Lukaku Bukan Disulap Inter Milan, tapi Disia-siakan Manchester United

Analisis

by Adrianus Eduard Johanes Saerong

Adrianus Eduard Johanes Saerong

"Losing my religion to football"

Lukaku Bukan Disulap Inter Milan, tapi Disia-siakan Manchester United

Keputusan Antonio Conte membuang Mauro Icardi untuk mendatangkan Romelu Lukaku sempat membuat alis banyak orang terangkat. Masa depan Icardi memang abu-abu setelah berselisih dengan pendahulu Conte, Luciano Spalletti. Namun, kehadiran Conte membuat Icardi optimis dengan Inter Milan. Kenyataannya, ia justru diasingkan ke Paris Saint-Germain.

Lukaku didaratkan dari Manchester United dengan dana 65 juta Euro untuk mengisi pos Icardi. Padahal, Lukaku bukanlah tipe penyerang yang biasa digunakan Conte. Melihat catatan sebelumnya, Conte lebih gemar menggunakan penyerang seperti Diego Costa, Carlos Tevez, dan Mirko Vucinic.

Conte lebih menyukai penyerang lincah dengan kemampuan teknik dan fisik yang mumpuni. Icardi ataupun Gabriel Barbosa yang berhasil membuktikan dirinya bersama Santos pada musim 2018 lebih mencerminkan tipe penyerang Conte dibandingkan Lukaku.

Terlepas dari kemampuan fisiknya, Lukaku bukanlah penyerang yang dibekali teknik tinggi ataupun memiliki mobilitas di atas lapangan. Saat membela Manchester United, sentuhan pertama dan kontribusi Lukaku dalam pertahanan sering dikritik. Dari 32 pertandingan Liga Primer Inggris musim 2018/2019, Lukaku 51 kali gagal mengontrol bola dan membuat Manchester United kehilangan penguasaan dalam 46 kesempatan berbeda.

VIDEO: Gol-gol terbaik Inter Milan dalam 1 dekade



Zlatan Ibrahimovic bahkan berani mempertaruhkan uang soal teknik Lukaku. "Lukaku merupakan pemain yang kuat. Namun, jangan mengharapkan kemampuan teknikal dari dia. Saya bahkan pernah menawarkan taruhan kepada dia. Tiap kali dirinya melakukan sentuhan pertama yang baik, akan saya berikan 50 paun. Dia menolak tawaran tersebut, mungkin takut," kata Ibrahimovic.

Lukaku juga tercatat sebagai salah satu penyerang dengan jarak tempuh paling pendek di Manchester United: Hanya meng-cover 9,44 kilometer per 90 menit. Angka ini lebih rendah dibandingkan Marcus Rashford (9,9km) dan Alexis Sanchez (10,46 km). Ia hanya unggul dari Anthony Martial (9,05 km).

Selisihnya memang terlihat kecil. Namun, 0,2 kilometer saja bisa berarti sekali bolak-balik lapangan. Sebagai perbandingan, Diego Costa menjelajahi 9,8 kilometer per 90 menit saat diasuh Conte yang artinya, angka ini lebih dekat dengan Rashford dibandingkan Lukaku.

Mengeluarkan uang 65 juta euro untuk penyerang yang hanya mencetak 15 gol dari 45 pertandingan di empat kompetisi berbeda tentu terlihat boros. Apalagi sebulan sebelumnya, Luka Jovic berhasil dikunci Real Madrid dengan dana yang lebih murah (60 juta paun) dan dia mencetak 27 gol sepanjang 2018/2019, termasuk 10 gol di Liga Europa, hanya selisih satu dari Olivier Giroud yang mengakhiri kompetisi tersebut sebagai pemain paling subur sekaligus juara.

Meski diselimuti keraguan tersebut, Conte berhasil membuktikan bahwa keputusannya menebus Lukaku dari Manchester United bukan sebuah kesalahan. Baru mengenakan seragam Inter sekitar empat bulan, Lukaku berhasil mencetak 14 gol dari 22 pertandingan yang ia jalani. Menutup 2019 dengan total 22 gol sepanjang tahun, angka ini lebih produktif ketimbang Icardi, Antoine Griezmann (18), ataupun salah satu target Conte di musim panas, Edin Dzeko (17).

https://twitter.com/panditfootball/status/1191382731621457926">

Lebih dari sekadar gol, Lukaku juga lebih banyak membantu Inter menciptakan peluang, semakin jarang gagal mengontrol bola, dan tidak egois. Selama bermain di Inggris, Lukaku digambarkan seperti bayi besar: Egois dan sulit diatur.

Steve Walsh, analis Mourinho saat pertama menangani Chelsea sempat memperingatkan "The Special One" sebelum Lukaku diboyong ke Old Trafford. Walsh yang ketika itu menjabat sebagai Direktur Olahraga Everton, mengatakan bahwa Lukaku memiliki karakter kurang baik. “Saya sudah mengatakan hal ini kepada Mourinho. Dia [Lukaku] adalah bayi besar, sulit diatur. Mou mengaku sanggup menanganinya. Namun, Lukaku dan Pogba kemudian menjadi masalah utama dia Manchester United,” kata Walsh.

