Respons Pergantian yang Tepat dari Valverde Selamatkan Barcelona

Analisis

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Respons Pergantian yang Tepat dari Valverde Selamatkan Barcelona

Barcelona harus puas meraih hasil imbang 1-1 saat berhadapan melawan tuan rumah Atletico Madrid di Estadio Wanda Metropolitano, Madrid, Minggu (15/10) dini hari WIB.

Hasil yang sebenarnya agak mengecewakan bagi Blaugrana, sebab rekor sempurna mereka dalam tujuh pertandingan di La Liga terhenti.Selain itu, hilangnya dua poin dari laga melawan Atleti membuat kompetitor lain seperti Real Madrid, bisa mengikis jarak poin dari Barcelona yang merupakan pemuncak klasemen sementara.

Namun kalau melihat jalannya pertandingan yang berlangsung sengit, skor imbang 1-1 merupakan hasil yang cukup menguntungkan bagi Barcelona, sebab mereka harus tertinggal lebih dulu melalui Saul Niguez pada menit 21, sebelum akhirnya Luiz Suarez datang sebagai penyelamat yang menghindarkan Barcelona dari kekalahan, setelah sundulannya berhasil merobek gawang jan Oblak pada menit 82.

Pada susunan pemain yang diturunkan, Atleti di bawah asuhan Diego Simeone, seperti biasa memainkan formasi 4-4-2 dengan Antoine Griezmann dan Angel Correa diduetkan sebagai ujung tombak. Menariknya justru melihat skema yang diturunkan Ernesto Valverde.

Kecenderungannya Barcelona menerapkan formasi dasar 4-3-3, namun di laga ini Ernesto Valverde justru menerapkan formasi 4-4-2 dengan Lionel Messi dan Luiz Suarez menjadi tandem di lini depan. Sementara di sektor tengah, mantan pelatih Atelic Bilbao itu menurunkan Andres Iniesta, Sergio Busquet, Ivan Rakitic, dan Andre Gomes untuk menopang duet Messi-Suarez.

Organisasi pertahanan Atleti yang bagus

Kalau melihat data penguasaan bola dan menit gol yang dibukukan Suarez, terlihat bagaimana Barcelona cukup kesulitan terutama hal menciptakan gol dalam laga tersebut. Memang benar, agresivitas Blaugrana berhasil diredam oleh Atleti, terlepas dari satu gol yang bersarang ke gawang mereka, organisasi pertahan Atleti dalam pertandingan tersebut tetap harus diacungi jempol.

Tampak kalau Diego Simeone sudah paham betul dengan karakteristik dan gaya menyerang Barcelona, yang cepat dengan mengandalkan umpan-umpan pendek. Sejatinya, dengan pressing tinggi, Atleti bisa menghancurkan build-up serangan Barcelona dari belakang. Namun itu tidak dilakukan, para pemain Los Rojiblancos jarang sekali melakukan pressing tinggi untuk memberi tekanan di zona pertahanan Barcelona.

Sebaliknya, pressing ketat dan agresif justru dilakukan ketika para pemain Barcelona telah melewati garis tengah lapangan. Para pemain Atleti begitu disiplin dalam melakukan organisasi pertahanan, mereka tampil disiplin bahkan saking disiplinnya dua penyerang mereka pun sampai turun untuk membantu pertahanan. Hal tersebut kemudian membuat Barcelona kesulitan untuk menemukan celah yang bisa dimanfaatkan untuk menciptakan gol atau sekadar peluang.

Grafis total intersep Atleti dan Barcelona, Sumber: Squawka

Selain itu, penuhnya pemain Atleti di zona pertahanan sendiri juga membentuk pola pertahanan berlapis yang agak kurang menguntungkan bagi Lionel Messi atau Luiz Suarez untuk melakukan tusukan ke kotak penalti Atleti. Misalnya ketika Messi mencoba melakukan tusukan, maka otomatis ia akan berhadapan dengan dua sampai tiga pemain Atleti yang siap untuk menghadang lajunya.

Akibatnya, bola yang dikendalikan Barcelona pun banyak berkutat di lapangan tengah. Berbagai upaya dilakukan Barcelona untuk bisa membongkar benteng kokoh pertahanan Atleti, salah satunya dengan memanfaatkan tembakan jarak jauh, namun upaya itu pun sering kali gagal karena selalu bisa dimentahkan oleh para pemain belakang Atleti. Hasilnya, pada babak pertama hanya ada satu tembakan dari Iniesta pada menit keempat yang mengarah ke gawang Oblak.

