Maddison Harapan Baru Kreativitas Inggris

Analisis

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Death. Glory. Rock n Roll. Kontributor Pandit Football Indonesia.

Maddison Harapan Baru Kreativitas Inggris

Kaki James Maddison menginjak rumput Stadion Old Trafford menjelang laga perdana Premier League musim 2018/19, sementara matanya mengamati sekeliling. Begitu banyak kamera siap menyoroti setiap gerik. Seketika, Ia tersadar bahwa dirinya sudah berada di dunia berbeda; di antara yang terbaik dan berpeluang menjadi salah satunya.

Debut Maddison bersama Leicester City di Premier League tidak memuaskan. Ia hanya bermain selama 63 menit (digantikan oleh Jamie Vardy) dan mereka kalah 1-2 dari Manchester United. Namun, baginya, ini tetap sebuah pengalaman yang terlupakan.

Maddison masih bermain di League One bersama Coventry City pada 2016. Dua tahun kemudian, ia bisa tampil di tempat pemain idolanya, David Beckham, membesarkan nama.

"Saya sering menyaksikan David Beckham ketika masih kecil, dan kita semua tahu seberapa baik Ia dari situasi bola mati, jadi saya selalu berlatih (agar seperti Bekcham). Saya selalu suka mengambil tendangan bebas dan melatihnya dengan keras," tutur dirinya kepada Four Four Two.

Berkat inspirasi dari Becks (panggilan Beckham) dan tentunya kerja keras dalam latihan, Maddison menjelma sebagai eksekutor ulung. Terhitung sejak debutnya di markas Man United pada Agustus tahun lalu hingga pekan kedua Premier League 2019/20, Ia menjadi pemain dengan jumlah penciptaan peluang melalui situasi bola mati terbanyak (50 kali) di liga.

https://twitter.com/OptaJoe/status/1163133227491569665">

Tiga di antara sepakan Maddison dari bola mati berbuah asis. Salah satunya adalah untuk Wilfred Ndidi di Stadion Stamford Bridge pada 18 Agustus 2019. Asis tersebut tidak hanya membuat Leicester terhindar dari kekalahan, melainkan juga menjadikan dirinya sebagai Man of The Match.

Mengatakan bahwa performa apiknya di Premier League sejauh ini hanya kebetulan rasanya tidak adil. Tidak seperti pemain muda kebanyakan yang harus melewati berbagai kelas umur terlebih dahulu, Ia langsung masuk tim senior Coventry ketika baru berusia 16 tahun.

Tantangan demi tantangan dilahap Maddison. Dari merumput di divisi ketiga sepakbola Inggris bersama Coventry, bermain di Championship bersama Norwich City, serta merasakan sensasi Premiership Skotlandia bersama Aberdeen. Semua dilakoninya, sebelum direkrut Leicester dengan harga 20 juta Paun musim panas tahun lalu.

Pengalaman tersebut membuatnya bermental tangguh dan (relatif) adaptif dengan kerasnya permainan Premier League. Tidak acuh, sekalipun sering menjadi sasaran lawan. Ia tercatat sebagai pemain ketiga yang paling sering dilanggar (78 kali) pada Premier League 2018/19, di bawah Wilfried Zaha (102 kali) dan Eden Hazard (104 kali).

Sensasi ditendang lawan itulah yang justru memacu Maddison di atas lapangan; untuk terus kembali bangkit setelah terjatuh.
"Mengingat tipe bermain saya, saya sering menguasai bola dan ditendang (lawan). Para pemain bertahan mencoba menghentikan saya. Saya bisa memahaminya," tutur pria bernomor punggung 10 tersebut.

Bagi Maddison, kepercayaan diri ketika memegang bola adalah kunci utama untuk menjalankan perannya sebagai gelandang serang. Ia dituntut cepat mengambil keputusan, juga yakin bahwa itulah keputusan terbaik bagi tim di momen tersebut. Jika tidak, maka akan sulit untuk menjembatani lini belakang dan depan.

Lagi-lagi, pengalamanlah yang membentuk kepercayaan diri Maddison tersebut. Ia baru berusia 18 tahun kala membela Aberdeen sebagai pemain pinjaman pada musim 2016/17, namun sudah dipercaya untuk tampil melawan klub besar Premiership, seperti Glasgow Rangers dan Glasgow Celtic. Nama terakhir bahkan kembali dihadapi dalam final Piala Liga Skotlandia, yang digelar di depan sekitar 50.000 penonton di Hampden Park.

