Manchester City dan Newcastle United Sebagai Dua Kutub Berseberangan

Analisis

by Adrianus Eduard Johanes Saerong

Adrianus Eduard Johanes Saerong

"Losing my religion to football"

Manchester City dan Newcastle United Sebagai Dua Kutub Berseberangan

Ketika Newcastle United bersaing di papan atas Liga Primer Inggris (1993-1997), Manchester City hanya bisa berjuang menghindari degradasi. Bahkan saat The Magpies jadi pesaing utama Manchester United untuk gelar juara di 1995/1996, The Citizens mengakhiri kompetisi dengan duduk di zona merah. Man City hanya meraih 38 poin dari 38 pertandingan dan terdegradasi dari divisi tertinggi sepakbola Inggris.

Ketika Manchester City tumbuh menjadi kekuatan baru di sepakbola Inggris, Newcastle United tak lebih dari sekadar tim papan tengah ke bawah. Bahkan mereka dua kali merasakan degradasi dalam periode 10 tahun (2008-2018). Pemilik Newcastle United, Mike Ashley, adalah salah satu sosok paling dibenci oleh suporter di Inggris. Sementara Mansour bin Zayed Al Nahyan memberikan harta berlimpah pada Manchester City, meraih empat gelar Liga Primer Inggris, dan selalu diperhitungkan sebagai salah satu favorit juara.

Manchester City dan Newcastle United seperti dua kutub yang berbeda. Bukan hanya dari sejarah, tapi juga di atas lapangan. The Citizens diasuh Pep Guardiola, salah satu inovator dunia kepelatihan modern yang fokus kepada dominasi penguasaan bola dan permainan atraktif. Sedangkan The Magpies diasuh Steve Bruce, salah satu nakhoda paling berpengalaman di Inggris, tapi juga dikenal menerapkan gaya permainan yang usang. Ia hanya fokus kepada fisik dan kecepatan pemain.

Waktu Bruce resmi ditunjuk sebagai manajer Newcastle United, suporter The Magpies tidak ragu untuk menyuarakan kekesalan mereka. Tim kesayangan mereka sebelumnya diasuh oleh pelatih sekelas Rafael Benitez, sosok yang telah terbukti bisa memberikan piala dan bermain dengan atraktif. Tapi tiba-tiba, ia diganti oleh Bruce yang lebih sering naik-turun divisi dibandingkan memberikan piala. Apalagi, Bruce juga punya sejarah menangani Sunderland (2009-2011), musuh bebuyutan Newcastle United.

Sementara saat Guardiola resmi dipercaya menangani Manchester City, optimisme tubuh di kalangan suporter The Citizens. Sejak Mansour bin Zayed menguasai klub, The Citizens sudah membuat kompleks baru untuk akademi tim, mendatangkan talenta-talenta muda berkelas dari seluruh dunia, tapi tak ada yang berhasil menembus tim utama. Guardiola dengan pengalamannya bersama Barcelona punya bekal melihat talenta muda dan memberikan mereka kesempatan. Kemudian lahirlah Phil Foden, Eric Garcia, dan lain-lain.

Live Streaming gratis Newcastle United vs Manchester City di aplikasi, parabola, dan Polytron Streaming Mola TV

Pada pekan ke-14 Liga Primer Inggris yang disiarkan secara langsung oleh Mola TV (30/11), Guardiola dan Bruce akan bertemu untuk pertama kalinya di pinggir lapangan. Menurut Transfermarkt, kedua sosok tersebut belum pernah sekalipun duel meskipun Bruce sudah menjalani karier manajerial selama 21 tahun dan Guardiola telah menetap di Inggris sejak 2016. Bahkan ajang Piala FA ataupun Liga tidak bisa mempertemukan mereka.

Perbedaan filosofi permainan antara keduanya akan menjadi daya tarik tersendiri dalam laga ini, meski Manchester City jelas lebih diunggulkan dibandingkan Newcastle United. Mereka duduk di peringkat ketiga klasemen sementara Liga Primer Inggris, sementara The Magpies ada di posisi ke-14, hanya unggul lima poin dari zona degradasi.

Meski demikian, The Magpies bukanlah lawan yang bisa dianggap remeh oleh David Silva dan kawan-kawan. Sejak awal musim, Sean Longstaff dan kawan-kawan baru menelan satu kekalahan di kandang sendiri. Bruce pun mulai mendapat dukungan dari suporter setia The Magpies. Ini membuktikan bahwa ia bisa mengeluarkan kemampuan terbaik pemain-pemain Newcastle United meski tidak bermain atraktif layaknya Manchester City arahan Guardiola.

Bahkan, Ian Murtagh dari Daily Star merasa Guardiola akan iri melihat kondisi Steve Bruce saat ini. “Pep [Guardiola] sempat mengatakan bahwa dirinya rindu dengan Aymeric Laporte. Ia memang sedang krisis pemain lini belakang. Fernandinho bahkan beberapa kali diminta untuk mengisi pos bek tengah. Dirinya pasti iri dengan Bruce yang memiliki tiga sampai enam bek tengah berkualitas,” tulis Murtagh.

Mengingat gaya permainan "kuno" Steve Bruce mengandalkan kekuatan lini belakang dan serangan balik, bukan tidak mungkin The Magpies menyulitkan Manchester City. Sama seperti saat mereka merepotkan Chelsea dan Arsenal. Bahkan meraih kemenangan melawan Manchester United dan Tottenham Hotspur. Saksikan pertandingan Newcastle United kontra Manchester City, 30 November 2019, pukul 17.30 WIB di aplikasi, parabola, dan Polytron Streaming Mola TV.

Komentar