Formasi Tiga Bek, Awal Petaka Manchester City

Analisis

by Dzikry Lazuardi

Dzikry Lazuardi

Analis Sulut United.

Formasi Tiga Bek, Awal Petaka Manchester City

Olympique Lyonnais membuat kejutan dalam lanjutan perempat final Liga Champions yang berlangsung pada Sabtu (15/8) waktu setempat. Tim yang hanya finis di urutan ke tujuh Ligue 1 itu sukses mengalahkan Manchester City dengan skor 3-1. Hasil ini membuat Man City era Pep Guardiola belum mampu melaju lebih jauh dari babak delapan besar Liga Champions.

Lyon tampil dengan formasi 3-5-2 yang juga digunakan oleh Rudi Garcia ketika anak asuhnya menyingkirkan Juventus. Susunan pemain juga tidak ada perubahan. Karl Toko Ekambi dan Memphis Depay menjadi duet lini depan Lyon. Sementara lini tengah diisi oleh pemain yang usianya tidak lebih dari 22 tahun yaitu Houssem Aouar, Bruno Guimaraes, dan Maxence Caqueret.

VIDEO: Gol-gol terbaik Manchester City musim 2019/20



Di sisi yang berlawanan, Pep justru mengubah formasi dan susunan pemain. Man City tampil dengan skema 3-4-2-1 dengan duet Gabriel Jesus di lini depan. Fernandinho, Eric Garcia, dan Aymeric Laporte mengisi posisi tiga bek Man City.

Usai pertandingan, Pep menjelaskan keputusan taktikal tersebut. “Apa yang kami lakukan adalah menambal kekurangan kami, membandingkan kekuatan mereka. Mereka sangat baik dalam membuat pergerakan ke ruang kosong dengan situasi dua lawan dua,” ungkap Pep kepada BT Sport.

Pep berniat untuk menambah satu bek dengan tujuan menambal kelemahan di pertahanan Man City. Lini belakang Man City merupakan masalah besar pada musim 2019/20 ini. Sayangnya, rencana Pep tidak membuahkan hasil positif bagi Man City. Meski perubahan formasi bukan berarti perubahan cara bermain. Man City tetap bermain dominan dengan 72% penguasaan bola.

Ketika Man City membangun serangan dari bawah, lini pertama Lyon kalah jumlah. Permasalahannya adalah Man City tidak dapat melakukan progresi ke area tengah. Dua striker Lyon melakukan cover shadow terhadap Rodri dan Ilkay Gundogan. Trio lini tengah Lyon juga menjaga jarak dengan baik.

Solusi bagi Man City yaitu progresi melalui bek sayap. Setelah Joao Cancelo atau Kyle Walker mendapatkan bola, sayangnya opsi mereka terbatas. Cancelo hanya memiliki Sterling sebagai opsi. Kevin De Bruyne menjadi satu-satunya pilihan untuk Walker melakukan progresi. Hal ini disebabkan Man City tidak bermain dengan sayap seperti yang biasa mereka lakukan. Gabriel Jesus dan Gundogan cukup terisolasi.

Cancelo sebenarnya beberapa kali berhasil mengirim umpan terobosan ke Sterling yang mengeksploitasi half space. Sterling yang bergerak dari dalam ke luar membuat body shape pemain 25 tahun itu tidak menghadap ke gawang. Sterling membutuhkan waktu lebih untuk mengubah body shape sehingga bisa lebih membahayakan gawang Lyon.

Kondisi diperparah dengan respon cepat Lyon menghadapi situasi 2v3 di lini depan mereka. Aouar naik untuk bantu memberikan tekanan sekaligus cover shadow ke De Bruyne. Marcal juga naik untuk menempel De Bruyne. Alhasil, Man City semakin sulit melakukan progresi.

Man City menjalani 30 menit pertama tanpa satu pun tembakan. Total Man City hanya menghasilkan lima tembakan ketika bermain dengan formasi ini. Niat Pep untuk menambal lini pertahanan dengan formasi tiga bek justru membuat Man City kesulitan menyerang.

Pada fase bertahan, Man City juga tidak lebih baik. Ketika bertahan di area tinggi, mereka tetap melakukan high pressing yang menjadi kunci kemenangan mereka atas Real Madrid. Solusi Lyon cukup simpel, mereka bermain umpan lambung jauh sebelum pemain Man City mendekat karena tidak ingin mengambil risiko. High pressing Man City tidak efektif karena hal tersebut. Akhirnya Man City menurunkan intensitas high pressing karena menguras stamina tanpa membuahkan hasil.

