Final Liga Champions: Arena Pembuktian 2 Bintang Masa Depan Inggris

Analisis

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Final Liga Champions: Arena Pembuktian 2 Bintang Masa Depan Inggris

Dua klub asal Inggris akan bertemu di final Liga Champions pada Minggu (30/5/2021) dini hari waktu Indonesia. Partai Manchester City vs Chelsea digelar di Estadio do Dragao, Porto. Ini adalah final Liga Champions kedua yang mempertemukan klub Inggris dalam tiga tahun terakhir, setelah Liverpool vs Tottenham pada 2019 silam.

Dua klub ini kebetulan memiliki bintang muda berkebangsaan Inggris yang tampil impresif sepanjang 2020/21. Keduanya juga berposisi natural sebagai gelandang serang. Mereka adalah Phil Foden dan Mason Mount.

Foden yang genap berusia 21 tahun satu hari sebelum final, mulai mendapat banyak kesempatan bermain pada musim ini. Pep Guardiola mengagumi talenta sang pemain sejak dulu, tetapi ia amat berhati-hati dalam mempromosikannya. Sejak mendapat debut pada 2016, Foden baru bermain dalam 74 pertandingan hingga akhir 2019/20, 32 sebagai starter. Pada 2020/21, Foden telah memainkan 49 pertandingan (semua kompetisi), 35 kali menjadi starter dengan jumlah menit bermain mencapai 3.288 menit.

Sementara itu, Mount menapaki jalan karier yang berbeda dari Foden. Jika Foden terus dibina di Etihad, Mount mesti melalui dua kali masa peminjaman; pertama ke Vitesse Arnhem, kemudian Derby County.

Gelandang kelahiran Portsmouth itu juga dipromosikan lebih dulu ke tim utama Chelsea dibanding Foden. Di Premier League 2019/20, Mount menjadi bagian penting anak asuh Frank Lampard, bermain dalam 37 pertandingan liga.

Baik Foden maupun Mount dapat menjadi pembeda ketika Man City vs Chelsea bersua di final Liga Champions. Keduanya memiliki kemampuan teknis mumpuni, berperan penting dalam skema tim, serta mampu mengatasi tekanan untuk tampil maksimal di partai akbar.

Baca juga: Sancho dan Foden, Bukti Kemegahan Akademi Manchester City

Lalu, bagaimana perbandingan dua pemain di atas? Keduanya sama-sama berposisi sebagai gelandang serang dan sering beroperasi di sayap kiri. Namun, juga terdapat perbedaan dalam kecenderungan permainan Mount dan Foden.

Jika meninjau produk akhir, Foden lebih bersinar. Pemain kelahiran Stockport, Greater Manchester ini mengemas 16 gol dan 10 asis di semua kompetisi pada 2020/21. Dalam hal gol, hanya Ilkay Guendogan (17) yang melampaui Foden di antara skuad City. Sedangkan untuk asis, Kevin De Bruyne (18) adalah satu-satunya pemain dengan torehan lebih banyak.



Sementara itu, Mount total mengemas sembilan gol dan tujuh asis dari 53 pertandingan. Di skuad Chelsea, torehan golnya diungguli oleh Olivier Giroud (11), Tammy Abraham (12), dan Timo Werner (12). Untuk asis, Mount hanya kalah dari Timo Werner (12). Ia menorehkan jumlah asis yang sama dengan Kai Havertz dan Ben Chilwell.

Foden mencetak gol dalam dua pertandingan terkini lawan Brighton & Hove Albion dan Everton. Di perempat final Liga Champions, ia mencetak dua gol krusial yang membawa The Citizens mengungguli Borussia Dortmund.

Baca juga: Super Mason Mount

Jebolan akademi Man City tersebut mencetak gol pemungkas pada leg pertama. Di Signal Iduna Park, kedudukan 1-1 ketika Foden menerima bola dari skema tendangan pojok pendek di sisi kanan. Dari luar kotak penalti, ia mengirim tembakan deras yang akurat menyasar sudut gawang. Pada leg kedua, Foden kembali mencetak gol pemungkas setelah diberi umpan oleh Guendogan di area kiper.

