Liverpool Unggul Kualitas Pemain Belakang

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Liverpool Unggul Kualitas Pemain Belakang

Penonton dan fans sepakbola menginginkan pertandingan yang dihiasi jual-beli serangan, banyak peluang tercipta, bahkan kalau memungkinkan terjadi banyak gol. Apalagi untuk sekelas laga final Liga Champions UEFA, partai pamungkas turnamen terbaik Eropa. Tapi pada final Liga Champions UEFA 2018/19 ini, perebutan juara antara Tottenham Hotspur dan Liverpool dianggap anti-klimaks.

Tak sedikit yang menilai pertandingan ini menjadi salah satu pertandingan final terburuk. Tapi tentu itu berdasarkan kaca mata penonton. Buat para pemain dan pelatih kedua kesebelasan, laga yang berlangsung pada Minggu (2/6) dini hari WIB di Stadion Wanda Metropolitano tersebut merupakan laga yang berat dan menguras tenaga untuk mengorganisasi pertahanan dan penyerangan.

Keduanya mampu melakukannya dengan sangat baik sehingga lawan tak bisa leluasa menciptakan peluang. Inilah yang akhirnya membuat pertandingan terlihat monoton. Meski begitu, Liverpool mampu memanfaatkan peluang dari bola mati sehingga organisasi pertahanan Spurs yang cukup baik pun kecolongan dua gol.

Harry Kane Tak Berkutik

Spurs menurunkan susunan pemain yang agak mengejutkan. Lucas Moura yang jadi juru selamat The Lily Whites di babak semi-final leg kedua melawan Ajax Amsterdam tidak masuk 11 pemain utama. Sang manajer, Mauricio Pochettino, lebih memilih Harry Kane yang baru pulih dari cedera.

Kane tidak mencetak gol, sebagaimana pemain Spurs lainnya, di laga ini. Kegagalan Spurs meraih kemenangan atas Liverpool itu pun membuat banyak orang dengan mudah untuk menilai Pochettino telah mengambil keputusan keliru. Akan tetapi pelatih asal Argentina itu tidak menyesal sedikit pun.

"Ini bukan sebuah drama, ini adalah sebuah keputusan. Bagi saya Harry Kane, setelah satu setengah bulan, dia menyudahi permainan dengan segar. Dia memang tidak mencetak gol tapi keputusan saya sangat analitis, dengan seluruh informasinya. Saya tidak menyesal," ujar Pochettino usai pertandingan seperti yang dilansir Sky Sports.

Maka menarik untuk membedah faktor analitis apa yang membuat Pochettino memainkan Kane sejak menit pertama, bahkan selama 90 menit. Tapi melihat permainan Spurs selama 90 menit, tampaknya hal itu dilakukan Pochettino sebagai upaya mengatasi high pressing yang diterapkan Liverpool.

Spurs bermain dengan pola dasar 4-2-3-1. Saat memulai permainan dari penjaga gawang, Hugo Lloris akan berupaya mengirimkan bola pada para pemain Spurs yang berada di wilayah pertahanan. Saat menguasai bola di wilayah pertahanan sendiri, Spurs membentuk pola 2-4-2-2 asimetris.

Dua pertama diisi Jan Vertonghen dan Toby Alderweireld yang selalu berada di dekat Lloris. Empat berikutnya adalah dua jangkar yang ditempati duet Harry Winks dan Moussa Sissoko dan dua pemain sayap yakni Danny Rose (kiri) dan Kieran Trippier (kanan). Sementara itu Christian Eriksen dan Dele Alli selalu membayangi Son Heung-Min dan Harry Kane.

Secara posisi, pada babak pertama, Son selalu berada di sayap kiri. Babak dua Son berpindah ke kanan. Kane selalu di tengah. Eriksen dan Alli akan mendekati di mana bola berada. Tapi keduanya banyak beredar di area tengah.

Walau begitu bukan berarti Spurs mengosongkan salah satu sisi kala menyerang. Bahkan Spurs begitu mengandalkan kedua sisi untuk menyerang, dan karena itulah Rose dan Trippier begitu menonjol pada laga ini (sementara Eriksen tak banyak terlibat membangun serangan). Spurs menempatkan kedua full-back untuk menjadi wide player di sepertiga pertahanan Liverpool.

