Kunjungan Berharga Man United ke Camp Nou

Analisis

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Death. Glory. Rock n Roll. Kontributor Pandit Football Indonesia.

Kunjungan Berharga Man United ke Camp Nou

Manajer Manchester United, Ole Gunnar Solskjær, kehilangan kendali setir di jalan Arístides Maillol, Barcelona, pada Selasa (16/4/2019) malam waktu setempat. Paul Pogba beserta rombongan langsung dipulangkan dengan penerbangan nomor 0-3. Man United berhasil comeback (kembali) ke Manchester.

Tidak banyak yang bisa diperbuat Solskjær untuk menyelamatkan perjalanan. Upaya berupa susunan pemain multi-formasi telah diturunkan.

Susunan starter Man United memang terkesan dipaksakan. Victor Lindelöf ditempatkan sebagai bek kanan dan Ashley Young diturunkan sebagai bek kiri. Semua demi mengatasi absennya Luke Shaw akibat akumulasi kartu kuning. Namun, di balik itu, Solskjær ingin Setan Merah punya pertahanan berlapis tanpa harus mengorbankan daya ledak ketika melancarkan serangan.

Dengan susunan pemain ini, maka mudah bagi United bertahan dengan formasi 4-5-1. Di saat menyerang, para pemainnya punya mobilitas untuk membentuk 3-4-3/3-5-2. Memastikan jalur protokol di lini tengah dipadati pemain adalah kunci.

Solskjær berharap para pemainnya bisa memotong bola dengan cepat sebelum Sergio Busquets, Arthur, atau Ivan Rakitic berkesempatan merancang alur serangan. Belum lagi tendensi Philippe Coutinho atau Lionel Messi yang kerap mundur menjemput bola, membuka ruang bagi para pemain sayap dan gelandang menyelusup ke antarlini.

Di saat bersamaan, para penyerang dan winger United tidak perlu memaksa menggocek lawan. Pasti selalu ada satu gelandang yang merangsek dari second line langsung ke barisan terakhir Barça. Sementara, kepadatan lini tengah tidak berkurang.

Intensitas tinggi dan operan-operan pendek diperagakan oleh para pemain United dengan penuh percaya diri selama 10 menit pertama. Barça cukup kewalahan untuk mengambil alih penguasaan tempo dengan pressing ketat dan garis pertahanan tinggi United, terutama di awal pertandingan.

Gambar 1 - Rata-rata posisi, ukuran kelebaran, dan kedalaman para pemain Barcelona dan Manchester United - sumber: Wyscout

Setan Merah terlihat jelas mengincar gol cepat, seperti yang mereka dapatkan di kandang Paris Saint-Germain di babak 16 besar. Marcus Rashford berhasil mendapatkannya pada saat pertandingan belum sampai satu menit, tapi tendangannya membentur mistar gawang. Mereka kemudian mendapatkan banyak kesempatan lagi setelah itu.

Tidak seperti di Old Trafford, United berhasil mendapatkan tiga tembakan on target dari sembilan usaha. Kenyataan bahwa Barcelona bermain di kandang dan menguasai 65% ball possession membuat orang tak begitu kaget melihat Messi dkk mencatatkan enam tembakan tepat sasaran dari total 13 percobaan; dan pada akhirnya membuat Barcelona menang 3-0 melalui dua gol Messi dan satu gol Coutinho

Parade Error United

Nahas. Seluruh persiapan buyar karena salah satu komponen sistem permainan mendadak mengalami korsleting. Entah apa sebenarnya alasan Ashley Young sampai linglung dalam mengambil tendangan bebas di sekitar lapangan tengah. Dia membeku, membiarkan waktu terbuang sia-sia.

