Adama Traore Masih Bisa Lebih Mengerikan Lagi

Analisis

by Adrianus Eduard Johanes

Adrianus Eduard Johanes

"Losing my religion to football"

Adama Traore Masih Bisa Lebih Mengerikan Lagi

Tak tergantikan di susunan utama Wolverhampton Wanderers, nama Adama Traore mulai mencuat sebagai salah satu bintang Liga Primer Inggris. Menurut berbagai media, kemampuan Adama bahkan telah menarik perhatian tim sekelas Liverpool dan Real Madrid. Keberhasilan Adama mencapai status bintang bukanlah kejutan. Apalagi bagi mereka yang sudah memperhatikan kemampuannya sejak masih membela FC Barcelona.

Butuh waktu lama memang bagi Adama untuk mendapatkan pengakuan ini. Setidaknya, tidak kurang dari lima tahun Adama berjuang keras memperbaiki kemampuannya agar mampu bersaing di level tertinggi sepakbola dunia. Meski sejak dulu, talenta Adama memang tidak ada yang pernah meragukan. Bahkan bagi pelatihnya di saat masih berada di FC Barcelona, Eusebio, yang hanya memberikan kesempatan 4 kali bermain bagi Adama Traore.

VIDEO: Update berita sepakbola dunia



Eusebio mengatakan bahwa sejak diboyong dari Hospitalet, Adama telah dibekali dengan kecepatan, kekuatan, dan kemampuan mengambil keputusan. “Adama tak pernah ragu untuk menggiring bola melewati dua pemain sekaligus. Dia tahu dirinya dapat melakukan hal itu. Ia cepat, kuat, dan tepat,” aku Eusebio kepada GOAL.

Kekurangaan Adama hanya satu, ia tidak cocok bermain di Barcelona, setidaknya saat itu. Apalagi harus bersaing dengan Lionel Messi, Neymar, Luis Suarez, dan Pedro. Barcelona berusaha membentuknya jadi pemain yang bisa menyerupai senior-seniornya. Namun hal itu tidak sesuai dengan Adama.

https://twitter.com/SkySportsPL/status/631095261402677249">

Adama sendiri mengakuinya waktu diwawancarai media Spanyol, AS. “Setelah 10 tahun di Barcelona, saya ingin menjadi pemain yang lebih baik lagi. Saya ingin berkembang, namun kemudian terjadi salah komunikasi dengan pihak klub. Saya pun tidak bisa bertahan di sana,” kata Adama. Sejak meninggalkan Barcelona di musim panas 2015, ada yang berbeda dengan Adama.

Ia tetap cepat, bahkan sempat berlari 22,9 mph saat membela Middlesbrough dalam laga Liga Primer Inggris kontra Arsenal pada Oktober 2016. Angka itu hampir melebihi kecepatan rata-rata mantan atlet lari Jamaika, Usain Bolt (23 mph). Sekitar dua tahun kemudian, catatan kecepatan Adama terus memperlihatkan perkembangan. Ia bahkan pernah berlari pada kecepatan 23,61 mph dalam satu sesi latihan Wolves. Adama selalu cepat. Tapi kini, dirinya juga memiliki modal fisik yang jauh lebih besar di atas rata-rata.

Dirinya bertransformasi dari pemain kurus yang cepat dan kuat, menjadi seorang monster. Meminjam slogan pemain terkuat FIFA 2005 hingga 2019, Adebayo Akinfenwa, Adama ada di level #BEASTMODE! Lihat saja perbedaan tubuhnya saat masih bermain untuk Barcelona dengan saat ini.

Uniknya, penambahan massa otot Adama tidak terjadi karena diet ketat atau latihan beban seperti atlet-atlet lainnya. Semua terjadi secara alami tanpa harus mengubah pola makan ataupun mengangkat beban. “Orang-orang selalu terkejut saat saya mengaku tidak pernah angkat beban. Tapi kenyataannya seperti itu. Jika saya melakukan angkat beban, mungkin akan jadi lebih besar lagi. Tubuh saya memang mudah mengalami penambahan massa otot,” aku Adama kepada the Athletic. Adama juga sempat menambahkan bahwa tubuhnya menjadi kekar lebih karena pengaruh genetik ketimbang latihan yang ia lakukan.

Bagaimana bisa Adama memiliki tubuh seperti itu hanya karena faktor genetik ketimbang latihan beban dan diet yang ketat? Menurut seorang psikolog asal Amerika Serikat terdapat 3 jenis tubuh manusia yang dikenal dengan somatotype yaitu, ectomorph, mesomorph, dan endomorph. Ectomorph adalah orang-orang yang memiliki tubuh dengan kecepatan metabolisme yang tinggi. Hal ini membuat tubuh mereka jarang menyimpan lemak sehingga memiliki tubuh yang kurus dan ramping. Sebaliknya, endomorph adalah orang-orang yang memiliki tubuh dengan kecepatan metobisme yang lambat dan membuat tubuh mereka cenderung lebih banyak menyimpan lemak.

