Permainan Terbuka Arsenal dan Chelsea Membuahkan Drama Empat Gol di Derbi London

Analisis

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Permainan Terbuka Arsenal dan Chelsea Membuahkan Drama Empat Gol di Derbi London

Arsenal hampir saja mengawali perjalanannya di tahun 2018 dengan kekalahan. Menghadapi Chelsea di Emirates Stadium, Kamis (4/1) dini hari WIB, Arsenal patut bersyukur setelah mengamankan satu poin dari laga bertajuk derby London itu.

Saat pertandingan memasuki menit 63, Arsenal sebenarnya mampu unggul lebih dulu atas Chelsea setelah Jack Wilshere mencetak gol. Namun keunggulan tersebut hanya bertahan tiga menit, Chelsea langsung membalas melalui eksekusi penalti Eden Hazard pada menit 67. Jelang pertandingan berakhir, Chelsea berbalik unggul 2-1 setelah Marcos Alonso mencetak gol pada menit 83.

Tak ingin dipermalukan di hadapan pendukungnnya sendiri, Arsenal terus menggempur pertahanan Chelsea di sisa waktu yang ada. Gol balasan Arsenal akhirnya tercipta pada menit 92 melalui sepakan Hector Bellerin yang gagal diantisipasi Thibaut Courtois. Pertandingan akhirnya usai dengan skor imbang 2-2, dan Arsenal lolos dari derita kekalahan secara dramatis.

Kepincangan lini pertahanan menjadi titik lemah Arsenal

Manajer Arsenal, Arsene Wenger, mengungkapkan bahwa hasil imbang 2-2 merupakan hasil yang pantas didapatkan kedua kesebelasan. Menurut Wenger Chelsea dan Arsenal menampilkan permainan terbuka yang menarik untuk disaksikan. Pelatih berkebangsaan Prancis itu juga mengapresiasi kinerja anak asuhnya dalam laga tersebut.

"Itu adalah permainan sepakbola yang hebat. Itulah yang ingin orang bicarakan. Media dan jaringan sosial membuat semua orang gila hari ini, tapi yang penting bagi saya adalah permainan sepakbola yang bagus,” terang Wenger seperti dilansir dari Metro.

Tidak berlebihan bila Wenger mengapresiasi permainan timnya dalam laga melawan Chelsea. Pada kenyataannya Arsenal memang tampil bagus, khususnya lini serang mereka. Sejak awal pertandingan Arsenal langsung menerapkan permainan agresif dengan Mesut Oezil dan Wilshere sebagai generator serangan dari lini tengah.

Pada babak pertama berkali-kali hasil kreativitas Oezil dan Wilshere mampu menopang pergerakan Alexis Sanchez dan Alexandre Lacazette mengancam jantung pertahanan Chelsea. Bahkan di menit 16, Arsenal nyaris membuka keunggulan andai sepakan Sanchez tak ditepis Coutouis yang akhirnya mengenai tiang gawang. Memasuki babak kedua, Arsenal semakin agresif melancarkan serangan hingga berbuah dua gol dari Wilshere dan Bellerin.

Namun yang menjadi titik lemah Arsenal dalam pertandingan tersebut adalah lini belakang mereka yang keropos. Menghadapi Chelsea, Arsenal tampil tanpa tiga pilar andalan di sektor pertahanan setelah Nacho Monreal, Sead Kolasinac, dan Laurent Koscielny absen karena cedera.

Wenger dipaksa memutar otak untuk menambal kekosongan yang ditinggalkan tiga pemain tersebut. Dalam formasi dasar 3-4-2-1, Wenger memilih Skhodran Mustafi, Robb Holding, dan Chalum Chamber sebagai trio pemain bertahan. Sementara posisi Koscielny di pos fullback kiri diisi oleh Ainsley Maitland-Niles.