Umpan-umpan jauh atau direct pada kedua flank, pada Rose dan Trippier, menjadi pemandangan yang sering terjadi pada laga ini. Lewat umpan vertikal Spurs berusaha mengacaukan pertahanan Liverpool. Tampaknya mereka berharap pergeseran pertahanan Liverpool yang compact dengan pola 4-2-3-1 bisa melahirkan celah.

Akan tetapi para pemain Liverpool sangat disiplin dalam bertahan. Liverpool tahu kapan menekan setinggi-tingginya dan melancarkan tekel agresif untuk merebut penguasaan bola dan kapan menahan diri di tengah untuk menanti momen yang tepat merebut bola. Karena ini pula Spurs kesulitan mengirimkan umpan pendek pada empat pemain di tengah. Ruang tersedia dalam proses build-up Spurs lebih banyak di kedua sayap.

Gambar 1 - Liverpool mengunci jalur operan Spurs yang mengarah ke tengah

Terlebih lagi Andy Robertson dan Trent Alexander-Arnold yang berposisi sebagai full-back diinstruksikan untuk selalu berada di dekat duet bek tengah Liverpool —Virgil Van Dijk & Joel Matip ketika Liverpool tak menguasai bola. Hal tersebut membuat serangan sayap Spurs bisa dipatahkan karena Spurs pada akhirnya tidak bisa mengirimkan umpan through ball ketika mengarah ke kedua flank.

Mayoritas operan ke sayap Spurs diterima di area middle third, jauh dari kotak penalti. Dengan begitu Liverpool tetap bisa bertahan tanpa pemain yang out of position. Positioning Robertson dan Alexander-Arnold membuat Liverpool bisa men-delay serangan Spurs diikuti dengan pemain tengah dan depan yang juga turut mundur merapatkan jarak antar pemain di lini pertahanan.

Karena hal itu juga Spurs sering melakukan backpass pada Lloris. Karena setiap bola dikuasai Lloris, baik itu saat tendangan gawang atau pun bola jalan, para pemain Liverpool akan langsung menaikkan garis pertahanan. Trio Sadio Mane-Roberto Firmino-Mohamed Salah akan menekan Lloris agar dia melakukan salah operan.

Di sisi lain, situasi ini membuat Spurs unggul jumlah pemain di lini pertahanan (karena keterlibatan Lloris), di mana ini kerap membuat salah satu gelandang tengah Liverpool naik untuk menjaga satu pemain Spurs yang bebas. Di sinilah momen pola 4-2-3-1 Liverpool saat bertahan akan berubah bentuk: setidaknya di lini tengah Liverpool akan meregang karena tinggal menyisakan Fabinho dan Georginio Wijnaldum untuk dihadapi oleh Sissoko, Alli, dan Eriksen atau menciptakan situasi 3v2.

Gambar 2 - Ketika bola di Lloris, trio lini depan Liverpool akan mendekati kotak penalti

Boleh jadi inilah yang dimaksud Pochettino soal keputusan analitis mengandalkan Kane pada laga ini. Karena ketika tiga pemain terdepan Liverpool menekan Lloris dan para pemain belakang Spurs, maka umpan jauh atau direct ball yang mengarah ke backline atau barisan pertahanan terakhir Liverpool diharapkan bisa membuat Spurs keluar dari tekanan dan menciptakan peluang. Kane diharapkan mampu unggul duel-duel udara menghadapi Matip dan Van Dijk.

Adanya Alli dan Eriksen juga jadi alternatif lain ketika Kane kalah duel udara, yaitu untuk mendapatkan second balls atau bola kedua. Son di sisi kiri jadi pemain yang mengharapkan bola flick header Kane jadi umpan terobosan atau bola kedua dari Alli dan Eriksen untuk mendapatkan ruang melakukan dribble ke kotak penalti Liverpool.

