Roberto De Zerbi: Pelatih Berbakat, Sutradara I Neroverdi

Analisis

by Ikhsan Abdul Hakim Pilihan

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Roberto De Zerbi: Pelatih Berbakat, Sutradara I Neroverdi

Selain Atalanta, Sassuolo merupakan tim kuda hitam yang memainkan sepakbola paling menarik di Serie A. I Neroverdi menghadapi liga dengan berani, setia dengan permainan berbasis penguasaan bola dan build-up dari belakang melawan siapa pun. Hingga giornata 33, pendekatan tersebut membawa mereka ke peringkat delapan, terpaut tiga poin dari zona UEFA Conference League.

Sang pelatih, Roberto De Zerbi, adalah otak di balik permainan ekspansif Sassuolo. Di Stadion Mapei, ia menegaskan statusnya sebagai pelatih berbakat Italia yang idealis.

Sejak menggantikan Giuseppe Iachini pada 2018, De Zerbi mengembalikan status Sassuolo sebagai tim kecil yang mampu bicara banyak. Setelah finis di peringkat 11 pada musim debut, pelatih berusia 41 tahun itu membawa I Neroverdi ke peringkat delapan pada 2019/20.

Ia memang belum mampu menyamai capaian Eusebio Di Francesco yang membawa Sassuolo ke peringkat enam dan lolos ke Europa League. Namun, De Zerbi menerima pujian secara luas karena visi kepelatihannya. Keberhasilannya mengimplementasikan sepakbola menyerang dan memoles kemampuan pemain menimbulkan sensasi tersendiri.

Josep Guardiola bahkan memujinya. Pelatih Manchester City itu menyanjung gaya bermain yang diimplementasikan De Zerbi. “Jika saya melihat Sassuolo di Serie A, saya merasa mereka adalah tim positif yang sangat berpikiran-menyerang,” kata Pep pada Okotber 2020 lalu.

Mengundang dan Memintas Pressing via Umpan-umpan Pendek

Di Serie A 2020/21, Sassuolo merupakan tim dengan catatan penguasaan bola tertinggi (60,5%). Catatan ini adalah konsekuensi dari permainan sabar mereka yang mengandalkan umpan-umpan pendek dan rotasi posisi.

I Neroverdi pun menjadi tim dengan frekuensi umpan tertinggi kedua di Serie A dengan akurasi mencapai 86,6%. Sassuolo mencatatkan jumlah umpan pendek terbanyak dengan akurasi 92%. Mereka juga mencatatkan jumlah umpan medium (umpan yang melintas 15-30 yard) terbanyak kedua.

Sebaliknya, Sassuolo sangat jarang mencoba umpan jauh. Di Serie A 2020/21, mereka adalah tim dengan percobaan umpan jauh paling sedikit.

Statistik umpan Sassuolo amat kontras. Hal ini menunjukkan idealisme Domenico Beradi dkk dan kepiawaian mereka mengeksekusinya. I Neroverdi setia menggulirkan bola secara bertahap dan bersikeras menghindari umpan jauh.

Musim ini, De Zerbi masih mengandalkan formasi 4-2-3-1 untuk mengeksekusi taktiknya. Terkadang, ia mengubah formasi menjadi 3-4-3, tergantung ketersediaan personel.

Di Sassuolo, De Zerbi menginstruksikan timnya untuk membangun serangan dengan sabar dari lini belakang. Empat bek terlibat aktif dalam build-up, menyirkulasikan bola di antara mereka. Dua pivot lini tengah, biasanya Manuel Locatelli dan Maxime Lopez, aktif membantu lini belakang di fase ini.

Dua gelandang hadir untuk menambah opsi umpan bagi lini belakang. Mereka juga menjadi kunci progresi bola ke sepertiga akhir.

Skema ini diniatkan untuk mengundang lawan melakukan pressing ke lini belakang. Jika lawan menekan di area tinggi, maka gap akan tercipta di belakang lini pressing. Para pemain berupaya mengeksploitasi ruang yang terbuka dengan umpan-umpan pendek yang dipadukan dengan pergerakan pemain.