Grafis total block Atleti dan Barca, sumber: Squawka

Lebih menyulitkan bagi Barcelona adalah inferiornya sisi kanan penyerangan mereka. Gomes tidak terlalu banyak membantu untuk melakukan tusukan atau membuka ruang bagi Messi atau Suarez. Begitu pula dengan Nelsen Semedo, yang terlalu bermain aman hingga tidak berani melakukan over lapping. Hasilnya, minim sekali agresi yang dilakukan dari sektor kanan. Berbanding terbalik dengan yang dilakukan Iniesta dan Jordi Alba yang berada di sektor kiri.

Serangan balik cepat Atleti buat Barcelona panik

Atleti memang tidak terlalu banyak menekan, khususnya di babak pertama. Namun serangan mereka jauh lebih efektif dibanding Barcelona. Padahal, Rakitic dkk bermain dengan menerapkan pressing tinggi saat kehilangan bola. Tapi sayangnya, ketika pemain para pemain Atleti berhasil keluar dari pressing tersebut dan mendekati area pertahanan Barcelona, Pique dan kawan-kawan tampak panik hingga sering terjadi miss koordinasi.

Hal tersbeut jelas sangat menguntungkan, saat laga akan memasuki menit ke-10, Griezmann mampu melepaskan dua tembakan ke arah gawang dalam jarak waktu satu menit saja. Beruntung Ter Stegen tampil apik hingga dua peluang matang tersebut berhasil dimentahkan. Namun 11 menit kemudian, bencana justru datang dari serangan balik cepat yang dilakukan Atletico.

Kejelian Saul Niguez melihat rongga kosong lini pertahanan Barcelona sukses ia manfaatkan untuk mencetak gol pembuka. Berawal dari pergerakannya dari tengah lapangan, melihat ada ruang kosong di sisi kiri.

Saul kemudian mengoper bola ke sisi tersebut yang kemudian diteruskan kepada Griezman. Para pemain belakang Barcelona terpancing dengan pergerakan Griezmann, yang membuat Saul bisa melakukan pergerakan tanpa bola untuk menciptakan ruang bagi dirinya sendiri.

Ketika Griezmann dikepung dua pemain belakang Barcelona, Saul berlari dari lini kedua, dengan cermat Griezmaan mengirim bola kea rah Saul yang langsung melakukan akselerasi dan langsung melepaskan tembakan dari luar kotak penalti yang gagal dihadang Ter Stegen.

Babak pertama angina sangat berpihak kepada Atleti, selain karena solidnya pertahanan mereka, lini serang juga tampil begitu efektif. Mereka memang kalah dalam hal penguasaan bola, tapi dalam urusan menciptakan peluang, saat babak pertama, Atleti jauh lebih efektif. Buktinya, selain gol tersebut ada tiga tembakan yang mereka lepaskan sukses mengarah ke arah gawang.

Pergantian yang sangat menentukan

Bisa dibilang, Barcelona tampil kurang menggigit di babak pertama, meski memang mereka menguasai jalannya pertandingan. Valverde harus memutar otak tentunya untuk membuat situasi berbalik menguntungkan bagi timnya pada babak kedua. Berbagai perubahan kemudian dilakukan di paruh kedua. Salah satunya adalah dengan melakukan rotasi.

Semedo yang tampil kurang berani ditarik keluar dan digantikan oleh Sergi Roberto. Kemudian, Iniesta yang kondisinya agak kurang baik pun digantikan oleh Gerard Deulofeu, masuknya mantan pemain Everton itu membuat terjadinya perubahan posisi. Gomes pada babak kedua bermain di kiri sementara kanan diambil alih Deulofeu.

Grafis sentuhan Barcelona, Sumber: Squawka

Pergantian tersebut berdampak pada semakin liarnya agresi sayap Barcelona. Baik sayap kiri dan kanan memberikan tekanan yang sama besarnya ke jantung pertahanan Atleti. Permainan Barcelona terlihat lebih cair, hingga gelombang serangan pun semakin membabi buta. Terbukti dari bertambahnya jumlah peluang yang berhasil mereka ciptakan. Total ada lima tembakan mengarah ke gawang yang berhasil di lepaskan oleh Barcelona untuk mengancam gawang Oblak.

Meski begitu, gol yang dinanti baru tiba di 10 menit terakhir pertandingan. Terlihat adanya penurunan konsentrasi dari para pemain bertahan Atleti, yang kemudian mampu dimanfaatkan Barcelona untuk menyamakan skor. Berawal dari pergerakan Sergi yang melakukan tusukan dari sisi kanan, satu umpan silang ia berikan kepada Suarez yang tanpa ampun menghujamkan bola ke gawang Oblak dengan kepalanya.

Komentar