Tiga Klub Liga 1 2021/2022 Paling Aktif di Jeda Bursa Transfer

Analisis

by Febrian Hafizh Muchtamar

Febrian Hafizh Muchtamar

All time poser.

Tiga Klub Liga 1 2021/2022 Paling Aktif di Jeda Bursa Transfer

Bursa transfer jeda musim Liga Indonesia resmi ditutup pada Rabu (12/1). Sejumlah klub sibuk menambah materi pemain demi keberhasilan seri kedua Liga 1 2021-2022. Dari 18 klub, tiga diantaranya merekrut lebih dari 10 pemain, sebut saja PSS Sleman, PSM Makassar dan Persiraja Banda Aceh.

Selama bursa transfer, PSS menambah amunisi 14 pemain dan melepas tujuh pemain. Sementara PSM merekrut 13 pemain dan melepas 14 pemain. Persiraja menjadi klub paling produktif dengan membeli 20 pemain serta melepas 12 pemain.

Dalam skala bursa transfer jeda musim, perbaikan tim adalah hal yang utama, bukan pembangunan. Pembangunan sebuah kesebelasan dilakukan saat musim selesai di pertengahan tahun. Para pemain yang direkrut dari klub lain maupun hasil akademi sendiri, dilibatkan dalam pra-musim. Saat itulah setiap kesebelasan sepakbola berpotensi besar untuk memaksimalkan pembangunan skuadnya.

Sementara perbaikan klub bersifat jangka pendek ingin mengejar ketertinggalan dengan cara instan. Wajar ketiga klub Liga 1 yang paling sibuk merekrut pemain, bukan berada di klasemen lima besar sementara. Setidaknya per hari ini, PSS berada di peringkat ke-10, PSM ke-11 dan Persiraja yang menjadi juru kunci.

Pertaruhan PSS Sleman Melepas Irfan Jaya

PSS dengan berani melepas Irfan Jaya ke Bali United. Padahal Irfan punya rekam jejak yang apik dalam setengah musim kemarin dengan cetak enam gol dan tiga asis. Torehannya itu merupakan yang terbanyak di PSS. Pencetak gol yang menyamai Irfan hanya Juninho. Sedangkan daftar penyumbang asis, cuma disamai Nemanja Kojic.

Irfan juga menjadi pilihan utama Timnas Indonesia di Piala AFF 2020. Berposisi sebagai sayap kanan, pemain berusia 26 tahun itu bukukan tiga gol dalam enam penampilannya.

Sebagai gantinya, PSS merekrut Eeng Supriyadi dari Persiraja. Debut bersama PSS sebagai pemain sayap, Supriyadi langsung menorehkan satu gol dan satu asis. Penampilan apiknya membantu PSS mengambil tiga poin dari Persiraja.

Selain Supriyadi, PSS juga mendapatkan Wander Luiz yang sebelumnya merupakan penyerang Persib Bandung. Selama memperkuat Maung Bandung di paruh musim kemarin, Wander selalu masuk susunan 11 pertama dan bermain penuh yang menghasilkan enam gol dan satu asis.

Pembelian Wander tentu bisa menempati posisi penyerang yang kosong selepas ditinggal Nemanja Kojic. Punya postur tubuh 185 cm, Kojic cuma membukukan tiga gol dan satu asis.

Selain itu, pemain yang membantu Persija Jakarta juara Liga 1 dan Piala Menpora 2021, Ramdani Lestaluhu berlabuh ke PSS. Tujuh musim memperkuat Macan Kemayoran, ia akhirnya tersingkir akibat kedatangan Syahrian Abimanyu, Makan Konate dan Ahmad Bustomi di lini tengah. Namun bagi PSS, Ramdani punya segudang pengalaman yang bisa membantu Sleman berjaya di paruh musim kedua.

Sejauh ini, baru Eeng saja yang sudah menunjukkan dampak dari bursa transfer PSS, meskipun ditunjukkan ketika melawan kesebelasan juru kunci. Namun Eeng justru tidak bisa berbuat banyak ketika laga selanjutnya saat dikalahkan Arema FC dengan skor 2-0. Apalagi Wander yang gagal mencetak gol pada laga tersebut.

Penyerang asal Brasil itu justru tidak berkutik ketika menghadapi deretan lini belakang Arema. Padahal Arema tidak diperkuat dua pemain asing andalannya di lini sepertiga akhir pertahanannya, yaitu Adilson Maringa dan Sergio Silva. Wander seperti tidak mendapatkan suplai-suplai dari lini tengah PSS.

Akselerasi sayap yang sering dilakukan Irfan saat masih membela PSS, seolah hilang. Beberapa aliran bola PSS sering dihentikan oleh kedua bek sayap Arema, Ahmad Alfarizi dan Diego Michiels yang bertransisi bertahan dengan baik. Sementara itu, kiprah Ramdhani belum terlihat karena belum dimainkan oleh I Putu Gede selaku Pelatih PSS saat ini.

Melihat kekalahan duel di lini sayap PSS melawan Arema, mungkin akan membuat para pendukungnya sedikit merindukan Irfan. Di sisi lain, Ramdhani diharapkan menjadi partner yang baik bagi Juninho di lini tengah PSS.