Para pemain Sassuolo pun mengeksusi gagasan tersebut dengan baik. Bek-bek I Neroverdi mencatatkan frekuensi umpan yang cukup tinggi. Pemain belakang Sassuolo, baik pelapis atau bek inti, mencatatkan rata-rata umpan mulai dari 53,4 hingga 82 per pertandingan.

Ketika lini pressing sudah dipintas, Sassuolo akan berupaya mengumpan ke empat pemain depan mereka. Eks pemain AC Milan, Manuel Locatelli berperan penting dalam fase ini. Ia mencatatkan rata-rata umpan ke sepertiga akhir tertinggi (8,3 per pertandingan) di skuad Sassuolo. Tandem Locatelli, Maxime Lopez juga menorehkan rerata umpan ke sepertiga akhir tertinggi kedua (6,97 per pertandingan).

Empat pemain depan, biasa terdiri dari Francesco Caputo, Filip Djuricic, Domenico Berardi, dan Jeremie Boga atau Hamed Traore menjadi andalan Sassuolo untuk mencetak gol. I Neroverdi mengandalkan empat peman ini untuk menggulirkan bola ke kotak penalti lawan.

Peran dua penyerang sayap amat berpengaruh dalam permainan Sassuolo. Saat tim memulai build-up, dua penyerang sayap diandalkan untuk menjaga kelebaran. Namun, ketika mereka memasuki fase menyerang, Berardi dan Boga cenderung berperan seperti inverted winger. Pemain sayap Sassuolo cenderung bergerak ke tengah, berkombinasi dengan dua pemain lain untuk menggulirkan bola ke kotak penalti.

Pemain sayap Sassuolo juga memiliki kualitas individual yang mumpuni. Berardi, Boga, atau Traore adalah penyerang berdaya eksplosif. Pergerakan mereka lincah dan rentan menarik bek keluar dari posisinya.

Kendati sering menggulirkan bola ke sayap, Sassuolo tak mengandalkan umpan silang untuk membuat peluang. Catatan umpan silang mereka terendah ketiga di Serie A 2020/21. I Neroverdi cenderung berupaya membuka ruang di kotak penalti dengan umpan pendek dan pergerakan aktif para penyerang.

Di pos no. 10, Filip Djuricic pun mampu menjadi outlet kreatif mematikan. Ia mencatatkan rata-rata 2,39 umpan kunci per pertandingan. Musim ini, pemain asal Serbia itu memang baru mengemas empat asis di Serie A. Namun, nilai statistik umpan ke kotak penalti (2,07 per pertandingan) dan aksi berbuah tembakan (4,79 per pertandingan) menunjukkan bahwa ia tampil efektif dalam upaya Sassuolo membuat peluang berbahaya.

Musim ini, empat pemain depan Sassuolo merupakan andalan tim untuk mencetak gol. Berardi, Caputo, Boga, dan Djuricic telah menyumbang 33 dari 55 gol Serie A Sassuolo. Sedangkan penyerang pelapis seperti Giacomo Raspadori, Hamed Traore, dan Gregoire Defrel total menyumbang 11 gol.

Di lain sisi, pendekatan Sassuolo yang fokus menyerang meninggalkan lubang di belakang. I Neroverdi rentan terekspos oleh serangan balik.

Saat menyerang, De Zerbi menginstruksikan dua gelandang dan full-back untuk menyokong serangan. Mereka harus bekerja keras untuk mengantisipasi serangan balik jika timnya kehilangan bola.

Di Serie A 2020/21, Sassuolo mencatatkan rekor defensif yang tidak terlalu baik akibat komitmen menyerang mereka. Hingga giornata 33, mereka telah kemasukan 50 gol atau terburuk kesembilan. Nilai xGA (expected goals against) Sassuolo pun mencapai 48,7 atau terburuk kedelapan.

