Ruslan Malinovskyi Lebih dari Sekadar Supersub

Analisis

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Ruslan Malinovskyi Lebih dari Sekadar Supersub

Alejandro “Papu” Gomez memang playmaker cakap dan perselisihannya dengan Gian Piero Gasperini patut disayangkan. Di Serie A 2019/20, Gomez mengemas 16 asis untuk Atalanta, dua kali lipat lebih banyak dari pemain terkreatif kedua. Namun, siapa sangka, hengkangnya pemain Argentina itu justru membuat Orobici semakin kuat. Pasalnya, kepergian Gomez memberi ruang sekaligus mendorong gelandang serang lain untuk menunjukkan tajinya.

Tanpa Gomez, Atalanta sama sekali tak kekurangan gelandang serang. Josip Ilicic terbukti masih mampu jadi kreator serangan ulung pada usianya yang menginjak 33 tahun. Matteo Pessina mulai rutin dipercaya Gasperini dan tampil apik menjembatani permainan. Sedangkan Mario Pasalic tetap berbahaya dengan kecenderungannya merangsek dari lini kedua. Aleksey Miranchuk, yang baru datang musim ini pun, mulai coba unjuk gigi.

Di antara sederet gelandang serang Atalanta, yang belakangan tampil impresif adalah Ruslan Malinovskyi. Pemain asal Ukraina tersebut turut bertanggung jawab dalam performa impresif Orobici akhir-akhir ini. Dari lima pertandingan terkini Serie A, Malinovskyi sukses mengemas tiga gol dan lima asis.

Atalanta sendiri berhasil mengamankan lima kemenangan dan sekali imbang dari enam laga terkini. Sederet hasil positif itu mengerek Atalanta ke peringkat tiga, menggusur Juventus.

Sejak datang ke Atalanta, Malinovskyi cenderung dipakai sebagai supersub oleh Gasperini. Eks pemain Shakhtar Donetsk ini didatangkan pada 2019/20 lalu, saat Atalanta menjelang Liga Champions perdana mereka. Mendatangkan Malinovskyi adalah langkah Orobici untuk menambah kedalaman skuad.

Malinovskyi hanya tampil 12 kali sebagai starter di Serie A pada musim debutnya. Namun, ketika dimainkan, ia mampu tampil apik menjawab kepercayaan sang pelatih. Di Serie A 2019/20, pemain berusia 27 tahun itu mencetak delapan gol dan lima asis dari 34 pertandingan.

Memasuki 2020/21, eks penggawa KRC Genk tersebut lebih sering dimainkan. Hingga giornata 32, ia telah tampil 16 kali sebagai starter. Dalam lima laga terkini, ia empat kali tampil sejak sepak mula.

Malinovskyi pun dapat tampil sebagai playmaker andal Atalanta. Ia aktif beroperasi di sepertiga akhir dan cerdas membuka peluang bagi rekan-rekannya.

Hal ini ditunjukkan ketika Orobici membenamkan Udinese pada awal April lalu. Dalam laga ini, Gasperini memasangnya sebagai gelandang serang kanan. Malinovskyi menunjukkan kemampuan playmaking mumpuni untuk membawa timnya unggul. Ia membidani dua gol oleh Luis Muriel dan Duvan Zapata dengan umpan terobosan yang mengejutkan lini belakang.

Di giornata 30, Malinovskyi kembali merajai sepertiga akhir dalam pertandingan kontra Fiorentina. Untuk gol pertama Atalanta, ia mengirim asis ke Duvan Zapata lewat sepak pojok.

Pada asis keduanya dalam laga itu, Malinovskyi menunjukkan visi brilian yang dipadukan teknik mumpuni. Malinovskyi menguasai bola di sepertiga akhir lawan. Ia melihat tiga pemain Atalanta yang siap merangsek ke kotak penalti. Namun, di antara dirinya dan kotak 16, terdapat delapan pemain La Viola yang menghalangi. Di luar dugaan pemain lawan, Malinovskyi mengirim uman cungkilan ke arah Zapata yang berada di tengah, area yang paling rapat dijaga bek lawan. Zapata pun menerima bola dalam kondisi tak terkawal dan berhasil menaklukkan kiper.

Di skuad Atalanta musim ini, Malinovskyi adalah pemain yang berperan kursial dalam penciptaan peluang. Ia rata-rata membuat 2,59 operan ke kotak penalti dan 3,7 umpan kunci per pertandingan, terbanyak kedua setelah Josip Ilicic. Nilai expected assists-nya (xA) pun mencapai 7,6 atau tertinggi di skuad. Torehan delapan asisnya di Serie A adalah yang terbaik di Atalanta bersama Ilicic.

Selain itu, kekuatan tembakan Malinovskyi juga menjadi ancaman tersendiri. Pemain kelahiran Zhytomyr, Ukraina ini sering mengancam dengan tembakan jarak jauh. Di Serie A, delapan dari 13 golnya dicetak dari luar kotak penalti.

Langkah Gasperini memasangnya di pos gelandang serang kanan mengoptimalkan kemampuan tersebut. Dari sayap, Malinovskyi kerap bergerak ke tengah dan membuat umpan atau menembak dari sana.

Di giornata 31 lalu, Juventus menjadi korban tembakan jarak jauh Malinovskyi. Ia mencetak gol semata wayang Atalanta dari luar kotak penalti. Malinovskyi mengirim tembakan keras yang membentur bek lawan dan mengecoh Wojciech Szczesny. Sebelumnya, ia sempat memaksa eks kiper Arsenal itu merentangkan badan untuk menepis tendangan bebasnya yang mengarah ke pojok gawang.

Gol tunggal Malinovskyi membawa Atalanta menang atas Juventus untuk pertama kalinya sejak 2001. Anak asuh Gaseprini pun menyalip Bianconeri di tabel klasemen berkat kemenangan tersebut.

Di musim keduanya, Ruslan Malinovskyi secara brilian mengisi ruang yang ditinggalkan Papu Gomez. Sang pemain berhasil mengubah tekanan musim kedua menjadi bahan bakar yang membuatnya bersinar di Atalanta.

“Saya merasakan sedikit tekanan [di musim kedua] karena saya tahu orang-orang berharap banyak pada saya. Ini karena saya menggunakan musim pertama di Italia untuk beradaptasi dan mempelajari bahasanya. Di musim kedua, Anda selalu mengharapkan langkah maju,” kata Malinovskyi kepada L’Eco di Bergamo.

“Saya menginginkan lebih dari diri saya. Saya tahu saya bisa berbuat lebih,” lanjutnya.

Menit bermain lebih dijawab Malinovskyi dengan permainan brilian. Kini, ia berpeluang mengantar Orobici ke Liga Champions kedua mereka. Selain itu, Atalanta masih memiliki partai penting lawan Juventus di final Coppa Italia.

Kecemerlangan Malinovskyi tentu dibutuhkan untuk mengakhiri musim 2020/21 dengan catatan apik. Di final Coppa Italia, Atalanta berkesempatan mengakhiri puasa gelar 58 tahun. Klub asal Bergamo ini terakhir juara Coppa Italia pada 1983, satu-satunya trofi mayor yang dimiliki klub.

Komentar