Mencetak Sejarah Tanpa Nainggolan

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Mencetak Sejarah Tanpa Nainggolan

Sebelum Piala Dunia 2018 digelar, Pelatih Timnas Belgia, Roberto Martinez, mengambil keputusan mengejutkan. Ia tak menyertakan Radja Nainggolan pada 23 nama pemain Belgia untuk Piala Dunia 2018. Mengherankan karena Nainggolan tampil impresif bersama AS Roma yang melaju hingga semifinal Liga Champions UEFA 2017/18.

Martinez lebih memilih Mousa Dembele, Axel Witsel, Nacer Chadli, Adnan Janujaz, Marouane Fellaini, dan Youri Tielemans. Kebintangan dan kualitas Nainggolan rasanya lebih baik di antara nama-nama tersebut untuk menemani Kevin De Bruyne di lini tengah. Tapi Martinez punya alasan tersendiri, bahkan lebih memilih membawa pemain muda, Leander Dendoncker.

Piala Dunia 2018 berjalan. Ternyata Martinez tetap mampu membuat Belgia tampil impresif meski tanpa salah satu talenta terbaiknya. Belgia memastikan diri sebagai kesebelasan terbaik ketiga Piala Dunia 2018 ini setelah mengalahkan Inggris di perebutan peringkat ketiga. Belgia hanya kalah dari Perancis dan Kroasia.

Selama Piala Dunia 2018 berjalan, Belgia melaju mulus ke semifinal. Ini menunjukkan Martinez mengambil keputusan yang tidak keliru dengan meninggalkan Nainggolan. Secara permainan, dalam analisis kami setelah melihat permainan Belgia sepanjang turnamen, rasanya wajar Nainggolan tidak punya tempat di sistem bermain Martinez.

Demi Keseimbangan Pertahanan

Martinez mengandalkan skema 3-4-3 (atau 3-4-2-1) di Piala Dunia 2018. Tidak seperti Gareth Southgate yang baru menemukan formula skema tiga bek di pertandingan terakhir babak kualifikasi, Martinez sudah sejak pertandingan ketiga babak kualifikasi bermain dengan skema tiga bek. Pada laga uji tanding pun skema tiga bek terus dimatangkan.

Martinez tidak terlalu mengandalkan Nainggolan pada babak kualifikasi. Ia hanya dua kali dimainkan. Sekali bermain penuh, sekali hanya bermain enam menit sebagai pemain pengganti. Saat bermain penuh, Nainggolan yang ditempatkan di belakang Romelu Lukaku gagal memberikan kemenangan atas Yunani karena skor berakhir imbang 1-1.

Martinez bukan tanpa upaya memainkan Nainggolan pada sistem bermainnya. Di laga uji tanding, Nainggolan dipasang pada laga melawan Rusia, Republik Ceko, dan Arab Saudi. Tapi tampaknya Martinez masih tak melihat pemain keturunan Batak tersebut bisa masuk pada sistemnya (meski turut ambil bagian dalam kemenangan 4-0 melawan Arab Saudi).

Sial bagi Nainggolan, meski tanpanya, Belgia melaju kencang di babak kualifikasi. Dari 10 laga, Belgia menang 9 kali dan imbang 1 kali. Tanpa kalah. Produktivitas sangat tajam; 34 gol. Kebobolan hanya enam kali.

Sudah sejak babak kualifikasi Martinez mengandalkan Axel Witsel sebagai tandem lini tengah De Bruyne. Melihat gaya bermain Witsel dan Nainggolan terlihat cukup jelas perbedaannya. Witsel nyaman bermain di depan kotak penalti pertahanan, menjadi jembatan lini belakang ke depan, handal dalam merebut penguasaan bola, dan handal dalam duel udara. Nainggolan, sementara itu, andal dalam dribel, tendangan jarak jauh, umpan kunci, dan pressing.

Kelebihan Nainggolan ada pada diri De Bruyne. Bahkan kemampuan De Bruyne boleh dikatakan sedikit ada di atas Nainggolan. Maka tak mengherankan jika De Bruyne adalah motor serangan Belgia dan posisinya tak tergantikan di Belgia, tak terkecuali oleh Nainggolan.

Untuk menggeser Witsel pun agak sulit karena perbedaan gaya bermain. Jika pun harus menyiapkan pengganti Witsel, Martinez justru memilih gelandang-gelandang stylish pembangun serangan macam Tielemans dan Dembele. Tielemans meski tak reguler bermain, turut menyumbang dua asis di Piala Dunia 2018 ini. Dembele jadi pemain dengan akurasi operan tertinggi Belgia, 96,4%.

