Kesabaran adalah Kunci Kemenangan Man United Atas Spurs

Analisis

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Your personal football analyst. Contributor of Pandit Football Indonesia, manager of Box2Box Media Network, podcaster of Footballieur, creative writer of Tirto.ID, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach... Who cares anyway! @dexglenniza

Kesabaran adalah Kunci Kemenangan Man United Atas Spurs

Pertandingan besar hadir terlalu awal di Liga Primer Inggris pekan ke-10, yaitu pada pukul 18:30 WIB semalam (28/10/2017). Manchester United berhasil menang 1-0 atas tamunya, Tottenham Hotspur, melalui gol yang dicetak oleh Anthony Martial di menit ke-81.

Salah satu catatan yang bisa diambil pada pertandingan semalam adalah betapa sabarnya kedua kesebelasan dalam bertahan dan mencari celah untuk melakukan serangan balik. Kedua kesebelasan sama-sama memainkan tiga bek tengah.

United memainkan Eric Bertrand Bailly, Christopher Smalling, dan Philip Jones. Sementara Spurs menurunkan Tobias Alderweireld, Eric Dier, dan Jan Vertonghen. Hal berbeda dari Spurs adalah mereka bermain tanpa penyerang murni, karena Harry Kane menderita cedera hamstring, meski mereka masih memiliki Fernando Llorente yang baru bermain di babak kedua.

Jose Mourinho, manajer Man United, terlihat melakukan match up atau pencerminan terhadap taktik Spurs dengan memainkan skema tiga bek juga. Meski pada awal pertandingan Mourinho sempat menyangkalnya dengan berkata: “Siapa yang bilang aku akan memainkan [skema] tiga bek?”, tapi pada kenyataannya selama 90 menit memang begitu yang terjadi.

Beralih ke Spurs, Mauricio Pochettino tidak memainkan penyerang murni, tapi memberikan tugas penyerang bergantian kepada Bamidele Alli dan Son Heung-min. Pemilihan Dele mungkin wajar, karena ia adalah salah satu pemain utama Spurs, tapi pemilihan Son sempat menjadi sorotan.

Son dipilih karena ia lebih memiliki kecepatan dan pergerakan yang sulit ditebak oleh para pemain bertahan “Setan Merah”. Hal ini tidak akan mengagetkan jika Spurs dari awal memainkan Llorente. Akan tetapi pada kenyataannya di atas lapangan, penyerangan cair dari Spurs tidak berhasil menembus pertahanan United. Itu yang membuat Son ditarik keluar di babak kedua.

Pertahanan disiplin membuat pertandingan alot di babak pertama

Kedisiplinan dalam pertahanan tiga bek adalah mimpi buruk bagi setiap kesebelasan yang berusaha menembus mereka. Semalam itu ditunjukkan oleh kedua kesebelasan, setidaknya sampai menit ke-80.

Bagi United, ketiga bek tengah mereka tidak mudah terpancing bergerak meninggalkan garis pertahanan untuk meladeni permainan Spurs, karena bisa dihukum oleh kecepatan mereka. Hal ini membuat Spurs berkali-kali terpaksa melakukan tembakan dari jarak jauh, yaitu sebanyak 5 (dari 10) di babak pertama dan dua (dari tiga) di babak kedua.

David De Gea melakukan lima penyelamatan, tapi sebenarnya hanya dua yang benar-benar tembakan berbahaya.

Begitu juga dengan para bek tengah Spurs, mereka langsung bisa menutup pergerakan kedua penyerang United, Romelu Lukaku dan Marcus Rashford, sehingga pada babak pertama United hanya diizinkan menembak sebanyak dua kali (satu on target dan itu pun tendangan bebas dari jarak jauh).

Gambar 1 – Grafis tembakan Spurs (kiri) dan United (kanan) pada babak pertama – Sumber: Squawka

Kedisiplinan kedua kesebelasan dalam bertahan membuat minimnya celah yang tercipta. Kalaupun ada celah yang tercipta, keduanya, terutama Spurs, bisa langsung membuat tactical foul untuk mencegah lawan melakukan counter attack.

Tactical foul ini adalah pelanggaran kecil, seringnya ketika off the ball, yang tidak terlalu krusial (tidak menghasilkan kartu) yang bertujuan mencegah lawan ketika pada masa transisi dari bertahan ke menyerang.

Hal-hal taktikal seperti ini yang justru menyebabkan pertandingan cenderung alot dan membosankan di babak pertama.

Man United sulit menembus lini tengah Spurs

Bermain tanpa penyerang, alias dengan lima gelandang murni, membuat Spurs bisa menguasai lini tengah di Old Trafford.

Sebenarnya United juga tidak membiarkan mereka melakukannya begitu saja. Duet Nemanja Matic dan Ander Herrera dimainkan untuk menutup pergerakan mesin kreativitas Spurs di lini tengah tersebut. Namun, mereka berdua memang kalah jumlah.

Selain soal jumlah pemain, penyerangan United yang terlihat mandek terutama di babak pertama juga bisa dipahami karena mereka tidak memiliki pemain kreatif yang bisa memanjakan kedua penyerang di depan. Hasilnya, United memainkan bola-bola panjang yang sia-sia.

Gambar 2 – Grafis bola panjang dan umpan terobosan United – Sumber: Squawka

Dari banyaknya umpan panjang di atas, tidak ada satupun yang berbuah peluang selama babak pertama (hanya satu berbuah peluang, tapi itu dari bola terobosan, bukan bola panjang). Tapi di babak kedua, mereka berhasil mencatatkan tiga peluang dan satu asis.

