Kehadiran Cutrone Sebagai Upaya Meregenerasi Lini Depan Timnas Italia

Analisis

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Kehadiran Cutrone Sebagai Upaya Meregenerasi Lini Depan Timnas Italia

Patrick Cutrone tak menyangka dipanggil timnas Italia senior dalam laga persahabatan menghadapi Argentina (24/3) dan Inggris (28/3). Saking terkejutnya, Cutrone sampai memeriksa ulang daftar pemain timnas Italia U-21, memastikan bahwa informasi pemanggilannya ke timnas senior adalah benar.

Maklum, usia Cutrone baru 20 tahun dan sebelumnya masih tercatat sebagai pemain timnas Italia U-21. Penyerang AC Milan itu bahkan baru melakoni debutnya di timnas U-21 pada September 2017 lalu. Hal tersebut yang kemudian membuatnya ragu bila Luigi Di Biagio, pelatih timnas Italia, memanggilnya untuk jeda internasional akhir Maret nanti.

Kekagetan Cutrone ini mungkin dialami juga oleh para pendukung timnas Italia. Ia sepanjang musim ini baru mencetak tujuh gol di Serie A. Torehan golnya kalah dari Fabio Quagliarella yang dari 27 penampilannya bersama Sampdoria di Serie A musim ini telah mencetak 17 gol. Roberto Inglese yang mengemas sembilan gol dari 24 penampilan bersama Chievo Verona juga bisa dikatakan lebih produktif.

“Saya tidak menyangka dipanggil timnas senior Italia. Saya bahkan sampai mengecek daftar pemain timnas U-21 Italia. Takutnya nama saya ada di sana, yang berarti, informasi pemanggilan saya ke timnas senior itu salah,” kata Cutrone, dilansir dari situs resmi AC Milan.

Keputusan Di Biagio memasukkan nama Cutrone ke timnas senior tentu bukan tanpa alasan. Perkembangan signifikan Cutrone bersama AC Milan sejauh ini ini cukup positif. Ia sudah tampil dalam 37 penampilan di semua ajang dengan catatan 15 gol (7 di Serie A) dan empat asis. Untuk pemain berusia 20 tahun itu cukup menjanjikan.

***

Melihat performa impresif Cutrone bersama Milan musim ini, juga pemanggilannya ke timnas senior, bisa jadi sebagai representasi kebangkitan penyerang Italia yang lama meredup.

Dulu, selain dikenal sebagai gudangnya pemain bertahan berkualitas, Italia juga kesohor sebagai produsen penyerang jempolan. Misalnya: Giuseppe Meazza, Luigi Riva, Giorgio Chinaglia, Paolo Rossi, Gianluca Vialli, Roberto Baggio, Christian Vieri, hingga Luca Toni yang muncul sebagai penyerang tajam Italia dalam periode berbeda.

Namun dalam beberapa tahun terakhir ini, Italia malah menemui kebuntuan dalam memproduksi penyerang andal yang bisa menjadi tulang punggung tim nasional. Bukti paling nyata dari kesulitan Italia menemukan sosok penyerang lokal berkualitas terlihat di Piala Eropa 2016.

Pada akhirnya, Conte menemukan lima sosok yang menurutnya layak berseragam Italia di Piala Eropa 2016: Simone Zaza (Juventus), Ciro Immobile (Torino), Lorenzo Insigne (Napoli), Graziano Pelle (Southampton), dan Eder (Sampdoria). Namun, dari lima penyerang yang menghuni skuat Gli Azzuri kala itu, menarik melihat keputusan Conte mencantumkan nama Zaza dan Immobile yang penampilannya di klub masing-masing tak bersinar.

Zaza statusnya tak lebih sebagai pemain lapis dua di Juventus. Sepanjang musim 2015/16, atau musim terakhir sebelum Piala Eropa 2016 dimulai, ia hanya tampil dalam 24 pertandingan di semua ajang dengan mencetak delapan gol dan dua asis. Zaza kalah saing dengan penyerang Juventus lainnya seperti Paulo Dybala (46 penampilan, 23 gol), Mario Mandzukic (36 penampilan, 13 gol), hingga Alvaro Morata (47 penampilan, 12 gol).

Kemudian Immobile, dari 14 penampilan bersama Torino, hanya mencetak lima gol di Serie A. Musim 2015/16 seakan menjadi musim terburuk Immobile. Sebelum bergabung bersama Torino pada jendela transfer musim dingin 2016, ia tercatat sebagai pemain Sevilla. Di Spanyol, ia hanya tampil dalam 15 pertandingan dengan torehan empat gol. Catatan yang kurang mengesankan itu nyatanya tetap membuatnya dipanggil Gli Azzurri, yang menandakan Italia memang krisis penyerang berkualitas.

Banyaknya pemain asing yang beredar di kompetisi Italia menjadi faktor dominan yang membuat Italia kesulitan mencari pemain yang bisa dijadikan sebagai tulang punggung timnas. Hal tersebut secara tidak langsung malah mematikan karier pesepakbola lokal, karena klub kecenderungannya lebih mengandalkan jasa pemain asing.

Pada akhir musim Serie A 2015/16, penyerang asing mendominasi lima besar daftar pencetak gol terbanyak. Gonzalo Higuain (Napoli) berada di posisi puncak dengan 36 gol. Disusul Paulo Dybala (Juventus, Argentina) dengan 19 gol, Carlos Bacca (AC Milan, Kolombia) dengan 18 gol, Mauro Icardi (Internazionale Milan, Argentina) dengan 16 gol, dan Leonardo Pavoletti (Genoa, Italia) dengan 14 gol.