Demi Meningkatkan Produktivitas PSM Makassar di Lini Depan

Berada satu tingkat klasemen di bawah PSS, PSM Makassar merekrut 13 pemain. Ferdinand Sinaga, Adam Mitter, Marinus Wanewar, Delfin Rumbino, Manda Cingi, Ganjar Mukti, Aditya Putra Dewa, Utam Rusdiana, Abu Rizal Maulana, Dallen Doke, Julyano Pratama, dan Rafly Asrul adalah sederet nama yang berlabuh ke PSM.

Nama yang tidak asing adalah Ferdinand yang baru berhasil membantu Persis Solo promosi ke Liga 1 2022. Ferdinand sendiri merupakan pemain andalan PSM pada 2016-2017 dan 2018-2020. Bersama Marinus, diharapkan Ferdinand bisa membantu produktivitas gol PSM yang cuma mencetak 20 gol dari 18 pertandingan. Torehan gol itu kalah dari Madura United (21 gol) dan Persikabo Bogor (28 gol) yang secara peringkat di bawah PSM.

Sejauh ini, PSM mengandalkan Anco Jansen sebagai ujung tombak PSM dalam formasi 4-3-3 maupun 4-2-3-1. Namun produktivitas Anco sendiri tidak terlalu moncer karena pola permainannya di lini depan lebih condong mencari ruang. Penyerang asal Belanda itu lebih sering terlihat turun ke tengah maupun sayap untuk membagi bola.

Bola yang dialirkannya lebih sering dikirim ke sisi lapangan atau half-space ketika sayap PSM masuk ke area tersebut. Tapi Anco terlihat sering gagal melepaskan peluang untuk mencetak gol. Buktinya, tiga dari lima gol yang ditorehkannya dari 16 pertandingan dicetaknya melalui titik putih. Peluang Anco yang memiliki tinggi 186 cm lewat sepak pojok pun tidak didapatkannya karena ialah eksekutor proses bola mati tersebut.

Sementara di sektor belakang, PSM mendatangkan Adam Mitter. Bek asal Inggris itu membela Persita Tangerang di paruh musim kemarin. Namun, ia lebih sering menepi lantaran dirundung cedera. Tentunya ini menjadi anomali ketika PSM melepaskan Serif Hasic dengan risiko digantikan pemain yang dirundung cedera.

Penyegaran pemain di PSM tentunya wajar, mengingat mereka mendapat satu slot AFC 2022 berkat menjuarai Piala Indonesia 2019. Selain PSM, Bali United juga akan tampil di turnamen se-Asia tersebut usai menjadi kampiun Liga 1 2018-2019.

“Pemain-pemain yang datang ini akan bersama-sama kami mengarungi ketatnya putaran kedua Liga 1 2021-2022, dan Insyaallah juga akan bersama-sama kami berjuang di Piala AFC 2022," ungkap Direktur Utama PSM, Munafri Arifuddin dikutip dari laman klub.

Persiraja Banda Aceh Disokong Pemain-pemain PON

Persiraja menjadi klub paling boros pada jeda bursa transfer musim ini. Setidaknya, mereka merekrut 20 pemain yang di antaranya cukup familiar di Liga 1, seperti Andika Kurniawan, Arrya Geryan, Brian Ferreira, Dedi Hartono, Jabar Sharza dan lainnya. Persiraja juga mempromosikan banyak pemain skuat PON Aceh 2020 yang menjadi runner-up pada kejuaraan tersebut.

Para pemain jebolan PON yang mencapai final PON 2020 itu diharapkan bisa membawa angin segar untuk skuad Persiraja saat ini. Energi-energi muda inilah yang membuat Persiraja pun tidak segan untuk melepas M Roby yang merupakan pemain senior berkaliber nasional.

Selain mendatangkan banyak pemain, Persiraja juga mendatangkan Sergio Alexandre sebagai pelatih barunya. Bukan tanpa alasan, sebab klub asal Aceh tersebut menjalani tren buruk di Liga 1 ketika masih dilatih Hendri Susilo maupun kepada Akhar Ilyas sebagai caretaker.

Selama putaran pertama, Persiraja tampil 18 kali dan hanya memetik satu kemenangan. Selain itu, mereka juga termasuk kesebelasan yang sering kebobolan dengan 44 gol. Mereka pun hanya meraih enam poin dan menjadi juru kunci berkat kegagalan di putaran pertama.

Buruknya perjalanan Persiraja, menimbulkan kekecewaan Presiden klub, Nazaruddin Dek Gam. “Saya tidak diam, saya juga merasakan rasa kecewa itu. Namun, saya tidak bisa berbuat banyak karena belum dibuka pendaftaran pemain baru. Nah, sekarang saatnya kami berbenah. Ayo dukung Persiraja,” serunya kepada Kumparan.

Menurut Nazaruddin, pemain Persiraja dihantam badai cedera di tengah kompetisi, sehingga tidak bisa merekrut pemain baru. Mau tidak mau beberapa pemain dipaksa merumput bukan di posisi aslinya.

Misi Persiraja tentu akan sulit jika ingin pergi dari dasar klasemen. Kesebelasan berjuluk Laskar Rencong ini harus mengejar sembilan poin dari Barito Putera dan Persela Lamongan. Atau proses perekrutan Persiraja dengan skuat PON Aceh merupakan sebuah pilot project regenerasi Persiraja untuk jangka panjang?

Namun yang jelas bahwa pemain dengan mental minim pengalaman akan sulit menyelamatkan sebuah kesebelasan dari degradasi. Sebab mengangkat moral skuad yang sedang terpuruk tidaklah mudah. Toh, skuad juara pun membutuhkan kepemimpinan pemain senior juga, bukan?

Komentar