Di Balik keputusan Erling Braut Haaland memilih Borussia Dortmund

Analisis

by Adrianus Eduard Johanes

Adrianus Eduard Johanes

"Losing my religion to football"

Di Balik keputusan Erling Braut Haaland memilih Borussia Dortmund

Ramai diisukan akan segera membela Manchester United, disebut siap membela Juventus, atau hanya sekedar menukar seragam RB Salzburg dengan Leipzig, Erling Braut Haaland telah menentukan masa depannya. Penyerang sensasional asal Norwegia tersebut resmi menandatangani kontrak empat setengah tahun bersama Borussia Dortmund. Haaland ditebus dari RB Salzburg seharga 22,4 juta Euro dan akan mulai berlatih bersama Marco Reus dan kawan-kawan pada 3 Januari 2020.

Kedatangan Haaland jelas menjadi kemenangan tersendiri untuk BVB. Setelah tampil impresif di Liga Champions UEFA 2019/2020 dengan mencetak delapan gol dari enam pertandingan, Haaland masuk dalam daftar incaran berbagai kesebelasan ternama Eropa. Bukan hanya Manchester United, Juventus, dan RB Leipzig, Haaland juga dikaitkan dengan FC Barcelona, Real Madrid, Bayern Munchen, Manchester City, Chelsea, dan Arsenal.

Die Rotten Bullen –julukan Leipzig- selaku saudara RB Salzburg awalnya disebut sebagai pelari terdepan untuk mendatangkan Haaland. Menurut laporan Metro, sebagai sesama klub milik perusahaan minuman energi, Red Bull, Leipzig bisa mendatangkan Haaland dengan harga yang jauh lebih rendah dibandingkan kesebelasan lainnya. Hanya mengeluarkan sekitar 29,27 juta Euro ketika tim seperti Manchester United dimintai dana lebih dari tiga kali lipatnya.

Koneksi tersebut memang membuat RB Leipzig sering kedatangan pemain dari Salzburg. Hingga 30 Desember 2019, mereka sudah 19 kali membeli pemain dari Salzburg. Termasuk Naby Keita, Konrad Laimer, dan Dayot Upamecano. Namun, 29,27 juta Euro ternyata sudah lebih dari klausul pelepasan yang dimiliki Haaland di RB Salzburg. Klausul yang diaktifkan Dortmund untuk mendaratkan penyerang kelahiran 21 Juli 2000 itu ke Signal Iduna Park.

https://twitter.com/panditfootball/status/1211296929214156801">

Kalah dari Dortmund, bukan berarti RB Leipzig tidak berusaha meyakinkan Haaland untuk mengikuti jejak senior-seniornya. Dilansir sport.de, Kepala Pelatih RB Leipzig Julian Nagelsmann sudah bertemu dengan Haaland, menjelaskan gaya permainannya dan rencana yang ia punya untuk pemain kelahiran Leeds itu. Sportbuzzer bahkan mengatakan bahwa kesepakatan dengan RB Leipzig gagal terjadi di menit-menit akhir karena Nagelsmann tidak bisa menjamin jam terbang bagi Haaland.

Kehadiran Patrik Schick, Yussuf Poulsen, dan Timo Werner di lini depan RB Leipzig membuat Haaland ragu dirinya akan bisa mendapat jam terbang yang cukup di Leipzig. Jam terbang juga menjadi masalah saat Juventus berusaha mendekati Haaland. Meski Maurizio Sarri sudah melepas Mario Mandzukic ke Al-Hilal, La Vecchia Signora masih punya Gonzalo Higuain, Cristiano Ronaldo, dan Paulo Dybala sebagai penyerang. Mengingat formasi 4-3-1-2 dan 4-3-3 adalah pilihan Sarri di Juventus, hanya ada satu atau dua tempat yang bisa diisi di depan. Sebuah perjudian untuk Haaland.

Jam terbang menjadi faktor penting dalam pertimbangan Haaland menentukan masa depannya. Tapi, bukan satu-satunya yang ia incar ketika memilih pergi dari RB Salzburg. Uang juga menjadi faktor kuat dalam keputusan Haaland menolak Juventus. Kabarnya, Haaland meminta gaji delapan juta Euro per tahun ke kesebelasan asal Kota Turin tersebut. Uang yang dianggap terlalu besar untuk Juventus dan Manchester United.

