Mencoba Memahami Keputusan Bali United dan Persija

Analisis

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Mencoba Memahami Keputusan Bali United dan Persija

Katanya Bali United dan Persija Jakarta terbalik memilih prioritas. Piala Presiden, yang statusnya hanya pra-musim, terang-terangan lebih diprioritaskan alih-alih Piala AFC yang membawa kebanggaan Indonesia di pentas Asia.

Jika narasinya hanya sesempit itu, sesungguhnya prioritas Bali dan Persija keliru.

Namun dalam memandang Piala AFC dan Piala Presiden ini, sebaiknya kita bisa memperkaya sudut pandang kita terlebih dahulu sebelum benar-benar menghakimi Bali dan Persija. Bagaimana juga, Bali dan Persija diberikan pilihan prioritas. Ada pro dan kontra di masing-masing pilihan tersebut.

Pada akhirnya, Bali dan Persija sama-sama menelan kekalahan di pertandingan pertama Piala AFC. Bali kalah 1-3 dari tamu mereka, Yangon United; Persija kalah 0-3 dari tuan rumah Johor Darul Ta’zim. Meski demikian, Bali dan Persija juga sama-sama berhasil lolos ke final Piala Presiden.

Baca juga: Gelaran Piala Presiden Perlu Mendapat Evaluasi

Hal lainnya yang sama bagi kedua kesebelasan itu adalah mereka menurunkan susunan pemain yang lebih kuat di Piala Presiden daripada Piala AFC; keduanya memiliki jadwal super padat yang menjadi alasan melakukan hal itu; dan – ini kesamaan yang paling kentara – jadwal Liga 1 masih belum jelas.

Piala Presiden > Piala AFC

“Ya mungkin kita optimalkan laga pertama mengingat prioritas kami tetap Piala AFC,” kata Pieter Tanuri selaku owner Bali United pada 7 Februari 2018. Namun setelah kalah dari Yangon, pernyataan yang keluar berbeda lagi.

“Dari segi prioritas, saat ini memang ke Piala Presiden. Ini sesuai pesan owner. Kami ini klub yang baru berusia tiga tahun. Tinggal selangkah lagi mencatatkan prestasi. Meski pencapaian sejauh ini di Piala Presiden 2018 sudah sangat kami syukuri. Ini juga bukan soal hadiah,” kata Widodo Cahyono Putro, pelatih kepala Bali, pada 14 Februari 2018.

Kita bisa melihat Pieter Tanuri, owner Bali, seperti orang yang tak teguh pendirian. Tapi sebenarnya ia juga bisa dilihat memiliki perencanaan jangka panjang yang baik.

Pertandingan di Piala AFC melawan Yangon (bagi Bali) dan Johor (bagi Persija) adalah serangkaian pertandingan fase grup Piala AFC. Mereka masih memiliki lima pertandingan lagi untuk menentukan lolos atau tidak ke fase selanjutnya. Setiap juara grup dan tiga runner-up terbaik berhak lolos.

Tetap saja, memang, mengorbankan satu pertandingan Piala AFC untuk mencapai final turnamen pra-musim seolah menjadi hal yang menggelikan. Tapi, jika kita pindahkan sudut pandang kita menjadi sudut pandang pengurus kesebelasan Bali atau Persija, kita mungkin bisa memahami dan menerimanya.

Baca juga: Salah Kaprah “Turnamen” Pra-Musim di Indonesia

“Pemain sepakat untuk fokus ke Piala Presiden. Kami memang punya waktu mepet,” kata Stefano Teco Cugurra, pelatih kepala Persija, setelah kalah dari Johor.

Harus kita akui, Piala Presiden yang statusnya hanya turnamen pra-musim ini memiliki gengsi sangat tinggi di Indonesia. Kemudian, salah satu hal yang menggiurkan dari turnamen pra-musim ini adalah hadiahnya.

Juara Piala Presiden akan mendapatkan 3,3 miliar rupiah, peringkat kedua 2,2 miliar rupiah, peringkat ketiga 1,1 miliar rupiah, serta peringkat keempat 550 juta rupiah. Dengan lolos ke final, Bali dan Persija setidaknya sudah mendapatkan modal minimal 2,2 miliar rupiah untuk mengarungi Liga 1 2018.