Perkembangan Maddison nampaknya belum akan terhenti dalam waktu dekat. Ia adalah sosok yang selalu ingin belajar. Ketika ditangani Claude Puel, ia lebih sering mengemban peran sebagai playmaker klasik - sang nomor 10. Ia berada cukup maju di depan, mengintai ruang kosong antara lini tengah dan belakang lawan untuk dieksploitasi.

Semua berubah ketika Brendan Rodgers masuk menggantikan Puel pada Februari 2019. Maddison bermain sedikit lebih mundur, turut membantu pertahanan, serta menjaga kedalaman lini tengah.

Tantangan dari Rodgers diterima dengan tangan terbuka oleh Maddison. "Saya bermain sebagai pemain nomor 8, yang artinya peran berbeda dengan tanggung jawab berbeda. Hal ini bagus karena anda tidak ingin menjadi one-trick pony (hanya punya satu kemampuan khusus)."

Meski mengubah peran, Rodgers cukup pintar untuk tidak mengekang kreativitas dan naluri Maddison sebagai seorang playmaker. Ia tetap memberikannya keleluasaan untuk bergerak di lini tengah.

Efektivitas taktik Rodgers tentu tidak tidak terlepas dari Keberadaan Ndidi, Youri Tielemans, dan Hamza Choudhury. Mereka semua selalu siap sedia melapis ketika Maddison berpindah posisi.

Jika ada satu hal yang kurang dari karier muda Maddison sejauh ini, maka itu adalah belum pernah membela tim nasional senior Inggris. Banyak yang mengira Ia akan dibawa oleh pelatih Gareth Southgate kala menjalani final UEFA Nations League pada Juni lalu. Alih-alih, Ia diminta membela timnas U-21 arahan Aidy Bothroy di Piala Eropa U-21.

Southgate memiliki alasannya sendiri. Ia menyatakan The Three Lions tidak bermain menggunakan pemain nomor 10 dalam formasi 3-5-2 atau 4-3-3. Adapun jika memang butuh pemain nomor 10, masih ada banyak nama senior, seperti Raheem Sterling, Jesse Lingard, atau Dele Alli untuk dimainkan.

Perubahan permainan Maddison sejak Rodgers menduduki kursi pelatih Stadion King Power semakin matang seiring berjalannya waktu. Ia tentu bisa menjadi opsi utama Southgate jika butuh penyegaran atau eksperimen skuat di masa mendatang. Ia mampu memberikan dimensi berbeda dalam permainan Inggris.

Maddison yang sekarang tidak hanya menunggu, berdiri di depan. Ia mampu membantu membangun serangan dari belakang, yang terbukti lebih efektif dalam permainannya. Setelah berganti peran, rataan tekelnya meningkat drastis (3,2 tekel per pertandingan) jika dibandingkan ketika Leicester masih ditangani Puel (2,3 tekel per pertandingan). Hal sama juga berlaku pada kemampuan ball recovery-nya (rata-rata 4,6 kali per pertandingan berbanding 3 kali per pertandingan).

Semua itu dilakukannya tanpa mengurangi ancaman yang ditebar bagi lini pertahanan lawan. Ia justru mampu mencetak dua gol dan dua asis dalam 10 laga terakhir Premier League 2018/19. Jauh lebih produktif dibanding 25 pertandingan di bawah arahan Puel (tiga gol dan dua asis). Kemampuan bertahan dan menyerang ini yang justru tidak dimiliki oleh Sterling, Lingard, dan Alli.

Terlebih, Maddison adalah satu-satunya pemain Premier League yang mampu mencatatkan 100 operan kunci pada musim 2018/19. Rataannya (2,8 per pertandingan), unggul jauh atas Sterling (1,9), Lingard (0,6), dan Alli (1,1). Angka tersebut menjadikannya pemain tertinggi ketiga di antara lima liga Eropa, hanya kalah dari Alejandro Gomez (112) dan Memphis Depay (112), unggul atas Eden Hazard (98) dan bahkan Lionel Messi (92).

Komentar