Pada beberapa kesempatan, skema ini berjalan dengan baik. Son beberapa kali mendapatkan bola di dekat kotak penalti Liverpool hasil dari umpan jauh. Namun lini pertahanan Liverpool begitu disiplin. Dalam situasi satu lawan satu pun mereka begitu tangguh. Matip jadi primadona dengan mencatatkan 14 sapuan dan tiga unggul duel udara. Itulah salah satu alasan Kane tak berkutik pada laga ini.

Pada babak kedua permainan Spurs membaik. Perpindahan posisi Son ke sisi kanan memberikan warna baru di lini serang Spurs. Rose lebih punya ruang untuk membantu serangan dan menciptakan peluang. Akan tetapi peluang-peluang Spurs tersebut mampu digagalkan oleh benteng terakhir pertahanan Liverpool, Alisson Becker. Kiper asal Brasil tersebut mencatatkan 8 penyelamatan.

Gol Liverpool Bukan Kebetulan

Liverpool unggul cepat. Sekitar 25 detik setelah memulai pertandingan, mereka mendapatkan penalti. Penalti tersebut dikonversi menjadi gol oleh Mohamed Salah. Gol tambahan diciptakan oleh Divock Origi pada menit ke-87 melalui proses yang "tidak indah" karena lagi-lagi berasal dari bola mati. Tapi kedua gol Liverpool tersebut bukan kebetulan.

Liverpool hanya mencatatkan 272 operan pada laga ini. Hampir setengah dari jumlah operan Spurs yang mencatatkan 510 operan. Tapi dengan jumlah operan yang lebih sedikit, toh, skuat asuhan Juergen Klopp tersebut berhasil melepas 15 tembakan. Hanya terpaut satu tembakan dari Spurs.

The Reds memang mengandalkan sepakbola direct pada laga ini. Setiap berhasil menguasai bola, bola akan selalu diupayakan dikirim ke lini pertahanan Spurs secepatnya. Entah itu melalui umpan jauh maupun dribble. Indikasi ini sudah terlihat sejak sepak mula.

Sebelum Jordan Henderson memberikan chip ball pada Mane yang kemudian berujung handsball pada Sissoko, dalam 10 detik pertama, sudah dua kali Liverpool berupaya mengirimkan bola pada Mane: dari umpan jauh Matip dan sundulan Henderson. Kesempatan kedua Henderson menguasai bola, alih-alih men-delay permainan dengan mengirimkan bola ke belakang atau ke sisi yang lain, kapten Liverpool tersebut tetap mengarahkan bola pada Mane.



Setelah gol tersebut Liverpool pun masih gemar mengirimkan umpan-umpan yang mengarah ke sisi kiri atau tempat Mane berada. Karena itu pula Mane dan Robertson jadi pemain yang paling sering menerima bola di kubu Liverpool, yakni 27 kali dan 25 kali.

Gambar 3 - grafis operan Liverpool (sumber: Wyscout)

Sama seperti Liverpool, Spurs pun menerapkan garis pertahanan tinggi dan melakukan pressing agresif pada pemain Liverpool yang menguasai bola di lini pertahanan. Tapi para pemain belakang Spurs tidak mengambil risiko dengan banyak melakukan operan-operan pendek di belakang untuk melepaskan diri dari tekanan dan membangun serangan. Karenanya back four Liverpool begitu sering melakukan operan jauh.

Menyerang sisi kiri atau sisi kanan pertahanan Spurs pun memang menjadi cara Liverpool menciptakan ruang bagi Salah. Spurs yang juga bertahan sangat compact, 10 pemain lapangan mereka akan saling menjaga jarak rapat dalam mengikuti arah serangan Liverpool. Maka ketika Liverpool menyerang lewat kiri, sisi kanan atau sisi yang ditempati oleh Salah dan Alexander-Arnold akan lebih kosong. Salah jadi pemain dengan tembakan terbanyak pada laga ini, yakni enam kali.

Ketika babak kedua Spurs mulai mengendalikan permainan dan menciptakan sejumlah peluang, Liverpool sendiri tak mengubah skema utamanya ini: menyerang lewat kedua sayap. Sebenarnya cukup diwajarkan mengingat Spurs menaikkan Trippier dan Rose saat menyerang. Itu artinya ada ruang yang ditinggalkan kedua full-back Spurs. Walau begitu Spurs mengantisipasi hal ini dengan menggunakan dua gelandang bertahan, yakni Winks dan Sissoko agar serangan balik Liverpool tidak langsung menusuk ke kotak penalti Spurs.

