Hasil Derbi Manchester Mengindikasikan Kedua Tim Butuh Striker Murni

Analisis

by Dzikry Lazuardi

Dzikry Lazuardi

Analis Sulut United.

Hasil Derbi Manchester Mengindikasikan Kedua Tim Butuh Striker Murni

Derbi Manchester pertama pada musim 2020/21 berakhir imbang tanpa gol. Bisa dibilang ini merupakan salah satu derbi yang paling monoton pada beberapa musim terakhir. Kedua tim memiliki masalah yang sama, hilangnya kontribusi gol seorang striker tajam.

Musim lalu sebenarnya produktivitas gol tidak menjadi masalah. Manchester City mampu menjadi tim paling produktif di Premier League. The Citizens total mencetak 102 gol sepanjang musim lalu. Raheem Sterling menjadi top skor klub di kancah domestik dengan 20 gol. Sergio Aguero berada di posisi dua dengan 16 gol, sementara Gabriel Jesus menempati urutan tiga dengan 14 gol.

Manchester United tidak memiliki masalah ini sejak kedatangan Bruno Fernandes pada bursa transfer musim dingin. Man United menjalani 14 laga Premier League usai kedatangan gelandang asal Portugal itu. The Red Devils mampu mencetak 30 gol pada periode itu, kedua terbanyak di Premier League. Anthony Martial dan Marcus Rashford menjadi pencetak gol terbanyak di kompetisi domestik bagi Man United musim lalu dengan 17 gol.

Seluruh sumber gol bagi kedua tim tidak hengkang. Kehilangan personil bukan menjadi persoalan. Namun pemain-pemain tersebut sejauh ini tidak mampu mempertahankan performa impresif musim lalu.

Manchester United

Dari kubu merah Manchester, performa Martial menurun drastis. Hingga pekan 12, pemain 25 tahun itu belum mampu mencetak gol. Tampil selama 455 menit, Martial hanya mencatatkan sembilan tembakan. Hanya tiga di antaranya menemui sasaran. Kartu merah dan cedera cukup mengganggu awal musim Martial.

Pemain muda yang namanya mulai naik musim lalu, Mason Greenwood juga belum menemukan performa terbaiknya. Pemain 19 tahun itu sempat terkena masalah di tim nasional Inggris. Selain itu, Greenwood juga tidak tampil reguler musim ini.

Beberapa kondisi tersebut membuat Ole Gunnar Solskjaer harus memutar otak. Jika musim lalu formasi 4-2-3-1 dengan Fernandes menjadi gelandang serang di belakang Martial serta Rashford dan Greenwood mengisi posisi sayap, musim ini Solskjaer sering bongkar pasang susunan pemain. Formasi 4-4-2 diamond kini menjadi formasi yang mulai sering digunakan, menduetkan Rashford dengan Martial atau Greenwood.

Man United sebenarnya memiliki striker berpengalaman dalam diri Edinson Cavani. Namun kondisi fisik menjadi halangan bagi pemain 33 tahun itu untuk berkontribusi bagi Man United. Ketika bermain, Cavani cukup tajam. Ia mampu mencetak tiga gol dengan rataan 59 menit per gol.

Masalah ini jelas terlihat pada Derbi Manchester. Contohnya pada momen ini, ketika Man United sukses mengeliminasi pressing Man City. Fernandes berada di posisi yang sangat potensial untuk melepaskan umpan terobosan. Namun Rashford tidak berada pada posisi yang tepat, hal ini disebabkan karena ia bukan merupakan striker murni.

Situasi serupa terjadi berulang kali sepanjang pertandingan. Setelah mampu menembus pertahanan Man City, tidak ada pemain Man United yang siap mencetak gol. Salah satunya dari situasi umpan silang. Cerita bisa berbeda jika Cavani bermain.

Cavani memang tidak lagi muda, tapi setidaknya ia masih memiliki insting tajam seorang striker, hal yang tidak dimiliki penyerang Man United lainnya. Gol Martial dan Rashford dominan berasal dari kemampuan olah bola yang baik, bukan pergerakan tanpa bola khas striker. Pada comeback dramatis Man United di kandang Southampton, pergerakan Cavani berbuah gol kemenangan Man United.

Jika Cavani sudah kembali fit dan mampu tampil impresif, Man United bisa menyelesaikan masalah ini. Striker asal Uruguay itu setidaknya bisa menjadi solusi jangka pendek hingga akhir musim. Untuk jangka panjang, Man United tetap perlu mencari striker tajam di bursa transfer.

Manchester City

Dari kubu Manchester City, cederanya Aguero memiliki dampak yang besar. Man City kerap gagal menyelesaikan peluang emas, sebuah hal yang tampak jarang ditemui pada permainan Aguero. Pep Guardiola sebenarnya memiliki pelapis yang tidak buruk, Gabriel Jesus. Namun striker Brasil itu jelas belum berada di level yang sama dengan Aguero.

Gol sebenarnya tidak harus datang dari striker, namun performa sayap Man City belum berada pada level terbaiknya. Raheem Sterling dan Riyad Mahrez sering kehilangan momentum dalam melepaskan tembakan. Mereka berdua cukup sering menunda sepakan meski ruang tembak tersedia. Keduanya sama-sama gagal mengubah peluang emas menjadi gol pada derbi Manchester.

Sayap Man City lainnya tidak memiliki kualitas tinggi dalam mencetak gol. Ferran Torres, Bernardo Silva, dan Phil Foden bertipe sayap kreatif yang mampu mengacak-acak pertahanan lawan, bukan membobol gawang lawan. Sementara itu, Kevin De Bruyne bertugas dalam membuat peluang, bukan menyelesaikan serangan.

Secara tim, anak asuh Guardiola mengalami penurunan dibanding musim-musim lalu. Meski tidak dapat dikatakan buruk, tapi penurunan ini tentu bukan hal positif bagi klub dengan standar tinggi. Bukan hanya bermasalah dalam menyelesaikan peluang, Man City juga lebih sedikit membuat peluang dibanding musim lalu.

Tabel Statistik Serangan Manchester City Empat Musim Terakhir

Gol per Pertandingan

xG per pertandingan

Tembakan per pertandingan

2017/18

2,71

2,11

17,5

2018/19

2,39

2,16

17,9

2019/20

2,63

2,45

19,2

2020/21

1,55

1,66

15


Selain mengembalikan kualitas tinggi lini serang, Guardiola juga harus mulai mencari striker pengganti Aguero. Selain kontraknya akan habis pada akhir musim ini, Aguero sudah berumur 32 tahun. Ia tidak bisa menjadi tumpuan Man City bermusim-musim ke depan.

Komentar