Analisis Taktik Timnas Indonesia U-19 Part 2: Serangan Klasik dan Celah di Lini Belakang

Analisis

by Petrick Sinuraya

Petrick Sinuraya

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Analisis Taktik Timnas Indonesia U-19 Part 2: Serangan Klasik dan Celah di Lini Belakang

Timnas Indonesia memastikan diri lolos ke putaran final Piala Asia U-19 2020 di Uzbekistan setelah keluar sebagai juara Grup K. Catatanya, anak asuh Fakhri Husaini ini meraih 7 poin dari 3 laga, mencetak 8 gol—4 gol dihasilkan dari eksplorasi pemain sayap-- dan kebobolan 2 gol.

Bagaimana analisis dari catatan tiga laga yang dilakoni Timnas Indonesia U19? Fakhri secara umum skema 4–3–3 dalam tiga laga lalu. Formasi ini terkadang berubah menjadi 4–1–2–3 atau 4–2–3–1 ketika menyerang, serta menjadi 4–1–4–1 ketika kehilangan bola.

Highlights pertandingan kualifikasi Piala Asia U19 Indonesia vs Hong Kong

Meskipun skema 4–1–4–1 tidak terlalu rapat secara horizontal, namun dengan menumpuknya para pemain di bagian tengah lapangan membuat para pemain tengah Indonesia seringkali berhasil melakukan intersep. Kemungkinan melakukan intersep diperbesar dengan kemampuan membaca permainan dari para pemain tengah dan pemain belakang Indonesia. Hal ini jelas memudahkan Garuda Nusantara untuk mencuri bola dan melakukan serangan balik.

Umpan terobosan diberikan para gelandang ke pemain sayap, mengingat bagian sayap relatif lebih kosong dibanding bagian tengah lapangan.

Serangan balik inilah yang masih menjadi “andalan” Timnas U-19. Ketika berhasil mendapatkan bola, gelandang Indonesia langsung berusaha untuk mencari pemain sayap yang berada di sisi luar sebagai sasaran utama serangan balik. Umpan terobosan ke belakang garis pertahanan lawan menjadi senjata utama untuk menjangkau para pemain sayap tersebut dalam transisi positif yang dilakukan Indonesia.

Namun sebaik-baiknya pola serangan Indonesia, ternyata masih ada beberapa kekurangan. Hal yang cukup mencolok adalah minimnya keberadaan pemain Indonesia di ruang antar lini pertahanan lawan, khususnya para gelandang serang.

Seringkali gelandang tengah Indonesia berhasil menjangkau penyerang dengan umpan datar tajam dan akurat, namun penyerang tersebut harus mengembalikan bola kepada sang gelandang karena tidak mempunyai opsi operan di dekatnya. Umpan-umpan datar dari Brylian Aldama kepada Bagus seringkali tidak berbuah apa-apa karena minimnya opsi kombinasi bagi sang striker.

Bagus tidak mempunyai opsi operan di dekatnya dan harus mengembalikan bola kepada gelandang. Hal ini cukup sering terjadi dalam laga melawan Hong Kong.

Padahal, jika Indonesia lebih agresif dengan menempatkan pemain menyerangnya di ruang antar lini pertahanan lawan maka akan lebih dapat memberikan ancaman kepada lawan. Hal ini dibuktikan dengan skema gol penyeimbang pada laga melawan Korea Utara. Supriadi, yang biasanya berdiri di garis tepi, memilih masuk ke half-space dan memberi opsi operan bagi Bagus. Tidak sampai 10 detik kemudian, kerja sama mereka menghasilkan penalti bagi Indonesia.

Operan indah Brylian baru dapat dimanfaatkan dengan baik karena Supriadi memilih untuk masuk membantu Bagus. Tidak hanya itu, keberadaan Beckham juga dapat menjadi opsi lain bagi Bagus di ruang antar lini pertahanan lawan.

Kombinasi seperti ini hanya terjadi dua hingga tiga kali dalam semua laga yang dilakoni Indonesia. Agak menyayangkan karena Indonesia mempunyai gelandang yang mampu memberikan umpan datar yang akurat dan tajam, seperti Brylian dan Maulana.