Alih-alih egois dan memberontak, Lukaku justru menjadi salah satu pemain paling berpengaruh di ruang ganti Inter. “Lukaku adalah raksasa yang lembut. Ia selalu tersenyum, siap menjalankan tugas, dan selalu ada untuk teman-temannya,” puji Conte.

“Lukaku adalah sosok yang sangat baik. Kami selalu diskusi dan berusaha memahami sesama lebih baik lagi untuk membuahkan hasil di lapangan,” aku tandem Lukaku di lini depan Inter, Lautaro Martinez.

Sikap terpuji itu kemudian diperlihatkan Lukaku pada pekan ke-17 Serie-A 2019/2020. Membantai Genoa 4-0, Lukaku menyumbang gol pertama dan terakhir I Nerazzurri pada pertandingan tersebut. Namun, di antara momen tersebut, Lukaku sebenarnya punya kesempatan untuk mengeksekusi penalti. Sebelumnya, tiga dari lima penalti yang didapat Inter di Serie-A adalah milik Lukaku. Tanpa kehadiran Martinez, Lukaku seharusnya menjadi algojo dari 12 pas. Akan tetapi, ia justru mempercayakan tugas tersebut ke penyerang muda, Sebastiano Esposito.

Berkat Lukaku, Esposito berhasil mencetak gol pertamanya untuk Inter. Masih berusia 17 tahun dan 172 hari, Esposito langsung tercatat sebagai pencetak gol termuda Inter di Serie-A dalam 62 tahun terakhir. Hanya legenda Inter, Mario Corso, yang pernah mencetak gol di Serie-A ketika usianya lebih muda dari Esposito (17 tahun dan 97 hari). Semua berkat Lukaku.

“Lukaku adalah sosok yang fantastis. Dia selalu meyakinkan saya bahwa semua akan baik-baik saja. Kami berduet dengan sangat baik, ia hanya meminta saya untuk yakin pada diri sendiri,” kata Esposito setelah mencetak sejarah.

Keberhasilan Lukaku bersama Inter bisa dilihat dari berbagai faktor. Kepala Pelatih Tim Nasional Belgia, Roberto Martinez, pernah mengatakan bahwa Lukaku memilih Inter karena merasa bosan di Manchester United. Menengok kembali cap kegagalan yang ia dapat di Manchester United, hal itu memang baru datang di musim kedua. Pada musim 2017/2018, setelah ditebus dengan dana sekitar 76 juta paun dari Everton, Lukaku adalah pemain paling produktif yang dimiliki oleh Mourinho.

https://twitter.com/SkySportsStatto/status/1208022236722073601">

Lukaku terlibat dalam 36 gol Manchester United dalam 51 pertandingan, mencatatkan namanya sendiri 27 kali di papan skor. Ia juga tercatat sebagai salah satu pemain dengan jam terbang terbanyak (4.071 menit), hanya David De Gea (4.140 menit) dan Chris Smalling (4.156 menit) yang lebih sering main dibandingkan Lukaku. Di Inter, Lukaku mendapatkan udara segar dan menggila lagi.

Mungkin juga ada yang mengatakan bahwa Conte adalah kunci keberhasilan Lukaku di Inter; bagaimana nakhoda asal Italia itu rajin memotivasi Lukaku, bukan melempar kritik seperti Mourinho. Bagaimana ia tahu cara memaksimalkan kekuatan Lukaku dengan tak memintanya mengisi posisi sayap seperti Ole Gunnar Solskjaer.

"Ketika diminta Solskjaer main di sayap, saya tahu keluar dari Manchester United adalah jalan satu-satunya," kata Lukaku.

Lukaku menggila di Italia karena Inter seperti dibangun dengan dia sebagai pusatnya. Dirinya tak akan dikritik karena jarang membantu pertahanan. Ia tidak bekerja sendirian di depan, tetapi sadar bahwa bola suatu saat pasti akan diberikan ke dirinya. Itu membuat Lukaku lebih fokus dan efektif dibandingkan saat di Manchester United.

Para pendukung Manchester United mungkin menyesal melihat Lukaku produktif di Italia. Namun, jangankan Manchester United, kesebelasan apapun yang dibela, jika tidak menggunakan Lukaku sebagai titik utama, memberi kepercayaan, dan membiarkan dia bermain sesuai gayanya, belum tentu merasakan hal yang sama.

Gaya permainan Lukaku memang beda dengan penyerang-penyerang andalan Conte lainnya. Akan tetapi, Conte memberikan semua itu kepada pemain keturunan Zaire tersebut dan mendapatkan versi terbaiknya. "Harga 65 juta euro yang kami bayar ke Manchester United tidaklah seberapa. Lagipula pembayaran itu dicicil selama lima tahun. Namun, Lukaku sudah membuktikan kenapa kami begitu ngotot ingin mendaratkan dirinya ke sini," kata Conte.

Komentar