Young akhirnya mengoper ke Phil Jones yang berada di belakang. Keputusan ini tentu disambut gembira oleh para pemain Barcelona. Mereka bisa dengan mudah mempersempit ruang operan para pemain United dengan man-marking karena yang tersisa di belakang Young hanya Chris Smalling dan Jones. Fred dan Pogba yang berada sejajar di dekatnya sudah dibayangi pemain Barça. Sementara, sisa rekan-rekannya sudah di depan, menunggu operan jauh.

Saat bola kembali ke Young dan ingin dioper ke depan, operannya dipatahkan oleh Rakitic. Kegagalan ini berbuah fatal. Lima pemain United ditempel ketat oleh empat pemain Barcelona: Young-Rakitic, Fred-Philippe Coutinho, Pogba-Messi, sementara Luis Suárez berada di dekat Jones dan Smalling. Opsi mengoper ke David De Gea pun terlalu riskan karena Suárez nampak sudah mengincarnya.

Kesulitan ini berujung operan Young diblok oleh Rakitic untuk yang kedua kalinya. Posisi saat ini, bola telah bergerak hingga ke sekitar sepertiga akhir Barcelona alias zona pertahanan United. Sebuah situasi yang dimungkinkan berkat kegaulauan Young mengoper bola beberapa detik sebelumnya.

United mungkin lupa Barça punya seorang Messi. Bagi setiap mereka yang ingin melewati Camp Nou tanpa gangguan, sudah pasti harus mewaspadainya. Messi bagaikan aparat penegak hukum yang tak bisa disuap dalam operasi razia. Kesalahan sekecil apapun pasti dihukum.

Gambar 2 - Grafis peta di mana saja Man United kehilangan bola - sumber: Wyscout

Bola liar langsung disambar oleh Messi. Dia satu langkah lebih cepat ketimbang Young dalam perebutan bola. Fred berusaha mengaver, tetapi malah dikolongi.

Suárez, yang sejak tadi berada di antara Smalling dan Jones, memainkan peran krusial. Secara tak langsung, dia memberi "asis" tanpa harus menyentuh bola. Pergerakannya ke dalam kotak penalti membuat Smalling dan Jones sama-sama bergerak satu langkah untuk menghindari operan terobosan.

Satu langkah tersebut pasti disesali oleh Smalling dan Jones. Saya tidak terkejut kalau momen itu sampai direnungkan secara mendalam dan terbawa ke dalam mimpi.

Satu langkah menjauh dari Messi yang tengah cutting inside dari sisi kiri pertahanan sendiri sama buruknya seperti pengendara motor yang mencoba kabur setelah dihentikan oleh polisi. Harapan terbaik adalah refleks sang polisi tak cukup cepat untuk menjatuhkan Anda. Dengan kata lain, takdir Anda sudah berpindah kepemilikan ke orang lain.

Smalling dan Jones bisa berharap, tetapi Messi yang menentukan. Tendangan kaki kirinya menohok tajam ke pojok kanan gawang United yang dijaga De Gea.

Barcelona Lebih Baik Secara Taktis dan Materi Pemain

Pada leg pertama, United bermain dengan tiga bek tengah ketika bertahan. Dengan Lindelöf, Smalling, dan Jones di jajaran pemain bertahan, awalnya banyak yang mengira United akan melakukan hal serupa. Namun Lindelöf lebih difungsikan sebagai bek kanan. Itu membuat United bertahan dengan dua bek tengah.

Hal ini di atas kertas membuat Barcelona bisa mengeksploitasi half-space di pertahanan United. Solskjær menyikapinya dengan membuat kuartet Lindelöf, Smalling, Jones, dan Young (dari kanan ke kiri) bermain sangat rapat (bisa dilihat kembali pada Gambar 1), mempersilakan winger-winger Barcelona menguasai bola di wilayah flank sambil menjaga agar bola tak sampai ke tengah.

Akan tetapi dengan bermain terlalu rapat ini justru membuat Barcelona leluasa mengalirkan bola dan memancing bek sayap United keluar, sehingga memang pada akhirnya Barcelona mampu mengeksploitasi half-space United.

