Ismael Bennacer dan Harapan 4 Besar AC Milan

Analisis

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Ismael Bennacer dan Harapan 4 Besar AC Milan

Awal Januari lalu, AC Milan duduk manis di puncak klasemen dengan keunggulan tiga poin dari rival terdekat. Mereka adalah juara musim dingin. Rossoneri menjadi salah satu kandidat peraih Scudetto yang tampak meyakinkan. Namun, Milan kemudian goyah dan mereka harus rela puncak klasemen direbut Inter. Jelang akhir musim, Inter semakin tak terkejar sedangkan anak asuh Stefano Pioli terjatuh ke persaingan empat besar.

Di Serie A 2020/21, perebutan tiket Liga Champions masih terbuka lebar dengan empat kandidat yang hanya dipisahkan lima poin.

Skuad asuhan Pioli tentu tak rela jika harus absen dari Liga Champions lagi. Sejak awal musim, target pelatih berusia 55 tahun itu adalah lolos ke UCL.

Kehilangan poin dari Sassuolo pada 21 April lalu membuat Milan dalam posisi tak menguntungkan. Milan, hingga giornata 32, cuma terpaut tiga angka dari Napoli di peringkat lima. Tiket UCL masih rawan lepas dari genggaman Setan Merah.

Raksasa Italia ini telah tujuh tahun absen dari kompetisi elite tersebut. Mengingat progres yang ditempuh sejak akhir musim lalu hingga awal 2020/21, kehilangan tiket Liga Champions tentulah mimpi buruk.

“Ketakutan. Jika kamu lari, ketakutan mengalir dalam dirimu. Motto kami [di sisa musim 2020/21] adalah, ‘jika kamu menginginkannya, kamu bisa, selain itu hanyalah alasan’,” demikian kata Stefano Pioli ketika ditanya mengenai kans timnya menembus Liga Champions.

Pioli tak ingin skuad atau pun suporter Rossoneri cemas. Meskipun masih harus menghadapi Lazio, Juventus, Atalanta, juga tiga kandidat degradasi yang berpotensi merepotkan; Pioli optimistis dan berupaya menyalurkan kepercayaan diri kepada skuadnya. “Kami akan melakukan yang terbaik untuk mewujudkan target besar ini [lolos ke Liga Champions],” lanjut eks pelatih Fiorentina tersebut.

Pada giornata 33, Pioli dan kolega akan menghadapi Lazio di Olimpico. Hasil partai ini signifikan bagi persaingan empat besar. Lazio, yang merupakan mantan klub Pioli, secara matematis belum bisa dicoret dari kandidat Liga Champions. Le Aquile, yang masih punya satu pertandingan simpanan, terpaut delapan angka dari peringkat empat. Jika ingin lolos ke UCL, Lazio wajib menyapu bersih sisa laga, termasuk lawan Milan yang merupakan saingan langsung mereka.

Jelang laga ini, Milan mendapat kabar baik dengan pulihnya Ismael Bennacer. Gelandang Aljazair itu berperan krusial ketika Rossoneri tampil impresif di paruh pertama musim. Duetnya bersama Franck Kessie sangat berpengaruh bagi kontrol lini tengah Milan.

AC Milan melakoni sebagian besar paruh kedua Serie A tanpa eks pemain Arsenal tersebut. Bennacer menderita cedera otot bisceps femoris yang memaksanya absen sejak pertengahan Desember hingga akhir Januari. Februari silam, ia menderita cedera otot yang membuatnya menepi hingga Maret. Saat Milan dibungkam Sassuolo, Bennacer pun tidak main karena cedera engkel.

Kehilangan Bennacer besar pengaruhnya bagi permainan Milan. Faktanya, musim ini, Rossoneri hanya sekali kalah di Serie A jika eks penggawa Empoli itu bermain. Kekalahan tersebut diderita dari Spezia di giornata 22, salah satu penampilan kolektif terburuk Milan musim ini.

“Isma [Bennacer] memiliki karakter spesifik yang nyetel sangat baik dalam sistem kami. Kehadirannya dirindukan,” ucap Pioli ketika Bennacer baru pulih dari cedera otot.

Bennacer adalah regista yang menjadi denyut permainan Milan. Gelandang berusia 23 tahun ini telah bertransformasi dari pemain berkarakter ofensif menjadi pengatur tempo yang komprehensif.

Di Serie A 2020/21, Bennacer menjadi pemain Milan dengan statistik percobaan umpan (68,9 per pertandingan) dan menerima umpan (60,4 per pertandingan) terbanyak. Bennacer menjadi penghubung antarlini dan berperan krusial menyalurkan penguasaan bola.

Jika Milan berupaya bermain dari lini belakang, ia kerap turun menjemput bola. Bennacer kemudian bisa melanjutkan progresi baik via umpan-umpan pendek, menggiring bola, atau mengirim umpan jauh ke sepertiga akhir.

Bennacer sendiri memiliki kemampuan mengoper yang mumpuni. Ia cakap mengirim bola langsung ke para penyerang di sepertiga akhir. Di antara skuad AC Milan, Bennacer paling rutin mengirim umpan ke sepertiga akhir (6,36 per pertandingan).

Peran sebagai regista dipelajari Bennacer di musim keduanya bersama Empoli. Giuseppe Iachini adalah pelatih yang pertama menjajalnya di posisi tersebut. Bennacer tadinya lebih sering beroperasi lebih ke depan.

“Saya menyukai apa pun tentang peran ini karena Anda menjadi jantung dari segalanya. Ini tahun kedua saya bermain di Italia sebagai regista. Saya masih mempelajarinya. Saya pikir saya berkembang lebih baik,” kata Bennacer di akhir musim debutnya bersama Milan.

Musim ini, permainan Bennacer lebih berkembang, terutama dari aspek pertahanan. Pada 2019/20, ia masih sering meninggalkan posnya dan membuka ruang kosong di lini tengah Milan. Namun, musim ini Bennacer lebih cakap memosisikan diri dan memberi kover yang diperlukan.

Dibanding musim lalu, Bennacer lebih jarang menyentuh bola di sepertiga akhir lawan. Ia pun lebih sering menguasai bola di sepertiga pertahanan dan di tengah lapangan. Kesadaran Bennacer menjaga lini tengah penting untuk melindungi lini belakang.

Dalam bertahan, kekuatan Bennacer adalah pemosisian. Namun, ia juga mampu berduel dengan efektif. Bennacer rata-rata memenangkan 1,58 tekel per pertandingan. Rata-rata ini cukup tinggi di antara gelandang Milan. Bennacer pun rajin memulihkan penguasaan bola. Ia menorehkan rata-rata 12,2 recoveries per pertandingan.

Ismael Bennacer jelas pemain penting dan kehadirannya memperbesar daya saing Milan untuk merebut tiket Liga Champions. Sederet lawan berat telah menanti. Dengan kembalinya sang regista, mampukah AC Milan kembali ke UCL?

Komentar