Sebaliknya, Umpan lambung Lyon justru membuahkan hasil. Marcal melepaskan umpan lambung ke Ekambi yang membuat run in behind. Meski Eric Garcia mampu menekel Ekambi, namun bola muntah sukses dimaksimalkan oleh Maxwel Cornet.

Gol ini menjadi bukti bahwa formasi tiga bek Pep tidak menambal kelemahan mereka. Ekambi tetap mampu mendapatkan umpan lambung di ruang belakang lini. Awareness dan positioning lebih penting dibanding menang jumlah ketika menghadapi situasi umpan lambung seperti itu.

Pep melakukan perubahan, Riyad Mahrez masuk menggantikan Fernandinho pada menit ke-56. Man City kembali memainkan formasi 4-3-3. Hasilnya, Man City bisa melakukan lebih banyak progresi dan membuat peluang. Man City tidak boros pemain di belakang sehingga mereka memiliki lebih banyak opsi pemain di dalam shape Lyon.

Momen di atas merupakan proses gol penyeimbang Man City. De Bruyne berada di dalam shape Lyon sehingga Caqueret harus menjaga pemain asal Belgia itu. Sedikit ruang di antara Caqueret dan Ekambi cukup bagi Cancelo untuk melakukan progresi ke Mahrez.

Pemain 29 tahun itu mengirim umpan terobosan ke Sterling yang tidak terjaga dengan baik. De Bruyne datang dari lini kedua. Umpan silang Sterling berhasil dimaksimalkan oleh De Bruyne.

Man City lebih baik setelah kembali ke bentuk 4-3-3. Mereka membuat 13 tembakan meski baru bermain pada menit ke-55 dengan formasi tersebut. Mereka akhirnya tetap kalah karena performa yang buruk.

Gabriel Jesus gagal memaksimalkan umpan silang Sterling ketika skor masih 1-1. Tak lama berselang, Caqueret berhasil membaca umpan Laporte. Pemain 20 tahun itu bermain simpel dengan memberikan bola ke Aouar. Proses tersebut menjadi awal dari gol yang dicetak oleh pemain yang menggantikan Depay, Moussa Dembele.

Man City terus membuat peluang, selanjutnya giliran Sterling yang gagal mengkonversi peluang dengan xG besar. Satu menit kemudian, Man City kembali kebobolan. Kali ini kesalahan dilakukan Ederson yang tidak menghalau sepakan Aouar dengan baik. Dembele sukses memaksimalkan bola muntah dan menggandakan keunggulan Lyon.

Lyon sukses mengakhiri laga dengan skor 3-1. Performa impresif secara keseluruhan melengkapi taktik reaktif Garcia yang membuahkan hasil. Secara individu, pemain Lyon tampil luar biasa. Caqueret mencatatkan dua intersep dan tiga tekel. Ia juga terlibat pada dua proses gol Lyon sebagai perebut bola.

Begitu pula dengan pemain muda lainnya seperti Guimaraes dan Aouar. Nama terakhir berhasil membuat satu asis. Dua gol Dembele menggenapkan catatan golnya menghadapi Man City menjadi empat gol dalam tiga pertandingan. Jason Denayer yang tidak mencatatkan satu pun penampilan dalam empat tahun bersama Man City juga bermain impresif.

*

Kekalahan ini membuat Pep kembali gagal membawa Man City melangkah lebih jauh dari perempat final Liga Champions. Masa depan Pep mulai diragukan meski terlalu kejam jika Pep harus kehilangan pekerjaannya. Fondasi yang ia buat akan sulit diteruskan oleh pelatih lain. Tidak mudah juga bagi CEO Man City yaitu Ferran Soriano untuk memecat Pep yang sudah ia percaya sejak sama-sama bekerja di Barcelona.

Dari kubu pemenang, hasil mengejutkan ini menjadi ajang pembuktian bagi tim yang terseok-seok di Ligue 1 itu. Taktik reaktif yang tepat guna dipadukan dengan performa impresif para pemain membawa Lyon ke semifinal Liga Champions.


Untuk menambah keseruan menonton pertandingan, Anda bisa seru-seruan dengan bermain MPL Fantasy. Aplikasi MPL menyediakan permainan fantasy football yang memberikan Anda kesempatan untuk memenangkan GoPay dan LinkAja. Satu berlian yang Anda dapatkan dalam permainan MPL Fantasy dapat Anda tukarkan langsung dengan Rp100 rupiah saldo GoPay dan LinkAja. Download aplikasi MPL pada link berikut melalui ponsel android Anda.

[Download aplikasi MPL]

Komentar