Hal yang berbeda juga dari leg pertama adalah United tidak mengandalkan crossing sesporadis di Old Trafford. Young yang bermain di kiri membuatnya tak bisa setiap waktu mengirimkan umpan silang karena dia harus terlebih dahulu melakukan cut inside (mengarahkan bola ke kaki alaminya).

United baru banyak melakukan umpan silang setelah Diogo Dalot masuk (mengherankan juga kenapa dia tak menjadi starter). Itu juga United "hanya" mencatatkan enam crossing dengan dua yang berhasil (keduanya dicatatkan Dalot). Sama banyaknya dengan Barcelona.

Hal berbeda juga diperlihatkan dari efektivitas pressing United. Pada pertandingan semalam, United melakukan 58 recovery (Barcelona 60) dengan 14 dilakukan di opponent`s half (Barcelona 29). United juga hanya bisa mengalirkan 28 serangan (Barcelona 55) dan pada akhirnya membuat area permainan lebih banyak terjadi di middle third (55%) dan defensive third United (26%).

Gambar 3 - Peta recoveries Barcelona, menunjukkan mereka juga aktif di wilayah pertahanan United - sumber: Wyscout

Secara permainan individu, lagi-lagi terlihat jelas perbedaan kualitas United dan Barcelona. Young menjadi sorotan. Selain karena error-nya, dia juga 12 kali kehilangan bola (terbanyak bagi United); meski angka tersebut sama banyaknya dengan Messi kehilangan bola dan lebih sedikit daripada Suárez (13 kali kehilangan bola).

Masalah Pelik United

Sebelum pertandingan, Solskjær menyatakan hal yang bisa menjadi kunci adalah jika United bisa mencetak gol terlebih dahulu. Namun semalam, Barcelona yang berhasil melakukannya. Shot on target pertama mereka langsung menjadi gol.

Gol pembuka Barça ternyata terasa jauh lebih destruktif bagi para pemain United ketimbang seharusnya. Pemikiran "Barcelona juga bisa dikalahkan" saat mengawali laga, berubah menjadi "Barcelona sulit dikalahkan". Mental tersebut semakin babak belur menyusul gol kedua Messi akibat blunder De Gea tak berselang lama: "Barcelona sudah menang".

Upaya perlawanan sebenarnya sempat muncul memasuki babak kedua. Ada usaha dari para pemain United untuk mengais sisa-sisa harapan di dalam kotak penalti tuan rumah. Adalah gol Coutinho pada menit ke-61 yang menyadarkan United bahwa harapan lolos itu sudah sepenuhnya dalam genggaman Barça.

Mudah untuk menunjuk Young sebagai biang keladi utama. Hanya karena korsleting selama beberapa detik, perjalanan ziarah seluruh rombongan ke Camp Nou jauh dari kata menggembirakan.

Bagi saya, menyalahkan Young, Smalling, Jones, atau De Gea adalah hal logis. Membiarkan Young mengambil tendangan bebas tanpa adanya kesamaan visi di antara pemain United juga bisa disalahkan, apalagi seperti tidak ada pemain lain yang mau turun membantu. Seluruh komponen jelas harus bekerja dengan baik agar sopir bisa mengendarai kendaraannya secara nyaman, selamat sampai tujuan.


Simak cerita dan sketsa adegan Rochi Putiray tentang cara menendang penalti menggunakan teknik Panenka:


Pertanyaan-pertanyaan tersisa: Mengapa suku cadang yang diketahui sudah berumur dan tidak layak, bisa terus dipaksakan penggunaannya? Apakah sang sopir tidak cukup kompeten untuk mengetahui masalah dari kendaraannya sendiri? Sejauh mana pemilik perusahaan memberikan fasilitas kepada sang supir untuk merawat kendaraan?