Meskipun demikian, risiko serangan balik tak membuat De Zerbi mundur. Ia setia kepada filosofinya, mempertahankan sepakbola menghibur sekaligus berupaya membawa Sassuolo setinggi mungkin. “Jika kami bermain dari belakang dan mengambil inisiatif, kami akan mendapat ganjarannya dalam jangka panjang,” tegasnya.

Pengalaman Bermain yang Menjadi Inspirasi De Zerbi

Sebagaimana kebanyakan pelatih, De Zerbi dulunya adalah pesepakbola. Ia sempat membela Napoli dan klub Rumania, CFR Cluj. Ia menghabiskan sebagian besar karier di Serie B sebelum pensiun di Trento, klub Serie D. Sebagai pemain, De Zerbi sering bertanding di pos gelandang serang.

Pengalaman itulah yang menginspirasi filosofi permainan De Zerbi. Sebagai gelandang serang, ia cenderung terlibat dalam sekuens serangan dan amat menikmatinya.

“Ketika saya tidak membawa bola, saya gugup dan tidak menikmati permainan. Jadi, sebagai manajer, saya selalu mengingat hal itu,” katanya sebagaimana dikutip The Guardian.

De Zerbi pun berusaha mempelajari taktik dari para maestro sepakbola menyerang. Sepengakuannya, ia belajar dari cara Juergen Klopp melatih Liverpool dan Maurizio Sarri di Empoli.

Ia bahkan memiliki kesempatan belajar langsung dari Marcelo Bielsa. Saat ditunjuk menangani Palermo, De Zerbi menulis surat kepada pelatih asal Argentina itu. Gayung bersambut, ia diundang untuk melihat sendiri proses latihan tim asuhan Bielsa, LOSC Lille.

“Saya bahkan tidak mengenalnya [pada waktu itu]. Jika dia dikira gila, maka saya ingin menempuh jalan yang sama,” kata De Zerbi.

Pada awal karier kepelatihannya di papan atas, De Zerbi sempat kesulitan. Bersama Palermo, ia dipecat setelah 13 pertandingan. Pada 2017/18, ia ditunjuk menangani Benevento yang berupaya bertahan di Serie A. De Zerbi tak mampu menyelamatkan Stregoni dari jurang degradasi.

Meskipun demikian, masa bakti di Benevento cukup membuat Sassuolo tertarik merekrutnya. De Zerbi memang gagal meraih hasil maksimal. Namun, ia berhasil membawa tim tersebut memainkan sepakbola menyerang yang menarik perhatian.

Nilai tambah yang dimiliki De Zerbi adalah kemampuannya membina pemain muda. CEO Sassuolo, Giovanni Carnevali memasang target mempromosikan satu pemain akademi tiap musimnya. De Zerbi pun dipandang menjadi pelatih yang cocok untuk menjalankan kebijakan itu.

“De Zerbi adalah pelatih dengan kualitas tinggi, seorang pria cerdas, yang selalu memantau para pemain muda di skuad. Di Sassuolo sini, terdapat semua komponen yang dibutuhkan untuk membuat para pemain muda berkembang ke arah yang tepat,” kata Carnevali kepada Sky Sports Italia.

Untuk urusan pemain muda, De Zerbi telah membuktikan kualitasnya. Giacomo Raspadori dibawanya ke tim senior dan menampilkan prospek menjanjikan. Eks pemain muda Milan, Manuel Locatelli pun semakin berkembang di bawah bimbingannya.

Dalam diri Roberto De Zerbi, Sassuolo memiliki pelatih yang dapat dipercaya mengawal proyek jangka panjang. Penunjukkan De Zerbi pun meneruskan "tradisi" I Neroverdi yang cenderung menemukan pelatih berbakat. Sebelum pelatih kelahiran Brescia itu, Sassuolo sempat menggaet Massimiliano Allegri, Stefano Pioli, dan Eusebio Di Francesco.

Komentar