Celah lain dari Timnas Indonesia U-19 adalah kecenderungan untuk mengirimkan umpan silang lambung ke dalam kotak penalti. Postur fisik para pemain menyerang Indonesia agaknya kurang memadai untuk mengakomodasi pola penyerangan seperti ini. Hal ini diperparah dengan keberadaan pemain sayap maupun gelandang yang hampir semuanya berada jauh dari penyerang ketika umpan hendak dikirim. Kemungkinan antisipasi bola muntah menjadi minim, dan serangan harus berhenti sia-sia.

Umpan silang lambung, khususnya kepada Bagus, nampaknya bukan opsi yang cocok untuk skema serangan Indonesia.

Selain itu, Indonesia perlu pola umpan silang sebagai salah satu tambahan alternatif serangan perlu dipertimbangkan Fakhri. Keberadaan Serdy sebagai pemain berpostur tinggi dan serta kemampuan duel udara perlu dipertimbangkan oleh Coach Fakhri dan staf.

Highlights pertandingan Kualifikasi Piala Asia Indonesia vs Timor Leste

Serangan klasik lain adalah ketika memanfaatkan bola mati. Sebagai contoh dalam situasi sepak pojok menyerang, Indonesia menggunakan umpan masuk (in-swing) sebagai alat utama menjangkau pemain di kotak penalti. Eksekutor kaki kiri Indonesia adalah Maulana, sedangkan eksekutor kaki kanan ialah Beckham. Nama-nama seperti Bagus, Bagas, maupun Ridho seringkali menjadi sasaran umpan dari tendangan sudut.

Maulana menjadi eksekutor sepak pojok Indonesia dari sisi kiri pertahanan lawan. Biasanya, umpan yang diberikan Maulana akan diarahkan kepada Bagus di tiang jauh.

Namun sepak pojok Indonesia yang seringkali diarahkan ke tiang jauh itu, mendapatkan antitesis ketika laga kontra Korea Utara yang memiliki kiper berpostur tinggi macam Si Kwan-guk. Postur kiper Korea Utara yang jauh lebih tinggi daripada semua pemain pada laga hari itu, serta karena keaktifannya, mampu memotong bola yang diangkat oleh Maulana ataupun Beckham.

Lubang di Lini Belakang

Selain pola serangan “klasik”—yang memungkinkan mudah dibaca lawan—sebenarnya Timnas U-19 juga masih menyisakan “lubang” di lini belakang. Nyatanya Indonesia masih kebobolan 2 gol dari Timor Leste dan Korea Utara. Sebenarnya bagaimana pola pertahanan Timnas U-19?

Dalam situasi bertahan menghadapi sepak pojok lawan, Indonesia menggunakan gabungan antara man-marking dengan zonal-marking.

Jumlah pemain yang melakukan man-marking disesuaikan dengan jumlah pemain menyerang lawan di kotak penalti. Sedangkan saat menerapkan zonal-marking, jumlah pemain Timnas U-10 berjumlah hingga tiga orang.

Ketiga pemain di zonal-marking tersebut berada di tempat berbeda. Satu berada di tiang dekat, satu berada di bagian tepi kotak enam meter dekat tiang dekat, dan satu lagi di bagian tengah atau depan kotak enam meter. Ketiga pemain ini bertugas untuk menyapu bola apabila lawan mengarahkan sepak pojok ke tiang dekat.

Ketiga pemain Indonesia yang melakukan zonal-marking bertugas untuk menyapu umpan sepak pojok yang diarahkan ke tiang dekat.

Di sisi lain, apabila lawan mengarahkan sepak pojok mereka ke bagian tengah kotak penalti atau bahkan tiang jauh, maka yang bertanggung jawab adalah Ernando Ari Sutaryadi. Sang kiper diberikan tanggung jawab tersebut karena kemampuannya untuk membaca arah umpan serta keberaniannya untuk memotong bola udara.

Ernando aktif memotong bola sepak pojok yang diarahkan lawan ke tengah kotak penalti maupun ke tiang jauh.

