Sarrisimo Sebagai Penghibur Liga Primer

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Sarrisimo Sebagai Penghibur Liga Primer

Maurizio Sarri baru diresmikan sebagai manajer anyar Chelsea untuk musim 2018/19. Tapi melihat rekam jejak kepelatihan Sarri hingga menukangi Napoli, kesebelasannya sebelum Chelsea, Sarri patut diragukan bisa memberikan prestasi untuk Chelsea. Apalagi Chelsea dan Sarri, setidaknya bagi saya, punya visi berbeda.

Chelsea sejak dimiliki oleh Roman Abramovich adalah kesebelasan yang haus akan gelar juara. Antonio Conte pun menjadi pelatih kesekian yang dipecat Abramovich karena gagal mempersembahkan gelar juara. Padahal, Conte, sama seperti Carlo Ancelotti, Roberto Di Matteo, hingga Jose Mourinho, telah meraih trofi bergengsi bersama Chelsea sebelum satu tahun kemudian dipecat.

Conte juga meninggalkan Chelsea dengan menjuarai Piala FA 2018. Tapi bagi Abramovich satu trofi itu saja tak cukup. Karena itulah Conte disingkirkan untuk mendatangkan Sarri.

Penunjukan Sarri terbilang berbeda dengan penunjukan pelatih-pelatih anyar Chelsea sebelum dirinya. Sarri menjadi pelatih pertama yang dipilih Abramovich untuk menukangi Chelsea dengan catatan nol gelar juara (Avram Grant, Ray Wilkins, Roberto Di Matteo, dan Steve Holland bukan pelatih pilihan karena berawal sebagai caretaker). Tidak sekalipun dalam karier kepelatihan Sarri, yang telah menukangi 17 kesebelasan berbeda, trofi juara berhasil diangkatnya.

Pencapaian berbentuk gelar hanya diraihnya dari prestasi individu seperti Panchina d`Oro 2015/16, Enzo Berzoat award 2017 dan Serie A Coach of the Year 2016/17. Untuk kesebelasan, prestasi terbaiknya hanya saat mengantarkan Napoli finis satu strip di belakang Juventus sang juara Serie A 2017/18.

Sarri juga bukan pelatih muda yang bisa memberikan prospek menjanjikan untuk beberapa tahun ke depan. Pelatih kelahiran Napoli ini sudah berusia 59 tahun. Ia pun bukan seorang legenda pesepakbola. Karier sepakbolanya bahkan sudah terhenti pada usia 20 tahun. Pengalaman melatihnya baru dimulai pada usia 40 tahun.

Kemampuan melatihnya baru matang setelah menangani Empoli, kesebelasan ke-16 nya. Di Empoli ia bertahan selama tiga musim sebelum dipinang Napoli. Tiga musim—di Napoli pun total tiga musim—menjadi periode terlama Sarri dalam melatih sepanjang kariernya. Biasanya ia sudah dipecat setelah satu musim, bahkan sebelum musim berakhir.

Sepakbola awalnya bukan profesi utama Sarri. Sebelum terjun ke dunia kepelatihan, setelah gagal menjadi pesepakbola, ia merupakan seorang bankir. Uniknya, profesinya sebagai bankir pun tidak diawalinya dengan mengenyam pendidikan yang berhubungan dengan dunia ekonomi. Sarri memang dikenal sebagai sosok yang gigih dalam belajar hal-hal baru, termasuk taktik-taktik modern ketika fokus menjadi pelatih.

"Orang tua saya berasal dari kelas pekerja, yang tentunya berpengaruh pada kehidupan saya," ujar Sarri seperti yang dilansir Italian Football Daily.

Yang membuat Sarri bukan jaminan prestasi adalah ia tipe pelatih yang tidak mengutamakan hasil. Prinsipnya, ia ingin tim yang dilatihnya bermain sesuai dengan yang ia perintahkan. Pelatih kelahiran Napoli ini hanya ingin timnya bermain indah. Karenanya ia juga membenci permainan bertahan. Hal itu ia akui saat masih melatih Empoli.

"Kami telah bekerja sama selama tiga tahun, sehingga kami memiliki identitas. Meski kami berakhir sebagai kesebelasan juru kunci, kami harus memainkan filosofi bermain kami sendiri," ujar Sarri pada 2015 saat mengomentari kekalahan 0-2 Empoli dari Juventus.

Baca juga: Belajar Tanpa Henti ala Maurizio Sarri

Berorientasi pada permainan indah ini berbanding terbalik dengan Mourinho dan Conte, dua pelatih yang sebelumnya menukangi Chelsea sebelum Sarri. Mou dan Conte adalah tipikal pelatih yang rela bermain ultra-defensif demi mengincar hasil yang diinginkannya, entah itu hasil imbang atau kemenangan tipis 1-0. Yang perlu digarisbawahi, Mourinho dan Conte sama-sama pernah memberikan gelar juara Liga Primer lewat pendekatan strategi seperti itu.