Seorang sopir yang dibilang kompeten tidak bisa hanya dengan mengendarai mobil dan tahu jalan. Sewajarnya dia juga mampu mencari pangkal masalah ketika mobil, misalnya mati dan tidak bisa di-starter kembali. Bodoh jika kemudian sang sopir mengisi air radiator, padahal yang habis adalah aki.

Perjalanan menuju kebahagiaan adalah panjang dan melelahkan. Terkadang, harus terpaksa melewatkan titik peristirahatan meski kaki sudah kesemutan.

Seluruh persiapan wajib matang. Mulai dari memastikan ban serep penuh terisi angin, seluruh suku cadang berfungsi, hingga hal-hal yang kerap terabaikan seperti kelengkapan surat, P3K, dan saldo e-Toll.

Manchester United dapat diandaikan sebagai mobil rakitan mewah seharga triliunan rupiah. Produk pabrikan Old Trafford x Carrington ini suku cadangnya berasal dari pelbagai negara. Tidak semua selalu tersedia karena diproduksi sangat terbatas.

Butuh kejelian spesial untuk memilih suku cadang yang memang sudah mencapai batas umurnya. Memaksakan yang sudah berkarat sama saja bunuh diri. Perhitungan waktu pemesanan dan pengiriman juga penting karena pasti selalu indent (hanya buka setiap pertengahan dan awal tahun).

Seluruh tanggung jawab ini tidak bisa ditanggung oleh sopir seorang. Sekalipun ada asisten yang bertugas sebagai kernet, hal-hal terkait pemesanan suku cadang lebih tepat diberikan kepada mereka yang ahli; menimbang kebutuhan, ketersediaan, hingga kemampuan finansial.

Jadi, sopir bisa fokus mempersiapkan kendaraan dalam kondisi terbaik untuk mencapai tujuan. Dia wajib memastikan bahwa seluruh suku cadang yang dipakai memang berguna dan sesuai kebutuhan. Jika ada permintaan khusus, dia tinggal meminta kepada sang ahli merealisasikannya. Seorang ahli yang berkualitas tinggi bahkan bisa membaca dan menyediakan kebutuhan sang sopir sebelum diminta atau muncul masalah.

***

Solskjær (dan seharusnya Keluarga Glazer selaku bos) jelas bisa belajar banyak dari kecelakaan di Catalunya. Kemenangan kerap kali dimulai dari hal-hal di luar lapangan. Kekalahan United adalah bukti nyata. Untuk memperlebar konteks, rasanya hasil di Camp Nou lebih tepat dilihat sebagai seberapa jauh United tertinggal dari Barcelona.

Tidak adanya direktur olahraga dalam struktur manajemen membuat United tidak pernah mampu mempertahankan karakter permainan tim setiap pergantian manajer pasca Sir Alex Ferguson pensiun. Mereka gagal menyeleksi manajer yang benar-benar sesuai dengan jiwa klub.

David Moyes, Louis van Gaal, dan José Mourinho mencoba menanamkan pemahaman akan filosofi sepakbola menyerang versi masing-masing. Tentu saja hal itu juga menuntut ketersediaan pemain yang bermanfaat bagi masing-masing versi. Sialnya lagi, pembelian pemain lebih didasari oleh nilai jual dan keuntungan, bukan memprioritaskan kebutuhan atau kegunaan bagi kualitas kesebelasan.

Solskjær sepertinya sudah tahu jelas deretan hal pendukung yang dibutuhkan untuk menyopiri United sampai di tujuan: swasembada trofi. Dia mengakui bahwa level United berada di bawah Barça saat ini, tetapi menegaskan tekad untuk menyamai level Barça di masa mendatang.

Hal yang perlu dilihat adalah sejauh dan seserius apa usaha keluarga Glazer dan CEO Ed Woodward demi memenuhi kebutuhan tersebut? Jika masih ogah-ogahan juga, lebih baik United main di Liga Indonesia saja. Bisa juara tanpa harus punya manajemen kompeten.

Sumber statistik: Wyscout

Komentar