Penggunaan perangkap off-side adalah sesuatu yang cukup berani bagi skuat Merah Putih. Koordinasi dan kedisiplinan tingkat tinggi para pemain bertahan diperlukan agar perangkap off-side dapat berfungsi dengan efektif. Jika tidak, maka akibat yang ditimbulkan bisa fatal.

Lubang di pertahanan ini juga terlihat dalam ketiga laga yang dijalani oleh Indonesia. Beberapa kali masih terjadi kesalahan koordinasi antar para pemain bertahan dalam menerapkan jebakan off side. Seringkali masih ada satu pemain yang tertinggal di belakang dan membuat penyerang lawan berada dalam posisi lowong untuk menyerang. Meskipun demikian, patut diapresiasi bahwa penggunaan perangkap off-side ini lebih banyak menunjukkan hasil positif dibanding negatif.

Ketertinggalan Dewangga membuat empat pemain Korea Utara lepas dari jebakan off-side.

Isu lain yang cukup mencolok dari pertahanan Indonesia adalah kecenderungan kedua bek sayap, Bagas dan Salman, untuk naik menyerang secara bersamaan. Pun apabila tidak bersamaan, salah satu dari mereka (khususnya Bagas) sering terlambat turun kembali ke garis pertahanan.

Hal ini membuat area yang ditinggalkan Bagas acapkali menjadi sasaran utama serangan balik lawan dan terbukti. Beruntung Ridho dan Dewangga cukup disiplin untuk melapis kedua bek sayap tersebut. Saat Ridho dan Dewangga sedang lengah, hasilnya nampak ketika proses terjadinya penalti saat Timor Leste. Bagas terlambat menutup pergerakan pemain lawan sehingga mudah masuk ke area penalti sehingga kiper Ernando terpaksa mengganjal pemain lawan.

Bagas sering terlambat turun sesudah menyerang. Dalam peristiwa ini, beruntung pemain Hong Kong tidak mengeksploitasi ruang yang terbuka.

Bagas dan Salman naik menyerang secara bersamaan dan secara bersama-sama pula terlambat turun.

Sisi kiri yang ditinggalkan Salman dieksploitasi oleh penyerang Korea Utara. Hal ini membuat Dewangga dan Ridho perlu bekerja ekstra keras untuk melapis ruang tersebut.

Tidak hanya itu, Indonesia juga masih menghadapi masalah klasik berupa duel udara, khususnya dalam laga melawan Korea Utara. Sebagaimana telah diuraikan, Coach Fakhri memang telah menempatkan lima pemain bertahan untuk melawan empat pemain Korea Utara dalam duel udara. Namun, hal tersebut masih kurang efektif karena pemain bertahan Indonesia masih sering kalah dalam duel satu lawan satu di udara.

Dewangga, Salman, dan Ridho nampak terlihat salah posisi secara bersamaan. Hal ini membuka ruang bagi penyerang Korea Utara untuk melakukan tembakan dan mencetak gol.

Hal ini diperparah dengan masih kurangnya kualitas penempatan para pemain untuk membentuk garis pertahanan yang jelas. Di sisi lain, para pemain bertahan Indonesia cenderung masih sulit membaca jatuhnya arah bola sehingga terlihat panik ketika sudah kalah duel udara pertama.

Dalam gambar ini, Korea Utara bahkan hanya membutuhkan dua pemain untuk mengganggu pertahanan Indonesia.

Empat pemain bertahan Indonesia gagal memenangkan duel udara dan malah memberikan bola kepada pemain lawan.

Buruknya koordinasi lini pertahanan dan minimnya kualitas antisipasi membuat keunggulan pemain dalam duel udara seakan menjadi tidak berarti.

Highlights pertandingan Kualifikasi Piala Asia U19 Indonesia vs Korea Utara

Dengan sejumlah masalah tersebut, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan oleh Coach Fakhri ataupun pelatih berikutnya. Masih ada beberapa bulan lagi bagi Garuda Muda untuk memperbaiki dan mengembangkan kualitas permainan. Bukan hal yang mudah memang, tapi bukan hal mustahil juga. Semoga Timnas siap pada waktunya.

Baca juga:

Analisis Taktik Timnas Indonesia U-19 Part 1: Eksplorasi Sayap Efektif Hasilkan 4 Gol

Komentar