Hadiah itu setidaknya bisa menutupi sebagian dana operasional kesebelasan untuk Liga 1 2018. Apalagi sampai dengan saat ini, PT Liga Indonesia Baru masih memiliki tunggakan dana subsidi kepada seluruh kontestan Liga 1 2017 yang berpotensi mengganggu persiapan kesebelasan di Liga 1 2018.

Sementara itu, uang hadiah Piala AFC memang jauh lebih besar - 1,5 juta dolar AS (20,5 miliar rupiah). Namun, itu baru akan didapatkan jika mereka menjadi juara (dijadwalkan finalnya) pada 27 Oktober 2018. Itu masih lama, jalannya pun berliku. Belum tentu dapat, dan kalaupun dapat, hanya bisa dipakai untuk modal musim berikutnya.

Sialnya bagi Bali dan Persija, dengan bermain di Piala AFC, mereka membawa nama Indonesia. Siapa pun yang membawa nama Indonesia akan dikomentari oleh pecinta sepakbola Indonesia.

Bali dan Persija dihadapkan kepada masalah memilih prioritas. Masalah memilih prioritas ini adalah hal yang prinsipiel. Sama seperti ketika musim lalu Manchester United memilih fokus ke Liga Europa UEFA daripada Liga Primer dengan tujuan yang sama: lolos ke Liga Champions sebagai pemenang Liga Europa UEFA.

Pada akhirnya, Man United lolos ke Liga Champions setelah menjuarai Liga Europa. Tapi mereka sangat jeblok di Liga Primer dengan berada di peringkat keenam di klasemen akhir. Walau lolos ke Liga Champions, hal yang tak terhindari adalah: tetap diledek.

Baca juga: Mempertanyakan Man United yang Sibuk dan Memilih Fokus ke Liga Europa

Jadi, apa pun yang dilakukan dan diputuskan oleh Man United, Bali, dan Persija, mereka serba salah. Mereka memiliki skala prioritas di mana mereka tak bisa memilih untuk berhasil di semuanya. Terlepas segala risiko yang sudah matang dipertimbangkan, pada akhirnya mereka tetap saja akan diledek apa pun keputusannya dan apa pun hasilnya.

Semua Gara-gara Liga 1 Molor

Jika kita sama-sama belajar, Yangon United adalah kesebelasan yang bisa belajar padahal mereka pernah dibantai 9-2 melawan Persipura pada Piala AFC 2014. Namun, apa pun masalah dan pro-kontra yang menyertai Piala AFC dan Piala Presiden, yang tidak belajar itu adalah pengurus sepakbola Indonesia.

Tahun demi tahun tidak tampak kemajuan dalam perencanaan kompetisi – setidaknya dalam hal penjadwalan.

Piala AFC membawa kebanggaan Indonesia, itu benar. Piala Presiden hanya pra-musim, itu juga benar. Namun, jika kita dihadapkan pada situasi ini, menempatkan diri kita sebagai pengurus kesebelasan, maka yang terbaik adalah fokus ke Piala Presiden.

Fokus ke turnamen pra-musim tersebut wajar karena hasilnya bisa langsung berdampak, baik jangka pendek dan jangka panjang. Sementara Piala AFC, di fase grup saja masih ada lima pertandingan tersisa. Secara matematis, Bali dan Persija masih mungkin lolos ke fase berikutnya.

Jangan salahkan Bali atau Persija; mereka diberi pilihan prioritas. Sedangkan pengurus sepakbola Indonesia tentu tidak memiliki pilihan, melainkan “dipaksa” untuk menentukan secepatnya karena di depan ada banyak distraksi menanti: Pilkada, Ramadan, Lebaran, Asian Games, Asian Para Games, Piala AFF, dan berbagai distraksi lainnya. Ngeri.

Lagipula, kalaupun jadwal Piala AFC dan Piala Presiden bentrok, kenapa tidak Piala Presidennya saja yang digeser? Di La Liga Spanyol musim ini pada pekan ke-16 misalnya, pertandingan Leganés melawan Real Madrid yang dijadwalkan pertengahan Desember 2017 rela digeser menjadi 22 Februari 2018 karena Real Madrid mengikuti Piala Dunia Antarklub.

Itu La Liga, lho. Pertandingan liga resmi. Lah, ini, hanya pra-musim saja tak bisa digeser.

Jadi kalau mau menyalahkan, salahkan yang mengurusi jadwal pra-musim dan Liga 1... atau bisa salahkan juga pengurus bola yang mau ikut Pilkada tapi malah minta cuti.

Foto: Twitter @AFCCup

Komentar