Pertandingan lawan Dortmund menunjukkan bahwa Foden kapabel mengeksekusi tembakan jarak jauh yang mengancam. Pergerakannya yang gesit pun menjadi ujian serius bagi bek sayap dan gelandang bertahan lawan. Foden sering merangsek ke sisi kanan kotak penalti dan mengirim umpan cut-back atau menembak dari sana.

“Phil telah menjadi salah satu pemain inti kami sepanjang musim ini. Dia bekerja dengan sangat baik, meningkat dalam banyak detail dalam permainannya, terutama dalam hal pengambilan keputusan pada saat krusial. Bagi pemain semuda itu, ia sangat impresif,” kata Ilkay Guendogan menanggapi perkembangan juniornya.

Mount memang kalah telak dalam hal produk akhir. Namun, bukan berarti ia tak memiliki kualitas ofensif mumpuni. Gelandang berusia 22 tahun ini justru sangat berpengaruh dalam konstruksi serangan Chelsea.

Baca juga: Mason Mount, Gelandang Pekerja Keras yang Kurang Diapresiasi

Di antara skuad The Blues, Mount menjadi pemain dengan frekuensi umpan kunci tertinggi kedua (2,50 per pertandingan) setelah Ziyezh (2,54). Eks Derby County ini juga mencatatkan 4,62 aksi berbuah tembakan per pertandingan, hanya kalah dari Ziyech. Ini menunjukkan bahwa Mount sangat aktif dalam sekuens pergerakan Chelsea yang membuahkan peluang.

Selain itu, yang membedakan Mount dan Foden musim ini adalah, nama pertama diberi tanggung jawab defensif yang lebih besar. Thomas Tuchel memanfaatkan work rate tinggi Mount untuk menutup lini tengah dan menjadi poin penting dalam skema pressing Chelsea.



Jika meninjau heat map kedua pemain, Mount menguasai area yang lebih luas dibanding Foden. Lulusan akademi Chelsea tersebut juga lebih sering turun membantu pertahanan. Statistik touches, pressing, dan tekel Mount menunjukkan bahwa ia sering turun ke lini tengah dan sepertiga pertahanan. Sedangkan Foden cenderung beroperasi di sepertiga akhir.

Karakter permainan Mount membuatnya bisa mengambil peran fleksibel di lini tengah. Pemain bernomor punggung 19 ini berperan penting baik dalam fase menyerang, bertahan, maupun transisi.

“Dia [Mount] punya paket lengkap, secara mental, dalam hal talenta, dan secara fisik. Dan yang paling penting adalah karakternya. Dia selalu menapak tanah [tidak besar kepala] dan dia adalah seorang pemuda yang baik,” kata Tuchel dikutip Sports Illustrated.

Meskipun diberi peran berbeda di masing-masing klub, baik Foden maupun Mount sama-sama berbahaya jika menerima bola di sepertiga akhir. Secara individual, mereka memiliki kemampuan teknis untuk melewati pemain bertahan. Persentase dribel sukses dua pemain ini hampir sama, yakni 63,5% (Mount) dan 60,6% (Foden). Keduanya juga mencatatkan frekuensi menggiring bola yang tinggi.

Bedanya, Foden lebih sering membawa bola hingga kotak penalti. Sedangkan Mount biasanya berhenti di sepertiga akhir, berupaya menggulirkan bola ke pemain yang bertugas menyerang kotak penalti seperti Timo Werner atau Christian Pulisic.

Apabila melihat karakter permainan keduanya, Mount dan Foden tentu bisa bekerja sama di level tim nasional. Kehadiran mereka adalah berkah bagi The Three Lions. Dua pemain sama-sama meraih titel pemain terbaik, masing-masing di Piala Dunia U-17 dan Piala Eropa U-19, pada 2017 silam. Mampukah mereka bersinar di level senior?

Akan tetapi, sebelum menanti kerja sama mereka di Piala Eropa 2020, Mount dan Foden mesti berhadapan memperebutkan trofi Liga Champions. Partai Manchester City vs Chelsea akan menjadi pertandingan bersejarah bagi salah dua bakat terbaik Inggris.

Komentar