Kepincangan Arsenal di lini belakang bisa dimanfaatkan Chelsea untuk mencecar jantung pertahanan The Gunners. Berkali-kali umpan terobosan yang diarahkan kepada Eden hazard atau Alvaro Morata kerap gagal diantisipasi Mustafi, Hoding, dan Chamber. Pada menit 14, gawang Arsenal hampir saja bobol oleh Morata yang berhasil lepas dari kawalan Mustafi dan Chamber saat menerima umpan terobosan dari tengah.

Tampak adanya kesalahan koordinasi yang dilakukan Mustafi dan Chamber dalam mengawal Morata. Akibatnya, Morata bisa leluasa merangsek ke kotak 16 Arsenal. Tapi pemain asal Spanyol itu gagal memanfaatkan peluang emas tersebut menjadi gol. Sepakannya melenceng, padahal posisinya saat itu sudah tinggal berhadapan dengan Peter cech.

Petaka bagi Arsenal terjadi pada menit 66, selepas gol Wilshere, pertahanan Arsenal kalang kabut mengantisipasi serangan cepat Chelsea hingga memaksa Bellerin melakukan pelanggaran kepada Hazard di kotak penalti sendiri. Hazard yang mengeksekusi penalti tersebut tak membuang kesempatan untuk membawa Chelsea menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

Sementara gol kedua Chelsea yang dicetak Alonso terjadi karena kesalahan antisipasi bola silang dari Mustafi. Davide Zapacosta yang berhasil mengelabui Ainsley Maitland-Niles langsung melepaskan umpan silang dari sisi kanan pertahanan Arsenal. Mustafi tidak menyadari pergerakan tanpa bola Alonso yang dengan cepat menyambar bola umpan silang Zapacosta.

Morata kurang beruntung

Sementara Chelsea, meski dalam pertandingan tersebut lebih fokus menjaga keseimbangan. Namun soal peluang mencetak gol, klub berjulukan The Blues itu jauh lebih dominan dibanding Arsenal. Sepanjang 90 menit pertandingan, total 19 tembakan dilepaskan dengan enam tendangan tepat sasaran dan satu mengenai mistar. Sementara Arsenal dari total 14 tembakan, enam di antaranya mengarah ke gawang.

“Dalam game ini kami pantas menang seperti karena kami memiliki banyak peluang. Kami harus kecewa dengan hasil imbang ini, karena kami memiliki kesempatan besar untuk menang. Tapi kami harus menerima hasil akhirnya. Kita menang bersama, kita kalah bersama, kita imbang bersama," terang Manajer Chelsea, Antonio Conte.

Sosok Morata menjadi sorotan dari kegagalan Chelsea memanfaatkan setiap peluang untuk menciptakan gol. Dalam laga tersebut, setidaknya Morata memiliki tiga kesempatan mencetak gol saat sudah berhadapan dengan Peter Cech. Selain peluang emas yang didapatkannya pada menit 14, mantan pemain Real Madrid itu juga memiliki peluang dengan situasi sama pada menit 69 dan 93. Tapi ia tidak bisa memanfaatkan peluang emas tersebut menjadi gol.

Agak mengherankan melihat performa Morata di laga melawan Arsenal. Padahal ia berstatus sebagai salah satu penyerangan mahal yang berkiprah di Liga Primer Inggris setelah Chelsea memboyongnya dari Real Madrid dengan mahar 70 juta paun.

Bukan bermaksud mengecilkan performa Morata. Melalui catatan 10 gol yang sejauh ini sudah ditorehkan di Liga Primer, jelas bahwa Morata merupakan penyerang berkualitas. Namun dari penampilan Morata yang terekam di laga Arsenal, jelas bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus ia selesaikan, terutama soal mentalitas saat situasi satu lawan satu dengan penjaga gawang.

"Bukan keberuntungan pada periode ini, dia harus terus bekerja dan terus membaik. Bagi striker itu sangat penting untuk mencetak gol. Sayang sekali, dia punya banyak kesempatan untuk mencetak gol, tapi saya Saya sangat senang dengan komitmen dan usaha timnya," terang Conte.

Komentar