Disadari atau tidak, sepak pojok Liverpool yang berhasil menjadi gol Origi pun diinisiasi serangan dari sayap kiri. Liverpool tak menggunakan area tengah saat menciptakan peluang ini. Alisson mengirimkan bola pada Robertson, lalu bek asal Skotlandia tersebut menggiring bola yang diakhiri umpan silang mengarah ke tiang jauh, Mohamed Salah. Umpan Robertson itulah yang dihalau Rose untuk menjadi sepak pojok.

Dalam sepak pojok, atau skema bola mati secara umum, setiap pemain dari kedua kesebelasan akan melupakan sistem menyerang maupun bertahan. Mereka akan fokus mencari ruang dan berusaha saling menaklukkan para penjaganya. Pada gol Origi, sepak pojok James Milner (menggantikan Wijnaldum) jatuh ke kaki Van Dijk, namun dapat diblok Eric Dier (masuk menggantikan Sissoko). Lalu terjadi kemelut di antara keduanya, sampai kemudian Matip datang membantu dan mendorong bola pada Origi. Origi berada di posisi yang tepat untuk menembak dengan cukup leluasa meski di hadapannya terdapat Alderweireld.

Tentu bukan kebetulan Origi dimasukkan oleh Klopp untuk menggantikan Firmino pada menit ke-57. Firmino pada laga ini tampil kurang maksimal. Selain itu, Klopp bisa saja memasukkan Daniel Sturridge yang juga berposisi sebagai penyerang. Tapi Origi sudah membuktikan diri bahwa dia mampu menemukan ruang-ruang kosong seperti yang terjadi pada laga melawan Barcelona.

***

Kedua kesebelasan punya organisasi pertahanan yang sama baik. Karena itu pula sangat sedikit peluang tercipta pada laga ini, sehingga dinobatkan sebagai pertandingan yang membosankan. Gol pun diciptakan pada awal dan akhir pertandingan. Ini menandakan bahwa kesalahan kecil lah yang membuat Spurs kalah. Terlebih dua gol Liverpool tercipta melalui bola mati.

Secara permainan Spurs sebetulnya lebih baik dibanding Liverpool. Terutama di babak kedua. Tapi kualitas pemain belakang Liverpool jadi pembeda. Robertson dan Alexander-Arnold bermain apik kala bertahan dan menyerang. Van Dijk dan Matip pun tak mudah ditaklukkan, termasuk ketika Spurs memainkan Lucas Moura pada menit ke-66 dan Fernando Llorente pada menit ke-82 untuk menggantikan Winks dan Alli.

Dua bek tengah dan dua bek sayap milik Liverpool tampil lebih baik. Selain aksi defensif, mereka mampu terlibat dalam proses gol kedua. Selain itu ketika umpan-umpan silang Trippier dan Rose sulit menjangkau Kane dan para pemain depan Spurs lainnya, umpan dan akselerasi Robertson dan Alexander-Arnold membuat momen keduanya membantu penyerangan menjadi momen yang membahayakan buat Spurs.

Jika pun empat pemain belakang ini mampu ditaklukkan lini serang Spurs, Liverpool masih punya Alisson yang bermain tanpa cela pada laga ini. Ini menjadi perbedaan mencolok mengingat kedua kesebelasan sama-sama mengandalkan kiper dan empat pemain belakang dalam menginisiasi serangan. Ketika Lloris tak mampu menahan tendangan penalti Salah dan tendangan Origi, 8 tembakan ke gawang Spurs berhasil diamankan Alisson.

Salah satu dari Robertson, Alexander-Arnold, Van Dijk, Matip dan Alisson memang layak dinobatkan jadi pemain terbaik pada laga ini. Kelimanya menjadi figur penting dalam kemenangan yang mengantarkan Liverpool meraih gelar Liga Champions UEFA keenam mereka.

Komentar