Sementara itu Sarri lebih puas dengan permainan indah anak asuhnya. Karena terlalu bernafsu menyerang, Napoli yang dilatihnya musim lalu pun kehilangan kesempatannya untuk menjuarai Serie A. Di akhir musim lalu misalnya, melawan Torino di pekan ke-37, Napoli harus puas dengan hasil imbang 2-2 setelah kebobolan pada menit ke-83. Begitu juga saat menghadapi Roma, unggul lebih dulu 1-0, Napoli kalah 2-4 di akhir laga.

Napoli musim lalu menjadi kesebelasan dengan rataan penguasaan bola tertinggi di Serie A lewat catatan 60,3% per laga. AS Roma di bawahnya terpaut cukup jauh, 56,4% per laga. Rerata tembakan Napoli juga yang tertinggi di Serie A 2017/18. Partenopei total melepaskan 656 tembakan di Serie A. Di Eropa catatan tersebut hanya kalah dari Real Madrid (699 tembakan) dan Manchester City (665).

Dalam tiga musim, secara konsisten Sarri berhasil mengubah Napoli menjadi mesin gol. Di musim pertamanya, Napoli duduk di peringkat kedua dengan torehan 80 gol (kebobolan 32 gol), hanya kalah tiga gol dari AS Roma yang terproduktif. Di musim kedua, Napoli menempati posisi tiga tapi menjadi kesebelasan paling produktif dengan 94 gol (kebobolan 39 gol). Musim lalu torehan gol Napoli menurun menjadi 77 gol, terbanyak ketiga setelah Lazio (89 gol) dan Juventus (86 gol) dengan jumlah kebobolan paling sedikit dalam tiga musim terakhir, 29 gol.

Sarri memang identik dengan dominasi permainan, penguasaan bola, dan sepakbola menyerang. Total operan Napoli pada musim lalu mencapai 27.585, hanya kalah dari Manchester City-nya Pep Guardiola dengan 28.241 operan. Di tempat ketiga, Unai Emery membuat PSG mencatatkan 24.740 operan.

Bagi pendukung Chelsea, catatan-catatan di atas cukup menjanjikan. Tapi perlu diingat, kekuatan kesebelasan Serie A dalam tiga musim terakhir bisa dikatakan jauh di bawah Napoli. Di Italia juga kesebelasan-kesebelasan medioker cenderung memainkan skema serangan balik sehingga sangat memungkinkan untuk bermain dominan, unggul penguasaan bola dan memainkan sepakbola menyerang. Belum lagi perbedaan kultur sepakbola Italia dan Inggris.

Baca juga: Inilah Alasan Kenapa Inggris Bermain Cepat dan Italia Bermain Lambat

Di Liga Primer Inggris, perbedaan kualitas kesebelasan kandidat juara dan kandidat degradasi tidak terlalu besar seperti di Italia. Sarri pun menyadari hal tersebut. Di konferensi pers pertamanya ia menggunakan frasa "lebih kuat" dalam perbandingan Liga Primer Inggris dan Serie A.

"Ini tantangan sulit sekaligus menarik," kata Sarri. "Di sini (Liga Primer) ada pelatih terkuat di dunia dan pemain terkuat di dunia. Saya tahu ini akan menjadi tantangan yang amat sangat sulit buat saya. Liga Primer Inggris berbeda dari Serie A karena saat ini lebih kuat."

Di saat bersamaan, Sarri juga secara eksplisit tidak terlalu yakin para pemainnya bisa beradaptasi cepat dengan filosofi bermainnya. Apalagi banyak pemain yang belum bisa mengikuti latihan pra-musimnya.

"Saya tidak ingin dipengaruhi oleh apapun atau siapapun," ujar Sarri ketika ditanyai apakah ia meminta pendapat Ancelotti atau Conte soal kepindahannya ke Chelsea. "Antonio [Conte] telah mencapai hasil luar biasa, dia manajer yang luar biasa. Tapi saya bermain dengan cara yang berbeda darinya. Jadi akan butuh waktu. Banyak pemain yang masih harus kembali dari [libur usai] Piala Dunia."

"Semua hal baik yang diberikan Antonio harus tetap tinggal. Tapi yang paling penting adalah bagaimana menerapkan sebuah filosofi sepakbola dalam waktu yang singkat," sambungnya.

