Satu Tahun Jose Mourinho di Tottenham

Analisis

by Dzikry Lazuardi

Dzikry Lazuardi

Analis Sulut United.

Satu Tahun Jose Mourinho di Tottenham

20 November merupakan hari jadi Jose Mourinho bersama Tottenham Hotspur. Satu tahun sudah Mourinho memegang kendali di kubu putih London Utara. Mourinho ditunjuk sebagai pelatih usai Mauricio Pochettino dipecat tahun lalu. Namun, apakah Mourinho membawa Tottenham menjadi lebih baik?

Sebelum itu, mari melihat kondisi Tottenham ketika Mourinho datang. Tottenham tidak memulai musim 2019/20 dengan baik. Dari 17 laga di semua kompetisi, Pochettino hanya mampu mengantarkan Tottenham menang lima kali. Pada kompetisi domestik, Tottenham tercecer di urutan 14.

Setelah Mourinho datang, performa Tottenham perlahan membaik. Akhirnya The Lilywhites mampu finis di urutan keenam dan lolos ke Liga Eropa. Dalam 12 bulan kiprah pelatih 57 tahun itu, hanya Liverpool (82) dan Manchester City (68) yang mampu meraih poin lebih banyak dari Tottenham (62).

Meskipun sepakbola adalah olahraga hasil akhir, tapi proses juga tidak bisa dilupakan. Bagaimana cara tim bermain tidak lepas dari sorotan penggemar dan media. Apalagi Mourinho, pelatih yang dikenal gemar bermain pragmatis dan reaktif, menggantikan Pochettino yang memainkan sepakbola proaktif dengan tekanan intensitas tinggi.

Link streaming pertandingan Premier League: Tottenham vs Manchester City

Melihat statistik Passes per Defensive Actions (total umpan dibagi aksi bertahan), Tottenham di bawah Mourinho mengalami penurunan. Angka yang tinggi berarti suatu tim membiarkan lawan untuk menguasai bola dengan melakukan umpan. Dalam kata lain, tim tersebut tidak menekan lawan dengan intens. Angka yang rendah menandakan tim tersebut menerapkan high pressing dengan intensitas tinggi.

Terhitung dari awal melatih pada musim 2014/15 hingga dipecat, Tottenham di bawah Pochettino mencatatkan PPDA sebesar 9,54 dan menjadi kedua terbaik di Premier League. Sejak Mourinho datang, angka PPDA naik hingga 12,16. Turun jauh dari peringkat dua ke peringkat sembilan.

Parameter lain yang bisa digunakan adalah rata-rata waktu lawan menguasai bola. Sama seperti PPDA, angka yang tinggi menandakan tim tersebut cenderung reaktif ketika bertahan. Tottenham-nya Pochettino mencatatkan 17,8 detik sementara Tottenham-nya Mourinho naik hingga 23,2 detik. Dapat disimpulkan bahwa Tottenham memang lebih reaktif ketika bertahan.

Lanjut ke fase menyerang, Tottenham di bawah Mourinho juga tidak lebih baik dari Pochettino jika melihat rataan gol per pertandingan. Tottenham mencetak 1,84 gol per pertandingan di bawah Pochettino berbanding 1,82 pada rezim Mourinho. Berbeda tipis, tapi tidak ada perubahan signifikan.

Begitu pula dengan nilai expected goals (xG) dikurangi expected goals against (xGA). Dari nilai xG, bisa disimpulkan bagaimana kualitas sebuah tim membuat peluang. Sementara nilai xGA menggambarkan bagaimana sebuah tim meredam lawan dalam membuat peluang.

Tottenham di bawah Pochettino (0,36) unggul dibanding Tottenham di bawah Mourinho (0,22). Meski begitu, statistik ini turun jauh hingga nol pada 34 pertandingan terakhir Pochettino. Dapat dikatakan Tottenham-nya Mourinho lebih stabil dibanding Tottenham-nya Pochettino pada akhir karier pelatih Argentina itu di London Utara. Gaya main boleh berubah, tapi Mourinho perlahan kembali mengangkat performa Tottenham.

Mourinho memang memainkan sepakbola reaktif, tapi jangan ragu soal kualitas serangan Tottenham. 19 gol di Premier League hanya kalah dari Chelsea dengan satu gol lebih banyak. Total xG per 90 menit juga menempati urutan kedua, hanya kalah dari Liverpool.

Dua pilar utama Tottenham Harry Kane dan Son Heung-min bermain luar biasa musim ini. Dari delapan laga awal, Kane sukses mencetak tujuh gol dan delapan asis. Sementara Son menorehkan delapan gol dan dua asis. Jempol untuk dua pemain tersebut tapi performa impresif mereka tidak lepas dari peran Mourinho.

Ketika ditanya oleh Fencan Sports soal performa dua pemain tersebut, Mourinho menjelaskan bahwa hubungan antara dua pemain tersebut sangat berpengaruh. Mereka sudah sangat lama bermain bersama. Selain itu, baik Kane maupun Son merupakan pemain yang sangat mementingkan tim. Sisanya, Mourinho dan staf pelatih Tottenham mencari kombinasi dan pergerakan yang cocok untuk kedua pemain tersebut. Mourinho paham bahwa Son memiliki kecepatan luar biasa dan Kane sangat berbahaya bukan hanya di kotak penalti, tapi juga ketika turun menjemput bola. Tidak heran banyak gol Tottenham tercipta dari skema Kane turun dan melepaskan umpan terobosan ke Son.

Transfer Tottenham pada musim panas lalu juga memberikan angin segar. Pierre-Emile Hojbjerg sebagai gelandang bertahan memiliki peran penting dalam menyeimbangkan permainan. Sergio Reguilon jelas jauh lebih baik dalam menyerang dibanding Ben Davies. Gareth Bale bisa memberikan hal yang tidak dimiliki sayap Tottenham lainnya. Matt Doherty dapat menjadi opsi melihat performa Serge Aurier yang tidak konsisten. Semenara itu, Joe Hart, Joe Rodon, dan Carlos Vinicius tampak tidak diproyeksikan menjadi pemain utama. Wajar jika melihat total hanya €15 juta untuk mendatangkan tiga pemain tersebut.

The experienced one, saya sangat berpengalaman. Semua yang terjadi dalam sepakbola saat ini seperti dejavu bagi saya, sesuatu yang pernah saya alami sebelumnya,” ungkap Mourinho, masih pada wawancara dengan Fencan Sports. Tidak dapat dipungkiri Mourinho merupakan pelatih sarat pengalaman dengan prestasi segudang, meskipun terakhir ia mendapatkan trofi liga adalah pada musim 2014/15 lalu. Mourinho sejauh ini mampu membuat Tottenham lebih baik dibanding akhir periode Pochettino. Jika terus membaik, bukan tidak mungkin Mourinho bisa menghentikan puasa gelar Tottenham dari musim 2007/08 silam.

Pada Minggu (22/11) dinihari pukul 00:30 WIB, Tottenham Hotspur akan melakoni pertandingan akbar melawan Manchester City di London. Ini pertemuan kedua Jose Mourinho sebagai manajer Spurs menghadapi Manchester City.

Tayangan langsung semua pertandingan Premier League 2020/21, serta tayangan ulang dan highlights pertandingannya, dapat Anda saksikan di Mola TV (klik di sini).

Komentar