Keberhasilan United menembus pertahanan Spurs dengan cara yang sama seperti di babak pertama adalah buah dari kesabaran para pemain United. Pengecualian pada gol Martial yang merupakan kesalahan Dier, bukan berarti pertahanan Spurs lebih tidak disiplin di babak kedua, hanya para pemain United yang lebih “bebal”.

Pada akhir pertandingan, Mourinho juga memuji permainan Spurs. “Sekali lagi aku bahkan lebih bahagia karena kami mengalahkan tim yang sangat bagus. Aku sangat-sangat suka tim ini,” kata Mourinho.

Sebenarnya ia tidak perlu mengatakannya. Susunan sebelas pemain utama United sudah menunjukkan jika Mourinho benar-benar menghargai bahayanya permainan Spurs.

Martial dan Rashford menyediakan kecepatan di sayap kiri

Agak ironis untuk memuji Martial dan Rashford, terutama karena di awal musim ini banyak yang mengkritik United (termasuk kami) tidak memiliki kecepatan di sayap kiri. Tidak heran, banyak gosip yang beredar juga jika “Setan Merah” akan mendatangkan winger kiri baru dengan salah satunya adalah Ivan Perisic.

Jika ditelaah sampai pekan ke-10 ini, Mourinho justru bisa menyiasati kelemahan United tersebut dengan dua pemain “nanggung”-nya, yaitu Martial dan Rashford.

Bagi para manajer FPL, akan menjadi dilema memilih salah satu dari dua pemain ini, karena kenyataannya mereka tidak dirancang untuk bermain bersama oleh Mourinho. Jika Rashford main duluan (seperti semalam), maka Martial akan masuk menggantikannya di babak kedua; dan sebaliknya.

Kedua pemain ini memiliki kecepatan melalui pergerakan maupun dribel di sisi kiri meski keduanya bisa dibilang bukan winger kiri murni. Tapi itu justru yang menjadi kekuatan United. Mereka seolah jadi memiliki kecepatan yang tidak akan habis sepanjang 90 menit dari sisi kiri.

Bukan kebetulan juga semalam United terus dipaksa mengalirkan bola dari sayap. Apalagi Pochettino juga cerdas dengan mengganti Son dengan Llorente, serta Moussa Sissoko dengan Mousa Dembélé di babak kedua.

Hal ini dilakukan oleh Pochettino karena ia ingin menyediakan pemain yang lebih fisikal di depan (Llorente) sambil memperkuat lini tengahnya (Dembélé), sambil juga lebih memanfaatkan umpan silang (7 dari 16 umpan silang Spurs lakukan setelah mereka berdua masuk).

Gambar 3 – Area permainan United (kiri) dan Spurs (kanan), menunjukkan jika United terus bermain di sayap sementara Spurs bisa menguasai lapangan tengah – Sumber: Squawka

Ini memaksa Mourinho, yang juga memasukkan Jesse Lingard menggantikan Henrikh Mkhitaryan, untuk terus menyerang dari sayap. Hasilnya, mereka berhasil mencetak gol yang dibuat oleh Martial, meski dari skema yang tidak dari sayap, yaitu bola panjang, seperti yang sudah dibahas pada sub pembahasan sebelum ini.

Kesabaran adalah kunci

Menonton pertandingan Manchester United melawan kesebelasan besar seperti Tottenham Hotspur, Liverpool, Chelsea, Arsenal, dan Manchester City, membutuhkan kesabaran yang ekstra.

Sejujurnya Jose Mourinho sangat sabar dalam menerapkan permainan United jika melawan kesebelasan besar. Skema permainannya terlihat pasif yang kadang disinonimkan dengan permainan bertahan yang “tidak seksi”. Tapi menurut saya, sinonim tersebut adalah bagian dari risiko keberadaan Mourinho.

Pada kenyataannya, United tidak selalu bermain bertahan, mereka hanya pasif dan menunggu lawan membuat kesalahan. Begitu juga ketika melawan kesebelasan yang lebih inferior, Mourinho akan menerapkan hal ini di 15 menit akhir pertandingan, biasanya dengan memperkuat lini tengah (menjadi 4-2-3-1 ataupun dengan menduetkan Herrera dengan Matic jika keduanya tidak bermain bersama dari awal).

Sebanyak 13 dari 36 gol yang United berhasil cetak di segala kompetisi sejauh musim ini, terjadi di 15 menit terakhir dengan penerapan skema seperti itu. Mourinho mungkin memang bermaksud memanfaatkan kelengahan lawan menjelang akhir pertandingan, meski itu tidak selalu bisa terjadi.

“Banyak orang berbicara terlalu sering. Santai saja, santai sedikit,” kata Mourinho setelah pertandingan. “Jangan banyak omong, ngomong, ngomong, ngomong, santai. Santai sedikit, jangan gelisah. Jangan terlalu heboh,” seperti yang ia katakan untuk menjelaskan gamit sssttt pada gambar paling atas.

Jadi, yang sabar saja jika menonton pertandingan United melawan kesebelasan besar. Bagaimanapun, Mourinho lebih tahu apa yang ia rencanakan. Mourinho boleh berencana, tapi Tuhan yang menentukan. Bosan atau gak bosan, itu bukan urusannya dia.

Komentar