Opsi Baru Serangan Liverpool Melalui Alex Oxlade-Chamberlain

Analisis

by Abimanyu Bimantoro

Abimanyu Bimantoro

Football Analyst | Promising Sports Brand Strategist | Liverpool #YNWA

Opsi Baru Serangan Liverpool Melalui Alex Oxlade-Chamberlain

Delapan belas bulan yang lalu menjadi awal dari mimpi buruk Alex Oxlade-Chamberlain. Benturannya dengan Aleksander Kolarov saat ia membela Liverpool di babak semifinal Liga Champions membuatnya mengalami cedera ligament lutut dan harus menepi dalam waktu yang cukup lama. Tidak hanya kehilangan kesempatan membela Liverpool di babak Final Liga Champions 2018, ia juga kehilangan kesempatan membela tim nasional Inggris di Piala Dunia 2018.

Sekitar satu tahun hinggal akhirnya Oxlade-Chamberlain bisa bermain kembali. Namun kondisinya belum kembali seperti sebelum ia mengalami cedera. Posisinya di tim utama Liverpool belum bisa ia dapatkan kembali. Ketika itu Liverpool sedang dalam performa terbaik dengan trio Salah, Mane, dan Firmino. Di lini tengah, Fabinho, Wijnaldum, Henderson, dan James Milner berhasil membuat permainan Liverpool lebih seimbang. Chamberlein pun hanya beberapa kali masuk ke bangku cadangan Liverpool hingga musim 2018/2019 berakhir.

Memasuki musim 2019/2020, belum banyak yang berubah bagi Chamberlein. Hanya saja sedikit angin segar mulai berhembus. Chamberlein mendapatkan kontrak baru dari Liverpool pada bulan Agustus 2019. Durasi kontraknya bertambah 1 tahun dari sebelumnya. Meski belum mendapatkan tempat di tim utama, setidaknya Chamberlein mendapatkan sinyal bahwa dirinya masih merupakan bagian dari rencana Jurgen Klopp di Liverpool.

Kesabaran Chamberlain dan usaha kerasnya akhirnya berbuah manis. Saat mendapatkan kesempatan bermain sejak menit pertama saat Liverpool menjalani pekan ketiga Liga Champions melawan klub Belgia, Genk, Chamberlain menjawabnya dengan menyumbangkan 2 gol pembuka Liverpool. Kedua golnya ia cetak melalui tendangan dari luar kotak penalti, menjadikan ia sebagai pemain pertama sejak Lionel Messi di bulan Maret 2019 lalu yang mencetak 2 gol dari luar kotak penalti di pertandingan Liga Champions.

Catatan positif Chamberlain ini dinilai bukan sekedar 2 gol di Liga Champions. James Pearce, dalam kolomnya di The Athletics, menjelaskan bagaimana Chamberlain memberikan opsi baru bagi Klopp untuk membangun skema serangan Liverpool.

Musim lalu, Liverpool sangat nyaman dengan memainkan 3 gelandang yang sangat stabil. James Milner, Fabinho, Jordan Henderson, atau Gini Wijnaldum bergantian mengisi lini tengah Liverpool untuk mengamankan area ini dari ancaman pemain tengah lawa. Saat menyerang, peran mereka adalah untuk mengalirkan bola ke sisi sayap kepada dua fullback Liverpool, atau ke depan kepada trio penyerang Liverpool. Permainan simpel yang cenderung textbook ini menyeimbangkan permainan Liverpool di saat trio penyerang dan dua fullback mereka bermain sangat atraktif.

Tengah pekan lalu saat bertandang ke markas Genk, Klopp memainkan Chamberlain, Naby Keita, dan Fabinho sebagai trio lini tengah Liverpool. Fabinho masih menjalankan perannya sebagai mercusuar ditengah badai yang diciptakan rekan-rekannya. Sementara Chamberlain dan Naby Keita memainkan permainan yang sedikit berbeda dari yang biasa diperagakan Henderson dan Wijnaldum saat berada di posisi tersebut.

Klopp memberikan kebebasan untuk Keita dan Chamberlain untuk memaksimalkan kreativitasnya di lini tengah Liverpool. Tidak jarang terlihat dalam pertandigan tersebut Naby Keita ataupun Chamberlain berada di posisi yang sejajar dengan Sadio Mane dan Mohammed Salah sebagai pemain paling depan Liverpool. Hal ini membuat secara tidak langsung Liverpool memainkan 5 pemain di lini depan mereka.

Hasilnya, serangan Liverpool sangat sulit dibendung. Manuver-manuver Mohammed Salah dan Sadio Mane didukung oleh permainan ajaib Roberto Firmino, dilengkapi kreativitas Chamberlain dan Naby Keita. Liverpool menjadi semakin mudah untuk melakukan serangan balik sesaat setelah mereka berhasil merebut bola dari lawan.

Gelandang Genk mengatakan, “kami baru saja melawan klub terbaik di dunia ini. saat kami kehilangan bola, mereka akan langsun menghukum kami. Ketika Oxlade-Chamberlain mencetak gol semacam itu, pertandingan berjalan semakin berat. Liverpool adalah tim dari level yang berbeda.”

Namun, permainan agresif Liverpool ini tentu meninggalkan pertanyaan apakah area pertahanan mereka akan baik-baik saja? Selain 5 pemain tadi, harus diingat bahwa kedua fullback Liverpool juga banyak melakukan overlap untuk membantu serangan.

Meski memang sistem permainan baru Liverpool ini belum benar-benar diuji, bek tengah mereka, Virgil Van Dijk mengatakan pertahanan Liverpool akan baik-baik saja. “Kami masih memiliki Fabinho di depan barisan pertahanan, ia akan menyapu semua bola yang datang ke area pertahanan dan kami akan membantunya. Kami hanya harus lebih baik dalam memenangkan second ball dan melakukan transisi dengan counter-press,” kata bek asal Belanda tersebut.

Komentar