Selain kedua jenis tubuh tersebut, terdapat satu jenis lain yaitu mesomorph. Tubuh dengan dengan tipe ini tidak terlalu cepat namun juga tidak terlalu lambat melakukan metabolisme. Tubuh mesomorph akan aktif mengubah lemat yang masuk untuk meningkatkan masa otot. Karenanya, tubuh seorang mesomorph akan lebih mudah untuk menjadi kekar dan berotot.

Faktor genetik sangat berpengaruh dalam menentukan tipe tubuh seseorang. Dan hal inilah yang membuat Adama Traore bisa mengatakan bahwa tubuhnya saat ini adalah hasil genetik bukan latihan. Tentu saja iya tetap melakukan latihan beban dan mengatur pola makan untuk meraih tubuh idealnya. Namun, usaha yang ia lakukan tidak sebesar jika orang dengan tipe ectomorph dan endomorph ingin memiliki tubuh yang sama.

Ledakan massa otot yang dialami Adama tidak membuatnya jadi lambat. Ia tetap pemain yang cepat. Namun performanya saat ini justru terjadi setelah ia menyadari bahwa ia tidak perlu berlari terlalu cepat. Adama yang kita saksikan musim ini dengan 4 gol dan 7 asisnya adalah Adama yang tidak pernah berlari dengan 100% kecepatannya. Rata-rata ia hanya berlari hingga 70% dari kecepatan maksimal yang bisa ia lakukan.

Setidaknya hal inilah yang disarankan oleh pelatih fisiknya, Darren Campbell, yang ia temui saat masih membela Middlesbrough. Campbell adalah mantan atlet lari yang menjuarai lomba 100 meter di Olimpiade 2004. Sejak pensiun, ia banyak terlibat dengan peserta Liga Primer Inggris, tak terkecuali Adama Traore.

Saat bertemu dengan Adama Traore di Middlebrough, alih-alih mencoba untuk meningkatkan kecepatan lari Adama, Campbell justru menyarankan kepada Adama agar berlari lebih pelan. Ia mengatakan bahwa kecepatan lari Adama sangat luar biasa. Ia tidak perlu berlari dengan kecepatan maksimal untuk bisa melewati lawan-lawannya. Karena itu, Adama cukup berlari dengan 70% kecepatan maksimalnya, agar ia bisa menggunakan sisa energi yang dimiliki untuk berfikir, mengambil keputusan, dan melepaskan tendangan.

“Saya mungkin terlihat seperti sosok yang selalu mengeluarkan kecepatan maksimal saat menggiring bola. Tapi hal itu tidak lagi saya lakukan. Saya hanya mengeluarkan 70 persen dari kemampuan yang ada. Jika mau, saya bisa lebih cepat lagi. Namun dengan 70 persen, saya jadi lebih punya waktu untuk berpikir dan mengambil keputusan di atas lapangan,” katanya.

Dengan kata lain, Adama Traore sedang berusaha menjadi pemain komplet di atas lapangan. Kecepatan dan kekuatan sudah ia miliki sejak muda. Sejak pindah ke Inggris, badannya membesar, lebih berotot. Ia hanya butuh mengasah visi permainannya agar bisa menjadi lebih baik lagi. Mengutip perkataan legenda Wolves, Mel Eves, “Otak Adama harus bisa mengimbangi kakinya”.

Eves yang tampil lebih dari 200 kali dan mencetak 53 gol untuk Wolves tidak mengatakan bahwa Adama merupakan pemain yang bodoh. Faktanya, Adama merupakan salah satu pemain terbaik klub di bawah asuhan Nuno Espirito Santo. Ia bahkan dapat mengisi semua lini di sisi kanan jika dibutuhkan. Entah itu sebagai bek, gelandang, ataupun penyerang. Hanya saja, Eves merasa salah satu alasan Adama tak bisa menembus Barcelona adalah visi permainan yang minim.

Selama 11 tahun hidup di Barcelona (2004-2015), Barcelona selalu mengedepankan permainan visioner. Apalagi setelah kesuksesan Pep Guardiola. Andaikan Barcelona masih main seperti saat diasuh Louis van Gaal atau Carles Rexach, mungkin dirinya punya peluang menembus tim utama Blaugrana. Namun untuk Barcelona yang sudah menemukan resep sukses mereka, Adama tidak memenuhi kriteria. Tidak setelah kesuksesan Guardiola dengan tiki taka-nya.

Tidak pernah ada yang meragukan kemampuan Adama Traore. Eusebio, Sherwood, Tony Pulis, apalagi Espirito Santo, semua percaya bahwa Adama adalah pemain yang spesial. Bersama Wolves, kemampuan Adama mulai mendapatkan pengakuan dunia. Ia cepat, kuat, dan tak tergantikan. Tapi transformasinya ternyata belum berakhir.

Pemain kelahiran 25 Januari 1996 itu masih bisa lebih menakutkan lagi. Dirinya masih bisa lebih bersinar lagi. Apabila semua berjalan mulus, tidak mustahil baginya disejajarkan dengan pemain-pemain terbaik dunia, atau menjadi bintang di tim sekelas Real Madrid ataupun Liverpool.

Komentar