gagal.

Hal yang Paling Bisa Dibela Dari Permainan Tim Nasional Indonesia Putri

Dari segi pertahanan, Garuda Pertiwi tidaklah begitu buruk. Mereka memang kebobolan 28 kali sepanjang fase grup. Hanya saja dari semua gol yang bersarang di gawang Indonesia, hanya empat berasal dari kesalahan pemain (error lead to goal). Dari empat kesalahan itu, dua kali merupakan pelanggaran yang pada akhirnya menghasilkan penalti untuk lawan.

Sisanya, berawal dari serangan yang dibangun sendiri oleh lawan. Entah itu setelah memotong serangan Indonesia sebelum masuk daerah mereka atau dibangun dari belakang secara perlahan dan kalkulatif.

Per 28 Januari 2022, Indonesia bahkan tercatat sebagai tim dengan jumlah sapuan paling banyak sepanjang turnamen (100). Beberapa sapuan itu juga sempat membuat Indonesia berhasil mendapatkan kesempatan untuk masuk ke daerah lawan.

Namun karena sepanjang turnamen Garuda Pertiwi mengandalkan bola-bola pendek untuk membangun serangan melawan tim yang lebih berpengalaman, mereka pun kesulitan untuk keluar dari daerah sendiri. Justru berhasil ditekan, dipotong, dan dibobol dengan lebih mudah.

Sangat Membutuhkan Jam Terbang Tinggi

Berbagai kekurangan Garuda Pertiwi sebenarnya bisa diperbaiki dengan jam terbang dan kompetisi. Baik itu masalah akurasi operan, kemampuan mengontrol bola, hingga cara membangun serangan, semua bisa diatasi dengan jam terbang dan kompetisi. Seperti sebuah ungkapan klasik: Bisa karena terbiasa.

Jika Piala Asia 2022 benar dijadikan tempat untuk belajar dan mendapatkan pengalaman, seharusnya PSSI sebagai asosiasi tertinggi sepakbola di Indonesia, sadar akan hal itu.

Australia dipenuhi pemain-pemain yang sudah berpengalaman di Eropa. Thailand dibekali dua divisi nasional yang berhasil membawa mereka lolos ke Piala Dunia. Filipina meski dipenuhi pemain-pemain keturunan yang main di Amerika Serikat juga punya liga perempuan di negara mereka. Liga sepakbola perempuan Filipina juga menyumbang enam pemain ke dalam skuad Piala AFC 2022.

Masalahnya kemudian, setelah melihat peta kekuatan sepakbola perempuan di Asia, Indonesia butuh lebih dari sekedar kompetisi. Dibutuhkan komitmen dari PSSI dan para anggotanya, termasuk klub untuk serius membangun sepakbola perempuan. Membangun fondasi lagi dari level pembinaan sampai profesional. Tidak hanya membuat kompetisi untuk memudahkan penjaringan pemain ke tim nasional.

Pasalnya, jika kompetisi diadakan hanya demi memudahkan pemilihan pemain dan memberikan kesempatan kepada talenta-talenta yang ada untuk mendapat jam terbang, tidak butuh waktu lama hingga akhirnya para pemilik kekuasaan sadar bahwa ada cara yang lebih mudah dan murah untuk membentuk tim nasional: Pekan Olahraga Nasional (PON), turnamen-turnamen mini, mengambil pemain dari cabang lain seperti futsal, tidak beda dengan kondisi sekarang.

Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali sempat mengapresiasi PSSI terkait kesetaraan gender saat mereka memperkenalkan tim nasional putri yang disiapkan untuk SEA Games 2021. “Sekarang eranya untuk serius mendorong kesetaraan gender, termasuk sepak bola. Apresiasi kepada PSSI yang benar-benar menampilkan kesetaraan gender," katanya seperti dikutip dari situs Kemenpora.

Hampir setahun berlalu, kesetaraan tersebut masih sekedar ilusi publikasi. Sepakbola perempuan di Indonesia hampir tiga tahun tanpa kompetisi. Ketika ada pun seperti tidak difasilitasi. Bermain dua hari sekali tanpa waktu bagi para pemain memulihkan diri, dan PSSI hanya sukses meyakinkan satu sponsor untuk melakukan investasi.

Jika terus seperti ini, jangan harap Garuda Pertiwi bisa terbang tinggi.

Komentar