Andai Juventus atau Manchester United memenuhi permintaan Haaland, mereka perlu mengeluarkan dana lebih dari 60 juta Euro. Mulai dari klausul pelepasan, gaji per tahun selama 56 bulan, hingga biaya agen, Mino Raiola, yang mencapai 10 juta Euro. Dana itu memang disanggupi oleh Dortmund.

Namun, sejak kedatangan Haaland, rumor tentang kepergian Jadon Sancho dari Signal Iduna Park semakin kencang. Bukan masalah jam terbang, tapi Dortmund perlu menjaga kestabilan keuangan mereka. Mereka sudah mengeluarkan dana besar untuk Haaland dan ingin mempermanenkan Achraf Hakimi yang diperkirakan diberi label 30 juta Euro oleh Real Madrid. Menjual Sancho adalah langkah paling masuk akal untuk BVB. Tapi semua ini masih rumor. Laporan finansial BVB di akhir musim 2019/2020 mungkin menentukan apakah Sancho perlu dijual atau tidak. Jika kehadiran Haaland benar-benar mengorbankan Sancho, mungkin Dortmund bisa dikatakan berjudi dengan transaksi ini.

Keganasan Haaland di lini depan memang tidak perlu diragukan lagi. Ia sudah membuktikan diri dengan jadi peraih sepatu emas di Piala Dunia U20 2019, mencetak sembilan gol dari tiga pertandingan, tak bisa disaingi oleh penyerang Inter Milan Andrea Pinamonti ataupun pemain muda Shakhtar Donetsk, Danylo Sikan. Padahal Sikan menjalani lebih banyak pertandingan dan keluar sebagai juara turnamen.

Ia juga terlibat dalam 36 gol dari 27 pertandingannya bersama RB Salzburg. Membobol gawang klub-klub ternama seperti Napoli dan Liverpool. Tidak ada yang meragukan Haaland, tetapi Sancho adalah pembelian terbaik klub dalam beberapa tahun terakhir. Hanya mengeluarkan dana kurang dari delapan juta Euro, Sancho sudah terlibat dalam 62 gol dari 72 pertandingan yang ia lalui selama dua setengah tahun di Signal Iduna Park.

Dortmund memang membutuhkan penyerang. Mereka hanya memiliki Paco Alcacer dan Mario Goetze sebagai ujung tombak. Keduanya pun bukan penyerang sejati. Bukan pemain yang memiliki karakteristik nomor sembilan, selalu haus gol, aktif mengancam di kotak penalti lawan, selalu fokus untuk membobol gawang.

Haaland adalah jawaban dari kebutuhan tersebut. Akan tetapi, penyerang seperti dia juga butuh sosok distributor handal. Menurut Transfermarkt, dari 28 gol yang dicetak Haaland untuk RB Salzburg selama 2019/2020 tidak ada satupun dihasilkan karena upayanya sendiri. Semua pasti diarsiteki oleh pemain-pemain lain. Entah itu Takumi Minamino, Hwang Hee-Chan, ataupun Patson Daka.

Sumber yang sama juga mencatat Daka, Haaland, dan Minamino sebagai trio paling produktif di musim 2019/2020. Setidaknya hingga 30 Desember 2019, mereka mencetak 54 dari 95 gol RB Salzburg. Hanya kalah dari trisula Pakhtakor (56 gol), Los Angeles FC (68), FC Flora (72), dan Flamengo (74). Haaland jadi pemain paling produktif dari trio RB Salzburg tersebut. Namun semuanya membutuhkan kontribusi dari pemain lain. Mengorbankan Sancho karena membutuhkan Haaland sama aja menutup satu lubang dan menggali di tempat lain. Ini adalah perjudian bagi Dortmund.

Tidak untuk Haaland. Begabung dengan Dortmund, Haaland mendapatkan semua yang ia inginkan. Jam terbang, gaji besar, semua dipenuhi oleh BVB. Keputusannya untuk memilih Dortmund ketika kencang dirumorkan akan tiba di Liga Primer Inggris mungkin terasa mengecewakan untuk banyak pihak. Namun belajar dari Sancho ataupun talenta sensasional Norwegia lainnya, Martin Odegaard, Liga Primer Inggris tak selalu menjadi jawaban terbaik.

Untuk saat ini, Haaland memutuskan bahwa Dortmund adalah pilihan terbaik baginya. Dirinya masih berusia 19 tahun. Masih banyak waktu yang bisa ia habiskan sambil menunggu Leeds United kembali mewarnai Liga Primer Inggris.

Komentar