Rashford, Kane, dan Potensi Skuat Muda Inggris

Analisis

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Death. Glory. Rock n Roll. Kontributor Pandit Football Indonesia.

Rashford, Kane, dan Potensi Skuat Muda Inggris

Inggris mendominasi penuh laga lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2022. Mereka menang 4-0 atas Bulgaria, Minggu (8/9/2019) dini hari. Penyerang Harry Kane menjadi bintang dengan hat-trick yang diciptakan, tetapi peran Marcus Rashford tidak bisa dipandang sebelah mata.

Kemenangan besar The Three Lions tidak didapatkan dengan mudah. Formasi 5-4-1 yang diturunkan oleh pelatih Krasimir Balakov cukup berhasil meredam Inggris yang tampil menggunakan 4-3-3 dengan Kane, Rashford, dan Raheem Sterling sebagai trisula.

Dalam sepakbola, momen kecil bisa berdampak besar. Hal itu terbukti atas terciptanya gol pertama Inggris.
Ketika rasa frustrasi mulai tumbuh akibat gagal membongkar pertahanan Bulgaria dalam 23 menit pertama, Rashford secara `egois` melepaskan tendangan spekulasi yang hanya menghasilkan tendangan gawang bagi tim lawan. Hasilnya, kita sama-sama tahu: kiper Plamen Iliev melakukan kesalahan fatal. Operannya mampu dipotong oleh Sterling, yang kemudian memberikan asis kepada Kane.

Pemain Manchester United itu kembali berperan penting atas gol kedua. Kesabaran dan kedisiplinannya berada di sayap kiri penyerangan memungkinkan Inggris melakukan serangan balik kilat. Akselerasinya tidak mampu diantisipasi oleh Bulgaria, menghasilkan penalti yang dieksekusi secara sempurna oleh Kane.

Nama terakhir kemudian memberikan asis bagi Sterling untuk gol ketiga Inggris, sebelum akhirnya menutup laga dengan hat-trick (lagi-lagi) melalui titik putih.

"Tentu menyenangkan bisa mencetak banyak gol dan rekor individu, tetapi hal terpenting adalah memenangi trofi bersama tim dan Inggris tidak melakukannya sejak lama," tutur Kane seperti yang dikutip Guardian.

Meski dua golnya berasal dari penalti, bukan berarti Kane tidak patut dipuji. Ia total telah mencetak 25 gol dalam 40 penampilan bersama tim nasional, melampaui torehan Geoff Hurst dan Stan Mortensen.

"Kami semua melihat Ia berlatih menendang penalti selama 20 menit (dalam latihan) kemarin. Ketika Anda melihat proses yang dijalaninya, Ia pantas memiliki setiap kesempatan untuk sukses berkat latihan tersebut," ucap manajer Gareth Southgate.

Southgate patut semringah. Bukan hanya karena timnya bermain efektif dengan mencetak empat gol dari empat tendangan ke gawang, melainkan juga karena Ia memiliki kedalaman skuat yang menjanjikan dan mayoritas adalah pemain muda.

Lihatlah Kane. Meski telah lama berada di timnas Inggris dan dipercaya memegang ban kapten, Ia baru berusia 26 tahun. Southgate menilai Kane dapat menjadi sosok panutan bagi para pemain lain.

"Saya hanya bisa berbicara tentang mentalitas untuk menjadi seorang pemain top. Egois bukanlah kata yang tepat karena Ia bukanlah pemain yang egois," kata Southgate. "Jika Anda berbicara kepada penyerang-penyerang lain di skuat, mereka akan mengatakan kepada Anda tentang impresi besar yang mereka dapatkan (dari Kane)."

Pelatih berusia 49 tahun tersebut memang menurunkan skuat yang relatif berpengalaman dalam laga semalam. Hanya Michael Keane dan Declan Rice yang memiliki caps di bawah 10 pertandingan bersama Inggris. Namun, Ia juga tak sungkan memberi kesempatan kepada Mason Mount (20 tahun) menjalani debut, setelah masuk menggantikan Jordan Henderson pada menit ke-67.

Pemain muda lain yang disorot oleh publik Inggris adalah Jadon Sancho (19 tahun). Berdasarkan performanya bersama Borussia Dortmund (dua gol dan tiga asis dalam tiga laga Bundesliga 2019/20), jelas bahwa Ia bisa menjadi opsi terpercaya bagi Inggris.

Di daftar pemain cadangan yang tak dimainkan, masih ada James Maddison (22 tahun). Pemain yang berposisi sebagai gelandang serang ini tampil impresif bersama Leicester City.

Bukan tidak mungkin barisan pemain muda tersebut akan tampil sebagai starter ketika Inggris menghadapi Kosovo pada 11 September mendatang. Laga ini bisa disaksikan secara gratis di Web Streaming dan Apps Mola TV.

Komentar