Bagiamana dengan Fellaini? Sekilas kemampuan Fellaini tak lebih baik dari Nainggolan perihal menyerang maupun bertahan. Tapi gelandang Manchester United itu berguna dalam hal duel udara dan marking pengatur serangan lawan (seperti saat melawan Perancis dengan mengekor Paul Pogba). Satu golnya ke gawang Jepang cukup penting untuk memenangkan Belgia 3-2.

Ada pun Chadli, Janujaz, dan Dendoncker, ketiganya punya peran berbeda posisi dengan Nainggolan. Chadli berposisi sebagai winger (bahkan full-back) mencetak satu gol dan satu asis. Janujaz winger dan turut menyumbang satu gol. Dendoncker bisa bermain sebagai bek tengah.

Nainggolan di Roma sangat fasih bermain dengan skema tiga gelandang pada 4-3-3. Tugas bertahan baginya memang tidak terlalu banyak. Peran bertahan untuk gelandang dibebankan pada Daniele De Rossi dan Kevin Strootman. Nainggolan justru ditugaskan banyak membantu serangan menemani Edin Dzeko, yang sialnya penggunaannya berbeda dengan Lukaku di Belgia.

Tampil Luar Biasa Tanpa Nainggolan

Sebagai pelatih, Martinez tentu harus memikirkan strategi terbaik dalam filosofi permainannya. Untuk menyempurnakan skema tersebut, tak jarang seorang pelatih mengorbankan satu-dua pemain bintang yang gaya bermainnya tidak cocok. Martinez membuktikannya dengan menyuguhkan Belgia yang luar biasa sepanjang Piala Dunia 2018.

Belgia menjadi salah satu kesebelasan yang konsisten bermain terbuka untuk menyerang. Di Piala Dunia 2018, tidak banyak kesebelasan yang bermain terbuka. Tak heran gol lebih banyak dicetak melalui bola mati dan bahkan tendangan penalti. Tapi Martinez tidak terpengaruh hal itu dan tetap memainkan filosofi andalannya.

Belgia mengakhiri kompetisi dengan 16 gol, terbanyak di Piala Dunia 2018. Tak mengherankan karena Belgia jadi salah satu kesebelasan yang gemar mengancam. Torehan tembakan Belgia sebesar 15,1 kali per laga. Jumlah itu tertinggi ke-5 setelah Jerman (24), Brasil (20,8), Spanyol (18), dan Kroasia (16,5).

Dari ke-16 gol yang dicetak Belgia pun mayoritas tercipta melalui skema open play. Dari 16 gol, 12 di antaranya dari permainan terbuka. Jumlah tersebut merupakan yang terbanyak di Piala Dunia 2018 ini. Hal tersebut menunjukkan skema Martinez berjalan dengan baik. Melihat banyaknya gol dari bola mati yang diciptakan kesebelasan lain, efektivitas strategi Martinez layak diacungi jempol.

***

Belgia memang tidak juara pada Piala Dunia 2018. Tapi menempati peringkat ketiga bagi mereka sudah menjadi prestasi tersendiri. Prestasi terbaik mereka sebelumnya "hanya" menempati peringkat empat pada Piala Dunia 1986. Belgia kalah 2-4 dari Perancis. Martinez sudah mencatatkan sejarah baru untuk Belgia.

Martinez tampaknya belajar banyak dari kegagalan Belgia pada Piala Eropa 2016. Saat dilatih Marc Wilmots, Nainggolan cukup diandalkan. Tidak hanya mantan pemain Cagliari saja, pemain lainnya seperti Christian Benteke, Steven Defour, hingga Laurent Ciman juga menjadi andalan. Wilmots juga mengandalkan 4-3-3 yang menjadi pembelajaran para pemain Belgia saat masih di akademi.

Tapi taktik sepakbola terus berkembang. Mulai banyak kesebelasan yang meraih kesuksesan menggunakan skema tiga bek. Martinez, sepertinya menyadari hal itu. Dan Belgia mencatatkan prestasi bersama Martinez lewat skema tiga bek tersebut. Maka keberhasilan Martinez bersama Timnas Belgia di Piala Dunia 2018 ini sudah sepatutnya menjawab keraguan kemampuan taktikalnya yang kurang berhasil bersama Everton. Menyisihkan Nainggolan, terbukti, bukan masalah besar bagi Belgia.

Komentar