Napoli Meredam Agresivitas Winger Liverpool dengan 4-4-2

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Napoli Meredam Agresivitas Winger Liverpool dengan 4-4-2

Rataan 15,4 tembakan per laga dicatatkan Liverpool sepanjang tujuh pertandingan Liga Primer Inggris 2018/19. Penguasaan bola mereka pun rata-rata berada di atas 55%. Namun menghadapi Napoli pada matchday 2 Liga Champions 2018/19, Liverpool hanya mampu melepaskan 4 tembakan dan penguasaan bola mereka hanya 43%. Liverpool pun kalah 0-1.

Carlo Ancelotti, pelatih Napoli, memainkan strategi jitu untuk meredam agresivitas para pemain sayap Liverpool. Kemenangan Liverpool atas Paris Saint-Germain (3-2) di matchday 1 membuat Ancelotti berfokus pada kekuatan pertahanan di kedua sayap.

Pola dasar 4-4-2 dipilih. Biasanya, Napoli bermain dengan pola dasar 4-3-3. Pola dasar 4-4-2 bukannya baru pertama kali dimainkan. Dua laga sebelum melawan Liverpool, yakni melawan Parma dan Juventus, pola 4-4-2 dipilih sejak menit pertama. Kekalahan dari Juventus (1-3) tak membuat Ancelotti kapok untuk kembali menggunakannya saat melawan Liverpool.

Ada perubahan yang dilakukan Ancelotti dari laga melawan Juventus ke laga melawan Liverpool. Dries Mertens dibangkucadangkan. Arkadiusz Milik dipilih menjadi tandem Lorenzo Insigne di lini depan. Piotr Zielinski digantikan Fabian Ruiz. Elseid Hysaj diganti Nikola Maksimovic.

Perubahan itu mungkin tak terprediksi oleh Liverpool. Sebaliknya, susunan pemain Liverpool merupakan susunan pemain yang sudah bisa diduga. Naby Keita dimainkan mengisi tempat Jordan Henderson, yang sialnya Keita mengalami cedera dan harus digantikan Henderson pada menit ke-19. Sisanya merupakan para pemain inti, termasuk duet Virgil van Dijk dan Joe Gomes yang juga dipasangkan untuk meredam lini serang PSG.

Dalam formasi 4-3-3 Liverpool, skuat asuhan Juergen Klopp itu bisa menempatkan sampai tiga pemain di salah satu sisi saat membangun serangan. Di sisi kiri, James Milner (setelah Keita diganti) rajin membantu Andy Robertson dan Sadio Mane. Begitu juga sebaliknya dengan di sisi kanan, Georginio Wijnaldum akan menemani Trent Alexander-Arnold dan Mohamed Salah. Wijnaldum dan Milner juga sebenarnya kerap bertukar posisi, tapi keduanya tetap bertugas menambah opsi operan dan upaya unggul jumlah pemain (overload) di sisi lapangan.

Upaya overload di kedua sayap Liverpool

Ancelotti tampaknya sudah memprediksi hal itu. Pola 4-4-2 yang ia pilih saat bertahan bertujuan agar tidak kalah jumlah di sayap ketika tak menguasai bola. Fabian Ruiz dan Jose Callejon yang berposisi sebagai sayap dalam empat gelandang bertugas menjaga full-back Liverpool. Maksimovic dan Mario Rui secara khusus mewaspadai penyerang sayap Liverpool. Sementara itu Allan Marques dan Marek Hamsik punya tugas penting dalam menjaga gelandang tengah Liverpool (Wijnaldum atau Milner) yang bergerak melebar.

Saat Hamsik dan Allan bergeser ke sayap untuk mengikuti gelandang tengah Liverpool yang melebar, tentu risiko kalah jumlah pemain berpindah menjadi ke tengah. Misal jika Allan mengejar Milner ke kiri, maka hanya Hamsik yang tersisa di tengah. Tapi hal itu diminimalisasi lewat penempatan dua penyerang. Pergerakan tanpa bola Milik dan Insigne bertujuan untuk menutup jalur operan pemain belakang Liverpool ke gelandang tengahnya.

Dua momen berbeda dengan pola yang sama

Skema bertahan Napoli itu kerap memaksa Mane, Firmino dan Salah untuk lebih rajin turun hingga ke tengah lapangan. Di saat bersamaan, skema serangan balik Liverpool pun kurang efektif karena ketika mencapai pertahanan Napoli para pemain depan Liverpool sering kalah jumlah.

Pola bertahan Napoli yang seperti ini dikombinasikan dengan pola 3-2-4-1 atau 3-4-3. Saat menguasai bola, Mario Rui akan naik membantu serangan, sejajar dengan Jose Callejon. Ruiz (atau Simone Verdi pada babak kedua) akan merapat ke tengah. Jika pun serangan gagal dan Liverpool melancarkan serangan balik, maka ketiga pemain belakang harus langsung menjaga trio lini serang Liverpool sedangkan Allan dan Hamsik berusaha merebut penguasaan bola kembali atau men-delay bola agar pola 4-4-2 bisa kembali dibentuk.



Skema ini didesain sedemikian rupa oleh Ancelotti. Memilih Maksimovic ketimbang Hysaj jadi indikasi. Maksimovic adalah bek kanan yang mahir bermain sebagai bek tengah (sementara Hysaj murni seorang full-back). Pemain bertinggi 193cm itu pun bisa handal dalam duel udara jika serangan balik Liverpool berupa umpan jauh. Karenanya tidak seperti Mario Rui di kiri, Maksimovic tidak pernah menyentuh area pertahanan Liverpool. Maksimovic bertugas penuh mematikan pergerakan Sadio Mane.

Perbandingan heatmap Mario Rui dan Maksimovic

Belum lagi Kalidou Koulibaly yang bertugas mem-backup Mario Rui di sisi kiri tampil disiplin. Bek asal Senegal ini membuat Salah tak berkutik. Bek terbaik Napoli itu mencatatkan dua tekel berhasil dari dua kali percobaan, dua intersep, dan lima sapuan. Salah yang dua kali berupaya melewatinya, dua kali pula gagal.

Napoli mencetak gol kemenangan pada menit ke-89. Sebelum itu, Ancelotti melakukan pergantian pemain. Ruiz dan Milik digantikan Verdi dan Mertens pada menit ke-68. Hamsik diganti Piotr Zielinsik pada menit ke-81. Pergantian ini mengubah pola 3-2-4-1 saat menyerang menjadi 3-4-3.

Saat gol terjadi, Mertens berperan besar membuka ruang untuk Callejon. Keduanya melakukan operan satu-dua sentuhan yang diakhiri oleh umpan silang Callejon ke tiang jauh. Di situlah Insigne muncul dengan menyambut bola untuk memperdayai Alisson Becker. Skema ini sudah diincar Ancelotti karena sebelum itu pun Mertens menciptakan peluang ketika ia memanfaatkan umpan silang Mario Rui, namun tendangannya membentur tiang.



Komentar