Melihat daftar tersebut, hanya Leonardo Pavoletti sebagai penyerang lokal yang menghuni daftar lima besar pencetak gol terbanyak Serie A kala itu. Namun pencapaian Pavoletti pun disamai oleh pemain depan AS Roma asal Mesir, Mohammed Salah.

Sejak tahun 2014, saat Carlo Tavecchio terpilih sebagai Presiden Federasi Sepakbola Italia (FIGC), upaya mereduksi jumlah pemain asing di kompetisi domestik mulai digalakkan. Sejak musim 2015/16, Tavecchio, mewajibkan setiap tim hanya boleh mendaftarkan 25 pemain, tidak termasuk pemain di bawah 21 tahun. Dari 25 pemain tersebut, minimal delapan pemain di antaranya harus berstatus homegrown atau pemain didikan lokal (minimal empat pemain harus berasal dari akademi masing-masing klub).

Meski pada November 2017 Tavecchio mundur dari jabatannya sebagai Presiden FIGC, menyusul kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2018, namun reformasi yang dilakukannya dalam mereduksi jumlah pemain asing dan pembinaan pemain muda Italia terbukti berhasil. Immobile dan Andrea Belotti bisa dijadikan contoh. Dalam dua tahun terakhir, dua pemain tersebut menampilkan performa gemilang bersama klubnya masing-masing.

Immobille, yang perfomanya menurun di Borussia Dortmund (34 penampilan, 10 gol) dan Sevilla (15 penampilan, empat gol), bangkit ketika dirinya bergabung bersama SS Lazio pada musim 2016/17. Di klub ibu kota itu Immobile diproyeksikan sebagai pengganti Miroslav Klose yang pensiun. Keputusan Lazio meminang Immobile sebenarnya cukup mengejutkan, mengingat musim sebelumnya ia tampil tak terlalu bagus bersama Torino.

Tapi, yang terjadi kemudian justru di luar ekspektasi banyak pihak. Di akhir musim 2016/17, Immobile yang tampil dalam 41 penampilan di semua ajang mampu mencetak 26 gol. Di Serie A, ia masuk jajaran enam besar pencetak gol terbanyak dengan 23 gol.

Performa Immobile bersama Lazio semakin produktif di musim 2017/18. saat ini Immobille telah mencetak 24 gol dari 26 penampilannya bersama Lazio di Serie A. Catatan tersebut, mengantarnya memuncaki daftar pencetak gol terbanyak Serie A.

Kemudian Belotti, yang pada musim lalu mencetak 26 gol dari 35 penampilannya bersama Torino di Serie A. Statistiknya pada musim tersebut pun terbilang baik. Rata-rata 3.71 tembakan dilepaskan Belotti dengan akurasi mencapai 49 persen. Catatan tersebut unggul dari Gonzalo Higuain dengan 3.50 tembakan per laga.

***

Pemanggilan Cutrone ke timnas Italia ini bisa jadi salah satu upaya untuk mematangkan sang pemain untuk mencicipi atmosfer yang lebih tinggi demi pengalaman yang cukup di masa yang akan datang. Karena itu pula Quagliarella yang produktif musim ini tidak dipanggil. Usia mantan penyerang Juventus itu sudah 35 tahun.

Sejak era Gian Piero Ventura beberapa penyerang muda memang sudah dicoba di timnas Italia senior sebagai upaya regenerasi. Dimulai dari Nicola Sansone, Andrea Petagna, dan Roberto Inglese. Namun perlu menjadi catatan, Sansone dan Inglese sudah mencapai usia emas (26 tahun). Sementara level keduanya bisa dibilang tidak berada di level penyerang top.

Saat ini Immobile (28 tahun) telah membuktikan bahwa dirinya bisa diharapkan menjadi andalan Italia setidaknya untuk tiga atau empat tahun ke depan, hingga Piala Dunia 2022. Di saat yang bersamaan, Andrea Belotti (saat ini 24 tahun) dan Cutrone (20 tahun) serta penyerang muda lain dicoba juga agar rantai regenerasi tidak terputus seperti yang terjadi beberapa tahun terakhir.

Dalam ranah perkembangan pemain muda, Cutrone memang layak dijadikan sebagai contoh. Bahkan mantan pelatih AC Milan, Vincenzo Montella, mengungkapkan bahwa Cutrone merupakan representasi masa depan timnas Italia.

“Dia mempunyai keinginan kuat untuk lebih baik lagi saat latihan, dan ini akan membuatnya bisa terus melaju. Dia merepresentasikan masa depan tim nasional," kata Montella, dilansir dari Football Italia.

Artinya, ia bukan hanya representasi kebangkitan penyerang Italia yang lama meredup, namun juga bukti dari keseriusan Italia dalam menggalakan pembinaan pemain muda. Dalam skuat timnas Italia yang akan melakoni pertandingan persahabatan melawan Argentina dan Inggris, Cutrone bukan satu-satunya pemain dari timnas U-21 yang dipanggil Di Biagio, tapi ada pula Federico Chiesa, winger Italia U-21 yang juga masih berusia 20 tahun.

Selain Chiesa dan Cutrone, Lorenzo Pellegrini (AS Roma) yang berusia 21 tahun juga mendapatkan kesempatan untuk unjuk gigi. Upaya lain Italia meremajakan skuatnya pun terlihat dengan hanya ada tiga pemain saja yang usianya di atas 30 tahun. Kegagalan lolos ke Piala Dunia 2018 tampaknya dimanfaatkan betul untuk memunculkan bakat-bakat baru yang bisa mengembalikan derajat dan harga diri sepakbola Italia.

Foto: Twitter @EuropaLeague

Komentar