Satu hal yang dipastikan dari penunjukan Sarri oleh Chelsea adalah musim 2018/19 kita akan menyaksikan permainan menyerang dan menghibur dari Chelsea. Menarik pula menantikan Chelsea yang diasuh oleh Sarri saat bertemu dengan Manchester City-nya Pep Guardiola. Musim lalu, keduanya bertemu di Liga Champions, Napoli vs Manchester City. City menang pada dua pertemuan tersebut. Tapi Pep memuji permainan yang ditunjukkan oleh Napoli.

"Napoli adalah salah satu kesebelasan terbaik yang pernah saya hadapi sepanjang karier saya. Mungkin yang terbaik,” kata Pep usai mengalahkan Sarri pada pertandingan ketiga Liga Champions. "Jika kami tidak bermain dengan baik, kami tidak akan mampu mengalahkan kesebelasan itu. Mustahil kami bisa. Jika kami tidak agresif tanpa bola, jika kami tidak memiliki rencana yang jelas tanpa bola, habislah.”

Baca juga: Kekaguman Guardiola pada Napoli

***

Filosofi sepakbola menyerang Sarri bersama Napoli dikenal sebagai Sarrisimo di Italia. Sepakbola menyerang dengan skema 4-3-3, pergerakan cair trio penyerang, penguasaan bola yang tinggi untuk meminimalisasi lawan sering menguasai bola sehingga lawan sulit menciptakan peluang, atau lebih dikenal dengan penggabungan tiki-taka dan total football, akan menjadi ciri khas baru Chelsea bersama Sarri.

Bukan hal mudah mengubah pola 3-4-3 ala Conte ke permainan yang diinginkan Sarri dalam sistem 4-3-3. Tapi Sarri bisa melakukannya. Ia berhasil mengubah wajah Napoli dalam tiga musim. Napoli sebelumnya terbiasa bermain dengan skema tiga bek Walter Mazzari sebelum berubah menjadi 4-2-3-1 kala ditukangi Rafael Benitez. Sarri bisa mengubah Chelsea dalam waktu singkat.

Tapi yang perlu dikhawatirkan adalah Chelsea hanya tampil menghibur. Pep Guardiola setelah mendengar kabar Sarri diresmikan Chelsea, memberikan pandangan berbeda pada Sarrisimo. "Saya ingin melihat Sarri di Liga Primer. Ia bekerja dengan baik bersama Empoli dan, terlebih lagi, Napoli. Timnya benar-benar enak ditonton,” katanya.

Boleh jadi Sarri merupakan pelatih hebat. Tapi filosofinya menjadi bumerang bagi kesebelasan yang dilatihnya, juga dirinya sendiri. Presiden Napoli, Aurelio de Laurentiis, bahkan tidak merasa menyesal melepas Sarri ke Chelsea. Apalagi Sarri meninggalkan Napoli dengan tidak baik-baik.

"Sarri ke Chelsea? Saya tidak suka saat dia berkata bahwa kami berdua melakukan kesalahan," kata De Laurentiii dinukil dari Calcio Mercato. "Saya tidak melakukan kesalahan apapun. Saya rasa sudah tepat untuk menantangnya. Ia tidak berlaku dengan sikap yang tepat saat ia masih terikat kontrak dengan kami. Di tempat latihan, dia tidak menunjukkan rasa berterima kasih pada para pemain yang membuat dirinya terkenal. Padahal para pemain telah memberikan segalanya untuknya. Sekarang dia malah ingin membawa seluruh pemain Napoli ke Chelsea. Saya menjual Jorginho ke London karena Ancelotti punya harapan lebih pada Diawara dan ia berencana memainkan Hamsik di posisi yang lebih dalam."

Satu cela lain yang menjadi masalah Sarri dalam menukangi tim adalah ia terlalu mengandalkan 11 pemain utama (simak statistik menit bermain pemain-pemain Napoli di bawah ini). Situasi ini terjadi hampir di setiap musim. Ini juga yang menjadi alasan Napoli kerap kehabisan bensin menjelang musim berakhir. Hal ini juga yang membuat Napoli tidak tampil maksimal saat harus bermain di lebih dari satu kompetisi. Di Inggris, Sarri harus rajin merotasi pemainnya karena setidaknya ada empat kompetisi yang akan dijalani.

Catatan menit bermain Napoli, Sarri bisa dibilang hanya mengandalkan 13 pemain di Serie A

Boleh jadi secara kasat mata permainan Chelsea di bawah asuhan Sarri akan menghibur. Pertanyaannya, apakah Abramovich rela timnya bermain menyerang dan indah tapi tidak menghasilkan apa-apa seperti yang didapatkan Sarri saat bersama Napoli? Jika tidak, tentu, seperti yang sudah-sudah, Sarri akan dengan mudah digantikan oleh pelatih lain dalam waktu singkat.

foto: indianexpress.co.uk

Komentar